Tampilkan postingan dengan label Karya tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya tulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2009

Mudah-mudahan hanya sampai besok

Oleh:Sujono sa’id

Al-hamdulillah, tadi sore saya telah memperoleh kepastian tentang kapan?, dan dimana? Pengumuman paket c di adakan dan akan di lihat. Kepastian ini saya peroleh tadi sore ketika saya menghubungi teman saya pia telephon, ia mengatakan bahwa besok pastimi pengumuman untuk ujian kita. Saat itu, saya merasa sangat gembira.
Mengapa saya sangat gembira?, karena saya berharap mudah-mudahan hanya sampai besok kelulusan saya tertunda, mudah-mudahan hanya sampai besok saya menyimpan seribu Tanya, dan mudah-mudahan besok saya akan memperoleh kebahagiaan saya meskipun sifatnya hanyalah sementara saja, karena masih ada jalan yang panjang. Lagi-lagi saya teringat akan statmen dari kanda Aulia blogger asal aceh.
Apa nakana kanda Aulia? Nakana ketika kita masih berada di masa awal dalam menjalankan suatu amanah atau hal-hal lain yang dipersamakan dengan itu, maka itu masih belum bisa ditentukan apa yang akan terjadi apakah kita akan bahagia?, sedih? Atau bagai mana?, dan bagaimana?. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi orang yang bahagia karena tetapi jadilah orang yang bahagia meskipun yang artinya bahagia karena dapat sesuatu, dan bahagia meskipun ditimpah oleh sesuatu dalam dirinya.
Tapi, intinya saya saat ini lagi-lagi dalam keadaan optimis, karena saya telah memperoleh tanda-tanda ketika saya telah selesai mengikuti ulangan paket c, mudah-mudahan itu benarlah adanya, sebab ketika saya memperoleh tanda-tanda, tanda-tanda itu selalu menjadi sebuah kenyataan, saya tidak tahu apakah inilah kelebihan yang telah tuhan berikan, karena saya setiap melawan apa yang telah menjadi perasaan saya, saya selalu dihantui dengan perasaan tersebut, tetapi ini saya kira tidak mungkin terjadi tanpa pertolongan tuhan, dan campur tangan orang tua, serta bantuan teman.
Inilah janji Allah dalam al-quran, yang juga sangat relevan dengan konsep yang di ajarkan oleh guru saya indonesia’s happiness trainer yang mengatakan bahwa ketika kita memperoleh kenikmatan, maka tanyakan mengapa harus saya? Tetapi ketika memperoleh kesedihan, tanyakan apa yang akan tuhan berikan kepada kita?. Hal tersebut, sangat cocok dengan ajaran agama yang mengatakan bahwa ketika engkau dalam keadaan susah tidak mungkin kamu diberikan cobaan ketika kamu tidak mampu untuk menjalaninya.
Tetapi mudah-mudahan, besok saya lulus dan boleh mengikuti test di universitas, dan mudah-mudahan saya mampu untuk menjalani apa yang telah menjadi mekanisme dalam perkuliahan, karena saya sudah punya pengalaman saat saya masih SMU tiga tahun yang lalu, apalagi sekarang saya sebagai tunanetra telah memiliki kemajuan seperti dapat menggunakan labtob untuk menuliskan tugas-tugas saya di ruang kuliah.
Dan saya juga berharap agar kelulusan ini dapat membuat mama saya menjadi orang yang paling bahagia dan saya juga berharap agar masa depan saya dapat tercapai meskipun saya tidak sesukses siapa tetapi paling tidak saya mampu untuk hidup mandiri kelak, memperoleh kpekerjaan yang layak, dan mampu menikah dengan wanita idaman yang sekarang ini saya belum punya, tetapi saya tetap punya kreteria bahwa wanita idaman yang saya inginkan adalah seorang wanita yang memiliki intelegensi, memiliki kecerdasan emotional, dan memiliki kecerdasan spiritual. Yangmana saya maksudkan kecerdasan intelegensi seperti mampu ber bahasa inggris, latar belakangnya adalah IPA waktu SMU dulu, mampu menjadi motivator ketika saya gundah, dan dekat dengan tuhan, dan mampu untuk membimbing saya menjadi orang dekat pada tuhan.

Senin, 20 Juli 2009

Kesanku tentang facebook

Oleh:Sujono sa’id

Alhamdulillah, hari ini saya masih bisa updet, dan hari ini saya akan kembali untuk menuliskan apa yang telah menjadi kesan saya sebagai tunanetra yang kemudian menjadi seorang facebooker. Pertama-tama saya merasa gembira karena saya juga dapat mengoperasikan facebook paling tidak tidak ketinggalan dari teman-teman saya.
Dulu, pada saat saya baru pertama kali membuka facebook saya, saya hanya mampu untuk menulis komen di facebook, kemudian saya ternyata mampu untuk menulis di dinding. Ketika saya main facebook, saya sudah sangat merasa bahagia ketika saya memberi komentar pada dinding facebook yang berisi tulisan teman saya lalu dibalas.
Hal itu, bagi saya sangatlah menjadi sebuah kesyukuran, tetapi ada hal yang menjadi kendala bagi saya selaku tunanetra yang menjadi seorang facebooker kendala saya adalah ketika saya ingin meng add seseorang, saya harus memanggil seorang yang non tunanetra untuk membacakan kode-kode yang tertera.
Tetapi ketika saya mengkonferm seseorang saya merasa sangat kemudahan karena untuk mengkonfirm tidaklah menjadi hal yang susah-susah amat dalam menjalani dunia facebook. Untuk meng add anggota, saya juga lebih banyak memilih cewek, karena seorang cewek sangat inspiratif dalam menulis di dinding facebook.
Kesan saya tentang tulisan dari teman-teman yang sering menulis di facebook, menurut saya seperti orang yang nggak ada kerjaan, karena mereka nulisnya meskipun ngga’penting-penting amat ditulis juga. Saya sangat tertarik dengan gita gutawa, karena ia juga adalah teman saya lewat facebook, ia hanya menuliskan tentang apa yang akan menjadi kegiatannya seperti ketika tampil di dahsyat, atau lainnya.
Ada juga member saya yang sering menuliskan hadis di dalam dinding facebook saya ketika masuk waktu shalat, sehingga untuk membuat bahan ceramah ketika ada kesempatan, akan saya gunakan untuk ceramah karena untuk mencari bahan ceramah tidaklah susah karena dimana-mana saya sangat gampang untuk menemukannya.
Hambatan lain saya sebagai tunanetra, adalah tidak mampu untuk membaca isi jendela cheting karena tidak ddapat dibaca oleh jaws sebagai soft ware yang secara umum tunanetra gunakan untuk keperluan meng operasikan computer dan salah satunya adalah ketika sedang bermain facebook di dunia maya setiap hari dan setiap waktu.
Tentang member, saya punya member antara lain Gitagutawa, kemudian seorang teman saya Aulia susantri, kemudian saya juga punya member yaitu mba’rasmi ridjang sikati, dan masih banyak member yang lain, intinya jumlah member saya sudah sekitar 32 orang, tetapi setiap beberapa hari saya sering di add oleh beberapa cewek. Saya juga sangat heran dengan kondisi ini karena saya sadar kalau diri saya adalah sosok yang amat jelek, tetapi banyak juga cewek yang meng add saya semoga saja bukan karena kasihan.
Pernah, hal ini saya tuliskan di dinding facebook saya setelah saya tulis ternyata saya dikomentari oleh seorang member yang telah tahu betul kalau saya adalah seorang yang mati kiri dia hanya menjawab ngga’papa kalau muka jelek yang penting di facebook banyak ceweknya itu aja udah lumayan. Mendengar hal tersebut, saya tergelitik.
Inilah cerita yang saya dapat tuliskan melalui keyboard yang saya gunakan dalam menulis, dan saya menuliskan pengalaman ini pada saat dada saya sedang sakit-sakitnya, semoga allah memberikan kesembuhan ketika esok harinya. Saya selalu teringat akan janji allah bahwa ketika memperoleh ketidak senangan akan terganti dengan kesenangan.

Minggu, 19 Juli 2009

Menciptakan sebuah nama

Oleh:Sujono sa’id

Seseorang dapat dipandang dikarenakan oleh beberapa hal seperti potensinya, perilakunya, kerajinannya dalam ber ibadah, jabatan dan lain-lain sebagainya, bahkan sampai meninggal duniapun mereka dilepas dengan berbagai macam bentuk penghormatan. Oleh karena itu, untuk menciptakan nama kita tahu bukan hal mudah.
Sesungguhnya, Allah menciptakan kita sebagai seorang manusia dengan berbagai potensi yang dengan potensi itu kita dapat menciptakan nama seperti ketika kita memiliki suara bagus seperti maikel jaction, punya kemampuan yang bagus dalam memberikan motivasi seperti andrie wongso, dan kaum intelektual lainnya maka kita akan mampu untuk menciptakan sebuah nama yang akan dikenal oleh masyarakat sekitar rumah, kabupaten atau kota, propinsi, nasional bahkan sampai ke tingkat dunia.
Tapi, rata-rata yang saya temukan mereka-mereka yang telah berhasil menciptakan nama yang terkenal apakah dari segi intelektual, atau dengan potensi lainnya, berawal dari sebuah kerja keras ada yang meng habiskan masa sekolahnya dengan melakukan aktivitas sambilan seperti menjajahkan kue di warung, memancing ikan, dan melakukan hal-hal yang sebenarnya orang lain akan mentertawakannya.
Mereka juga mampu untuk menciptakan sebuah nama karena mereka selalu bermimpi tetapi bukan hanya sekedar mimpi tetapi mereka mencoba untuk merealisasikan mimpi-mimpinya ketika mereka-mereka memperoleh kesempatan. Selain sering bermimpi, mereka-mereka juga sangat agresif dalam melihat peluang untuk mereka memasuki ruang-ruang yang telah terbuka bagi mereka untuk menjemput kesuksesan mereka dengan sedikit-demi sedikit, sehingga mereka berhasil.
Kecerdasan yang mereka andalkan dalam menciptakan bukan hanya sekedar kecerdasan intelektual belaka, tetapi kecerdasan yang sering berperan adalah kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional yang saya maksud adalah memperbaiki hubungan interpersonal, serta berfikir dan berespon positif ketika memandang sesuatu serta ketika mereka memperoleh sinyal yang kurang nyaman.
Sedangkan kecerdasan spiritual yang dimaksud adalah selalu menyerahkan hasil usahanya kepada yang telah menciptakannya, sebelum saya lupa, saya ingin menjelaskan sedikit tentang kecerdasan spiritual, spiritual berasal dari kata spirit yang berarti kekuatan, keinginan, atau semangat yang membakar diri kita sehingga menciptakan optimisme, semangat yang membara, serta spirit yang juga dimaksud adalah kedekatan terhadap yang menciptakan kita yaitu zat yang tidak akan pernah diserupakan.
Selain 3 kecerdasan tersebut, nama baik yang mereka usahakan untuk tercipta tidak akan mungkin menggema di se antero dunia ketika Allah belum menghendaki, tetapi ketika Allah menghendakinya maka nama tersebut akan tercipta dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Intinya, untukmenciptakan nama baik dan terkenal tidaklah mudah, karena semua itu butuh perjuangan serta hal-hal yang menjadi pendukung.
Inilah yang dapat saya tuliskan berdasarkan apa yang telah saya ketahui, saya sadar bahwa saya tidaklah sehebat penulis artikel lainnya, tidak sehebat teman-temanku yang lain, tetapi dengan tulisan ini saya akan mampu untuk menciptakan nama, dan saya selalu menanamkan sikap optimisme dalam diri saya sehingga dalam kehidupan saya selalu diliputi dengan kebahagiaan, meskipun saya juga sering merasa betmut.

Sabtu, 11 Juli 2009

Interaksi sosial kaitannya dengan Islam

Oleh: Sujono sa’id

Sadarkah kita bahwa kita hidup di dunia ini sebagai seorang makhluk social, dimana kita selalu membutuhkan bantuan dari sesama manusia. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk social secara penuh, maka tentulah kita merasa bahwa interaksi adalah hal yang sangat penting bagi kita, sebab tanpa interaksi, maka kita akan memperoleh kesusahan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini.
Dengan adanya interaksi, maka kita dapat memenuhi kebutuhan kita, misalnya ketika kita tidak mempunyai uang, maka kita mengunjungi bank, dan ketika sampai di bank, maka yang di temui adalah petugas bank tempat kita mengambil uang kita.
Atau saya akan memberikan contoh lain jika dalam suatu pasar, terdapat dua komponen yaitu penjual dan pembeli, sang penjual menawarkan barangnya dan sipembeli membeli barang tersebut, maka terjadilah sebuah kegiatan yang dikenal dengan interaksi.
Dari uraian di atas, maka saya akan menyampaikan firman Allah dalam surah al-zalzalah yang berbunyi jika kamu berbuat kebajikan, maka sebesar zarrapun akan diperhitungkan, tetapi ketika berbuat jelek, maka sebesar zarrah juga akan di hitung.
Dalam salah satu hadis nabi juga dikatakan bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan di bawah berarti tangan yang memberi lebih baik dari pada tangan yang selalu meminta. Begitulah islam mengajarkan kepada kita dalam hal interaksi social.
Rasulullah, dalam sebuah hadisnya mengemukakan hak-hak dan kewajiban seorang muslim yaitu apabila mereka mengundang, maka hadirilah undangan mereka, apabila mereka sakit, maka jenguklah mereka, apa bila mereka meninggal antarkanlah jenazahnya sampai ke tempat peristirahatan yang terakhir. Dari poin-poin diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa seperti inilah gambaran akan sebuah interaksi.
Secara realita, kita selaku manusia diciptakan di bumi ini dalam keadaan yang beraneka ragam dari segi pandangan, tingkat intelegensi, stratifikasi, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Dari kondisi ini, maka kita harus menyikapi secara bijak dan arif akan perbedaan dintara kita sebab melalui perbedaan, maka akan terjadi sebuah interaksi.
Hal ini saya katakan sebab, dengan interaksi kebetuhan kita akan dapat terpenuhi, sebab bukan kah kita tahu kalau kita ini adalah makhluk social yang selalu berada dalam ketergantungan. Dengan perbedaan stratifikasi misalnya ada sekelompok orang yang kaya dan ada lagi sekelompok orang yang miskin, maka tentu kelompok orang-orang miskin inilah yang akan menjadi lading amal mereka, sehingga ketika kelompok orang-orang kaya ini memberikan sebahagian hartanya kepada kelompok orang-orang miskin, dan kelompok yang menerima mendoakan si pemberi, maka lagi-lagi sudah merupakan gambaran akan interaksi social antara mereka dalam kehidupan ber islam.
Tidakkah terfikir oleh kita, bahwa zakat baik fitrah maupun zakat mal, kurban, infak, sadaqah, serta waqaf. juga sudah merupakan media interaksi social bagi kaum muslimin, sebab ketika kita memberikan zakat, infak, kurban, waqaf, dan sadaqah. dan ternyata kebutuhan mereka terpenuhi, hati kitapun senang dan bersyukur, maka terjadilah hubungan timbale balik. Interaksi sesama muslim, akan lebih berbobot ketika dalam interaksi dilakukan secara ikhlas dan tujuan atau future oriented kita hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain-lain maka itulah bobot sebuah kegiatan interaksi.
Interaksi sosial kaitannya dengan Islam

IRM dan IPM dari segi terminologi

Oleh:Sujono sa’id

Pertama, saya mengucapkan syukur kepada Allah karena hari ini, saya sempat untuk menulis kembali tentang sebuah ide. Sebenarnya tentang hal yang satu ini, bukanlah suatu masalah tetapi saya tidak tahu mengapa saya tergila-gila mempermasalahkannya. Saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini berawal dari pertemuan saya dengan kanda Yusri salah seorang Senior PC IRM Tallo.
Kita tahu, bahwa IRM pasca mukhtamar di Boyolali telah menghasilkan berbagai keputusan salah satunya adalah perubahan status dari IRM ke IPM, tentu kalau kita menginterpretasi secara terminology istilah dari nama kedua singkatan dari organisasi ini, tentu tujuan, fisi, serta ke anggotaannya harus berubah, mari kita melihat, dan membandingkan kedua singkatan organisasi ini kita mulai dari IPM yaitu ikatan pelajar Muhammadiah.
Ikatan pelajar Muhammadiah jika di artikan maka organisasi ini hanya untuk para pelajar dari kalangan muhammadiah saja seperti siswa siswi dari sekolah Muhammadiah, mahasiswi dan maha siswa yang sedang berkuliah di universitas Muhammadiah, atau seorang pelajar yang kedua orang tuanya adalah warga muhammadiah.
Tetapi, ternyata selama IRM masih bernama IPM pada masa mudah ayah dan ibu kita dahulu dan masa pergerakan para tokoh muhammadiah yang sekarang ini telah memetik buah atas jeripayah mereka seperti kanda Hamsani kudus, Bapak Saiful Saleh, dan tokoh-tokoh muhammadiah terdahulu, tidaklah seperti teori yang saya jelaskan di atas, bahkan orang tua mereka kebanyakan dari kalangan biasa nggak ada yang special, meskipun secara de fakto mereka-mereka adalah pelajar di sekolah Muhammadiah.
Bahkan, ada juga barang satu atau dua orang yang bersekolah di sekolah non muhammadiah pada masa itu tetapi saat itu masih sangat sedikit. Tetapi setelah IPM mengalami masa transisi pada tahun 90, mereka sudah gencar melakukan rekruitmen kader di sekolah-sekolah non muhammadiah khususnya di sekolah-sekolah negeri.
Selama IPM menjadi IRM pada tahun 1990-an, sampai tahun 2007 saya memandang bahwa kedudukan organisasi ini mirip dengan kedudukan organisasi intra sekolah atau osis, karena dari kebijakan sekolah muhammadiah dikatakan bahwa selama siswa dan siswi sekolah Muhammadiah tidak mengikuti pengkaderan paling tidak PK TM-1 atau Pelatihan kader taruna melati 1 yang dilanjutkan dengan follow up dan tidak memperoleh sertifikat atau tanda bukti kalau mereka telah mengikuti pengkaderan mereka tidak akan memperoleh ijazah mereka setelah tammat kelak. Saya sempat menyimpulkan bahwa IRM dikembalikan menjadi IPM, karena para penggagas status ini ingin menyamakan kedudukan mereka dengan organisasi intra sekolah meskipun kalau saya fikir-fikir, osis skalanya kecil sedangkan organisasi yang satu ini skalanya besar.
Saya tiba-tiba menyimpulkan demikian, sebab sayapun meliliki dasar yang menurut saya agaklah kuat yaitu ketika saya mengikuti konferensi pimpinan cabang IRM kota makassar dikeluarkan sebuah rekomendasi yang salah satu item nya adalah menjadikan IRM sebagai organisasi pelajar dikalangan siswa sekolah muhammadiah.
Namun, dari segi fisi dan misi, sejak IPM masih bernama IPM pada tahun 60-an sampai mengalami perubahan ke masa IRM dan akhirnya kembali menjadi IPM tidaklah berubah yaitu menjadikan remaja muslim yang ber ilmu dan ber akhlak mulia dan di ridhoi Allah. Wajarlah kalau IRM atau IPM memiliki fisi yang demikian, sebab saya ingat betul ketika saya masih memiliki kiprah di organisasi tersebut, banyak orang-orang cerdas yang dibentuknya, banyak peribadi-peribadi yang menurut saya adalah manusia-manusia yang berakhlak mulia karena dibentuk oleh misi nya yaitu pengkaderan.
Ketika saya masi aktif di kepengurusan IRM sekitar 4 tahun yang lalu, saya selalu melihat anak-anak IRM di lokasi-lokasi training melakukan aktifitas membaca buku kalau lagi sedang istirahat karena tidak ada administrasi atau konsumsi yang lagi di kerjakan atau nggak ada tugas untuk bawa materi, sejak saya masih aktif di IRM, saya juga sering banyak menemukan warga IRM yang memiliki kemampuan menulis artikel, puisi, atau cerita, bahkan sampai naskah teater sekalipun mampu mereka buat.
Anak-anak IRM yang memiliki kebiasaan seperti ini hanya dimiliki oleh mereka yang tingkatan pengkaderannya lebih tinggi yaitu mulai dari lepasan Taruna melati dua, sampai dengan lepasan pelatihan fasilitator dan pendampingan satu(PFP-1), itulah sehingga ketika saya mengunjungi lokasi training dan masuk ke ruangan fasilitator saya sering menjumpai banyak buku yang bertebaran di meja-meja fasilitator.
Dari hasil temuan saya, saya dapat menyimpulkan bahwa fisi bukanlah sekedar fisi, tetapi sudah terwujud dan memiliki hasil, dari situlah saya menyimpulkan pula bahwa mungkin inilah makna akan sebuah moto IRM yang di ambil dari ayat pertama surah al-qalam yang berbunyi “ nun demi pena dan segala apa yang dituliskannya”, sebab banyak diantara mereka yang berhasil menjadi penulis, menjadi kaum intelek, dan kaum terpandang di mata masyarakat, karena kerajinan membaca dan dari apa yang mereka baca dan mereka simpulkan dari buku-buku bacaan mereka dituangkannya dalam tulisan.
Meskipun saya sudah tidak aktif lagi di IRM yang kini telah kembali ke fitrahnya namun saya tetap menaru hati pada organisasi tersebut, karena di situlah saya terbentuk, disitulah saya belajar, dan disitulah saya mengerti akan arti kehidupan yang keras bak kerikil-kerikil yang begitu tajam, dan melalui IRM yang kini telah menjadi IPM membentuk saya menjadi pemikir-pemikir yang buah pikirannya ditumpahkan melalui tulisan-tulisan sesuai dengan kemampuan, meskipun masih melewati sebuah proses.
Tentang terminology-terminologi tadi saya fikir, itu hanya kekonyolan saya saja bukan karena apa-apa tetapi mungkin tidak tahu kapan waktunya semua akan saya ketahui titik terangnya karena semua itu akan melewati sebuah masa.

Jumat, 10 Juli 2009

PENGALAMAN SEBAGAI TEMPAT BELAJAR WASPADA

Oleh:Sujono sa’id

Saya menuliskan hal ini setelah saya baru saja mengikuti dialog interaktif dari Smart FM dalam acara smart karakter dengan pembicara Yakop esra, dalam pembicaraan beliau, beliau sempat mengupas 5 alatukur untuk waspada yaitu indera, intuisi, hati nurani, nasihat orang lain, dan terakhir adalah apa yang akan saya kupas dalam tulisan ini yaitu pengalaman. Melalui tulisan ini, maka saya akan shering pengalaman bagi yang sempat membacanya, dan menjadi catatan bagi diri saya sendiri ketika saya membutuhkannya suatu waktu untuk saya ingat-ingat jikala saya khilaf.

Pengalaman yang akan saya bagikan adalah pengalaman saya ketika saya masih kelas 1 SMU, saat itu adalah hari dimana saya belajar Fisika, dan hari itu saya sedang ada tugas pekerjaan rumah dari guru Fisika saya, tetapi saya lupa membawa buku fisika saya dari rumah dan hal itu saya baru ingat ketika saya sudah ada di perjalanan dari rumah ke sekolah dan saya takut kalau beliau nanti akan memarahi saya, ternyata beliau tidak marah hanya menegur saja. Akhirnya, singkat cerita tugaspun di kumpul dan terjadilah percakapan singkat antara saya dan guru Fisika saya beliau mengatakan “ jadi nilai kamu untuk hari ini tidak ada”, dan akhirnya sejak saat itu saya berjanji pada diri saya kalau saya tidak akan lalai lagi kalau ada tugas yang saya peroleh dari guru.

Dari ilustrasi pengalaman pribadi saya di atas, maka saya akan meng ilustrasikan pengalaman bangsa Indonesia ketika mengalami penjajahan, olehnya itulah sehingga setiap tahun kita selalu memperingati beberapa hari-hari besar di Negara kita seperti hari kebangkitan nasional, hari pendidikan nasional, dan hari kemerdekaan Indonesia.

Hari-hari tersebut kita peringati dengan tujuan untuk mempelajari apa yang menjadi pengalaman pahit bangsa Indonesia di masa lampau sehingga kita memiliki harapan untuk lebih baik atau dalam bahasa inggris dikenal dengan Tomorrow will be better seperti seminar yang pernah penulis ikuti beberapa waktu yang lalu.

Selain belajar dari pengalaman masalalu bangsa Indonesia lewat hari besar, maka kita juga mempelajari pengalaman bangsa Indonesia di masa lalu lewat bukusejarah, museum, dan cerita dari para pejuang yang sekarang ini sudah lanjut usia dan masih bersama-sama dengan kita masyarakat yang termasuk generasi mudah.

Olehnya, belajar dari pengalaman adalah merupakan salah satu dari sekian media pembelajaran yang baik dalam life long education atau dikenal dengan nama pendidikan sepanjang hayat dan sangat cocok dengan sebuah pepata orang bijak yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang sangat baik, dan orang banyak yang sukses bukan hanya karena sekolah yang tinggi, menjadi orang kaya, dan lain-lain tetapi mereka sukses karena mereka memiliki begitu banyak pengalaman berharga.

Ingat, bahwa hari kemarin adalah masa lalu yang dapat di jadikan sebagai pelajaran, hari ini adalah ajang untuk melakukan perubahan, dan hari esok adalah penentu dari sebuah perubahan maka saya kembali teringat dengan istilah dari guru Geografi saya beliau berkata “ petik hasilnya!”, semoga tulisan ini dapat menjadi resep bagi diri saya secara pribadi dan yang sempat membacanya di manapun dan kapanpun dan semoga pengalaman yang kita alami baik yang pahit, maupun yang manis akan menjadikan kita untuk menjadi orang yang lebih baik kalau kita mendapatkan pengalaman yang baik maka pertahankanlah! Jika anda mendapatkan pengalaman pahit maka anda harus berubah untuk menjadi lebih baik di hari esok atau tomorrow will be beter.

MENJADI MANUSIA BAHAGIA

Oleh: Sujono sa’id

Setiap orang tentu ingin menjadi orang yang selalu bahagia baik di dunia maupun di akhirat, olehnya itu untuk memperoleh sebuah kebahagiaan ditempu oleh kita dengan berbagai metode dan metode tersebut berawal dari berbagai perbedaan persepsi tentang kebahagiaan itu sendiri sehingga mereka mencari kebahagiaan dengan berbagai konsep.

Ada yang menggunakan konsep agama, ada juga yang menggunakan konsep materialistis, dan ada juga yang menggunakan konsep-konsep untuk memperoleh kebahagiaan dengan konsep yang lain karena beda konsep tentu beda definisi dan persepsi sehingga hasilnyapun sangat fariatif dan akan berdampak pada hidup mereka.

Bagi mereka-mereka yang berpendapat bahwa kebahagiaan dipandang dari segi materi, berarti mereka menggunakan konsep materialistis, tetapi jika ditinjau dengan menggunakan konsep relygi, apa yang mereka dapatkan belumtentu membahagiakan mereka, tetapi ketika mereka menggunakan konsep relygi, maka mereka akan berpendapat bahwa kebahagiaan bukan di ukur dari segi materi, atau hal yang bersifat kesenangan yang sifatnya sesaat, tetapi kebahagiaan di ukur dari kesenangan yang berkelanjutan bukan kesenangan yang sementara sebab kebahagiaan adalah kesenangan, namun kesenangan belumtentu menjadi kebahagiaan bagi kita.

Oleh karena itu ketika kita ingin memperoleh kebahagiaan dengan menggunakan konsep agama, maka kita harus melakukan hal-hal yang telah di atur dalam sebuah regulasi bagi kita ummat islam yaitu kur-an dan hadis nabi, serta apa yang menjadi tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dijadikan sebagai proses pem belajaran.

Ketika kita ingin menjadi orang yang paling bahagia, maka kita harus selalu melaksanakan kewajiban kita yang harus dilakukan sebanyak 5 kali sehari ditambah lagi dengan ibadah sunnah, seperti shalat duha, dan shalat tahajjut di seper tiga malam.

Selain itu banyak-banyaklah kita untuk selalu bersyukur dan berterima kasih, dalam tulisan ini saya ingin kembali mengulas bahwa janganlah kita bersyukur karena tetapi bersyukurlah meskipun singkatnya bersyukurlah dalam kondisi apapun. Selain bersyukur, janganlah kita terlalu berburuk sangka kepada orang lain karena dengan berburuk sangka kita akan selalu tersiksa dan kita tidak akan memperoleh kebahagiaan.

Selanjutnya, adalah jalinan silaturrahim antara sesama manusia, sebab kita tahu bahwa kita selaku manusia adalah makhluk social, dan juga sebagai makhluk tuhan. Bukankah dalam ajaran islam kita telah diajarkan untuk membangun interaksi social dengan cara melakukan silaturrahim dengan kiat-kiat yang telah di atur oleh sebuah hadis yang menerangkan tentang hak-hak dan kewajiban sesama muslim dalam bab- adab.

Hadis tersebut berisi hak muslim antara lain ketika ada yang lagi sakit, maka jenguklah, ketika ada yang meninggal, antarkan jenazahnya, ketika ada yang mengundang maka hadirilah hadis ini dapat kita lihat pada kitab bulughul maram khususnya yang membahas tentang adab. Dari hadis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketika kita memperoleh teman yang banyak, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia apalagi ketika kita memiliki ikatan persaudaraan se islam.

Untuk menjadi orang yang paling bahagia, kita juga harus selalu ikhlas dalam melakukan sesuatu apalagi hal yang menyangkut masalah ibadah tetapi saya kira dalam masalah apapun, ketika orientasi kita adalah keikhlasan tidak masalah, tetapi ketika kita melakukan sesuatu dengan tendensi lain maka kita hanya akan mendapatkan keinginan kita saja tidak mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Saya akan memberikan ilustrasi tentang orang yang melakukan sesuatu dengan modal ikhlas yaitu sebagai berikut seorang siswa di sebuah sekolah masuk sebuah organisasi social, ia tidak pernah mengharapkan insentif dari organisasi tempat ia berkiprah, yang ia andalkan adalah kwalitas kerja yang ia lakukan dan niat yang ia miliki adalah karena ikhlas lillahi taala bukan karena ia takut pada pimpinan atau anggaran dasar organisasi yang merupakan tempat dirinya berkiprah.

Ternyata setelah sekian lama bekerja, ia ditunjuk untuk mewakili ketua organisasi tersebut untuk melaksanakan tugas yang dilimpahkan kepadanya untuk melakukan sebuah program kerjasama dengan sebuah organisasi social pula, singkat cerita, karena kwalitas kerja dan prestasi yang diperlihatkannya sangat dikagumi oleh teman-temannya di organisasi lain, maka kian lama kariernya makin meningkat dan akhirnya ia bekerja di sebuah perusahaan dan akhirnya dia memperoleh gaji yang tinggi dan memperoleh hasil dari jeripayah yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.

Sebaliknya ada pula ilustrasi yang saya ingin berikan yaitu seorang aktivis yang bekerja di sebuah organisasi social yang kebanyakan pengurusnya adalah remaja, orang tersebut masuk dalam organisasi itu karena ia hanya ingin memperoleh pacar sebanyak-banyaknya. Ternyata sesampainya di dalam ia tidak mempunyai kinerja yang baik.

Akibat dari buruknya kinerja orang ini, sehingga kariernya tidak mengalami perubahan, ia tidak pernah di perhitungkan, dan lain-lain bahkan ia hanya bertopeng di balik jiwa social yang ternyata hanya merugikan dirinya sendiri.

Intinya, ketika kita hanya melakukan sesuatu tidak dengan keikhlasan, maka kita akan menjadi manusia yang paling terpuruk dan kita tidak akan memperoleh penghidupan yang layak. Oleh karena itu, ketika kita ingin hidup bahagia, maka hiduplah sesuai dengan aturan agama, bukan dengan aturan yang lain, karena dengan aturan agama saya kira dalam ajaran agama apapun tentu tidak ada yang tidak mengajarkan konsep kebahagiaan. Selain ikhlas, hindarilah penyakit hati.

Penyakit hati antara lain tidak ingin melihat orang senang, selalu serakah, selalu memfitnah, tidak menanamkan kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain, dan seperti apa yang telah saya sebutkan di atas adalah tidak ber buruk sangka kepada orang lain.

Saya kembali ke masalah shalat, shalat dapat mencega kita dari perbuatan keji dan mungkar, secara umum sedangkan shalat sunnnah yang saya sebutkan tadi masing-masing memiliki fadilah seperti shalat duha, ketika dilakukan maka rezeki kita akan melimpah, dan urusan kita akan di mudahkan oleh Allah.

Sedangkan shalat tahajjut, adalah shalat yang dilakukan di tengah malam yang sunyi dan fadilahnya adalah akan di ijabah oleh Allah sesuai dengan hadis yang berbunyi bahwa ketika seper tiga malam Allah turun bersama para malaikatnya untuk mendengarkan doa hambanya, dan Allah malu ketika ia tidak mendengarkan doa hambanya dan juga sesuai dengan sebuah pernyataan yang berbunyi mintalah niscaya akan aku kabulkan permintaan kalian. Saya kira inilah hal yang dapat saya ungkapkan dalam tulisan tentang bagaimana menjadi orang yang paling bahagia, saya yakin bahwa apa yang saya tulis ini sumber referensinya adalah dari al-quran, dan hadis.

MENATA PERILAKU TERHADAP PENYANDANG CACATT

Oleh: Sujono Sa'id

Kita tahu bahwa penyandang cacat juga adalah makhluk Allah yang tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya, yang membedakan hanyalah kondisi fisiknya namun mereka tetap harus memperoleh perlakuan yang baik dari berbagai kalangan mulai dari keluarga mereka, masyarakat, sampai dengan penentu kebijakan.

Saya(penulis) tertarik untuk membuat tulisan ini, karena saya telah memiliki pengalaman sejak kecil tentang bagai mana perilaku masyarakat, dan keluarga serta penentu kebijakan dalam menata perilaku mereka terhadap para penyandang cacat entah itu adalah tunanetra, tunarungu, tuna grahita, tuna daksa, dan autis. Perilaku dari komponen-komponen yang telah saya sebutkan diatas dipengaruhi oleh beberapa factor.

Faktor yang memicu terjadinya perlakuan positif dan negative bagi penyandang cacat adalah Budaya, intelegensi, pola fakir, ketidak pahaman akan karakter, dan ketidak tahuan tentang bagaimana seharusnya menata perilaku terhadap kaum penyandang cacat.

Dimulai dari budaya, budaya utamanya budaya tradisional dan masih jauh dari konsep religi dan cara berfikir yang digunakan oleh masyarakat adalah cara fakir yang irrasional atau mistik seperti banyaknya masyarakat yang mempercayai mitos, menyebabkan masyarakat memperlakukan penyandang cacat secara tidak wajar seperti dijauhi karena mereka menganggap bahwa penyandang cacat atau dalam istilah modern dikenal dengan penyandang ketunaan akan menghalangi rezeki mereka.

Faktor intelegensi, juga merupakan salah satu factor yang mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap para penyandang cacat apakah perilaku positif maupun perilaku negative tergantung tingkatan intelegensinya. Ketika tingkatan intelegensi masyarakat tinggi atau dikenal dengan istilah hight intelegens akan mempengaruhi factor perilaku positif terhadap kaum penyandang cacat, tetapi kalau masyarakat memiliki intelegensi yang rendah, maka tentu akan memperlakukan penyandang cacat dengan perlakuan yang tidak semestinya diberikan. Faktor intelegensi akan saya deskripsikan berikut ini.

Ketika seseorang memiliki wawasan tentang dunia social, memiliki wawasan keagamaan, mampu untuk berfikir maju, memiliki wawasan yang luas khususnya tentang kemasyarakatan, serta sudah mengetahui bagaimana berperilaku yang baik terhadap penyandang cacat tentu akan memberikan perilaku positif kepada penyandang cacat seperti mengajak mereka untuk melakukan interaksi dengan keluarganya, serta menjadikan penyandang cacat sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dengan mereka, dan tidak ofer protektif terhadap penyandang cacat karena dengan alas an tidak tega, karena mereka tahu bahwa penyandang cacat juga mau berkembang.

Jika seseorang memiliki intelegensi yang sangat minim seperti kekurangan wawasan keagamaan, wawasan tentang dunia social, dan wawasan lain, tentu orang-orang seperti mereka inilah yang tidak menghargai perbedaan diantara mereka maka secara otomatis mereka juga akan memberikan perilaku yang negative terhadap kaum penyandang cacat contohnya bagi kaum penyandang cacat secara umum mereka tidak akan biarkan untuk keluar rumah, kemudian mereka tidak tahu kalau saja mereka adalah penyedia lapangan kerja mereka berfikir bahwa penyandang cacat tidak akan mampu untuk terjun di dunia kerja disebabkan karena mereka berpendapat tidak mungkin.

Mengapa mereka katakan tidak mungkin?, karena mereka tidak tahu kalau penyandang cacat juga mampu bekerja sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing contohnya bagi tunarungu keterampilan yang mereka mampu lakukan adalah skil dalam hal menjahit maka tentu saja mereka akan bekerja di tukang jahit. Mereka juga mampu untuk menjadi pegawai salon, dan menjadi bisnisment dan pengusaha.

Kaum Tuna daksa juga dapat menjadi Montir, pegawai negeri, transleter, dan lain-lain sebagainya. Sedangkan tunanetra juga dapat menjadi operator telephon, dan juru ketik, serta terjun di dunia jurnalistik dan administrasi perkantoran.

Pola fakir, sangat erat korelasinya dengan intelegensi, dan budaya tetapi untuk pola fakir ini sangat dominant memiliki korelasi yang erat dengan tinggi rendahnya intelegensi yang dimiliki oleh seseorang, serta juga di dasari oleh kemauan mereka untuk memberikan perlakuan yang layak terhadap kaum penyandang cacat.

Dari pola fakir inipula, seseorang atau sekelompok masyarakat atau keluarga akan memiliki pemahaman akan karakteristik dari kaum penyandang cacat, dan dari sanalah mereka akan mengetahui bagai mana cara mereka memperlakukan kaum penyandang cacat. Bagi masyarakat yang memiliki hight intelegens, tentu akan membuat prinsip bahwa penyandang cacat tidak butuh di kasihani tetapi butuh di perhatikan.

Tetapi bagi mereka-mereka yang memiliki intelegensi yang rendah, tentu akan membuat sebuah prinsip bahwa penyandang cacat adalah orang yang tidak berdaya, butuh uluran tangan, dan harus diberikan perlakuan yang khusus atau exklusif. Saya(penulis) sadar, bahwa tingginya intelegensi masyarakat, bukanlah jaminan bahwa mereka akan memberikan perilaku yang positif terhadap penyandang cacat, banyak sekali masyarakat yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi tidak memberikan perilaku yang baik terhadap penyandang cacat, karena mungkin mereka memiliki intelegensi yang tinggi hanya tentang ilmu duniawi tidak didukung dengan ilmu ukhrawi sebagai tambahan wawasan mereka, sebab dengan adanya ilmu ukhrawi sebagai tambahan wawasan mereka, maka mereka akan lebih menghargai perbedaan diantara mereka.

Sebagai penyandang cacat, saya(penulis) dan teman-teman saya(penulis) tidak berpangku tangan ketika kami melihat hal-hal yang seperti ini, tetapi kami selaku penyandang cacat juga melakukan banyak usaha salah satunya adalah berusaha untuk menjadi manusia yang produktif serta melakukan berbagai inofasi-inofasi yang dapat kami lakukan, dan di Sulawesi Selatan sekarang kasus-kasus seperti ini telah terkikis.

Semua ini dikarenakan oleh pertolongan Allah melalui salah seorang inofator penyandang cacat dari Sulawesi Selatan yaitu Doktor Syaharuddin Daming SH.MH sebagai inofator, ditambah lagi dengan kegigihan teman-teman penyandang cacat, dan dari usaha tersebut, maka lahirlah UU no 4 tahun 1997 tentang perlindungan, hak dan perlakuan masyarakat terhadap kaum penyandang cacat sebagai rambu kolektif.

Perilaku seperti yang telah saya uraikan diatas, juga sudah mulai berangsur hilang di Sulawesi selatan seiring dengan waktu dan arah yang di sertai pula dengan era globalisasi serta kegigihan teman-teman penyandang cacat sendiri untuk memperjuangkan diri dalam rangka memperoleh perlakuan yang layak.

Sekarang ini, yang menjadi masalah bagi penyandang cacat Indonesia adalah lingkungan yang belum memiliki fasilitas umum yang aksesible bagi penyandang cacat, padahal kita selaku penyandang cacat ingin melakukan aktifitas kita secara mandiri untuk melakukan kewajiban kita sebagai warga Negara dengan cara-cara kami sendiri. Masih adapula masyarakat di pedesaan yang memberikan perlakuan oferprotektif kepada keluarga mereka yang harus kehilangan anggota tubuh yang sangat di cintainya.


Tapi, sekarang ini kami tetap melakukan sebuah pergerakan untuk menuju kea rah perubahan yang lebih baik. Pada tulisan ini, saya(penulis) akan mengulas tentang menata perilaku terhadap penyandangcacat secara spesifik dari berbagai aspek seperti mobilitas, pendidikan dan rehabilitasi mental mereka. Masalah aksesibilitas fisik, alhamdulillah sudah terdapat di beberapa tempat, tetapi kami akan terus mengkampanyekan tentang perlunya pemerintah untuk memberikan aksesibilitas tambahan di berbagai tempat.

Kami juga tetap meminta agar masyarakat mau melakukan interaksi dengan kaum penyandangcacat yang bermukim di sekitar rumahnya, serta masyarakat harus mengarahkan mereka ke sekolah-sekolah luar biasa untuk penguatan besik mereka karena jika besik mereka sudah kuat, maka mereka akan di integrasikan di sekolah umum.

Perlakuan terhadap pelajar penyandangcacat yang ber integrasi di sekolah umum, berbicara tentang penyandangcacat yang ber integrasi di sekolah umum dan universitas, tentu kita akan membahas dari mana mereka harus memperoleh perlakuan yang layak, tentu untuk pelajar dan maha siswa serta maha siswi penyandang cacat yang akan di bahas adalah bagai mana guru, penentu kebijakan, serta sesama siswa/maha siswa memberikan perlakuan terhadap kaum penyandang cacat di sekolah atau kampus mereka.

Sebagai siswa, atau maha siswa, perlakuan yang harus di berikan kepada pelajar/maha siswa penyandang cacat adalah menjadi media bagi siswa/maha siswa penyandang cacat untuk proses kelancaran studi mereka di tempat dimana mereka belajar. Begitupun guru/ dosen beserta penentu kebijakan sekolah/ kampus sebagai wujud perlakuan yang mereka berikan adalah melakukan modivikasi terhadap kurikulum di sekolah/ kampus mereka sehingga dapat di ikuti oleh kaum penyandangcacat sesuai dengan kreatifitas guru/dosen di sekolah/di kampus tersebut.

Modivikasi tersebut adalah memberikan pelayanan terhadap penyandangcacat yang tidak berbeda dengan siswa/maha siswa yang lain semisal di sebuah sekolah/kampus jika seorang guru/dosen tidak usa memberikan tugas kepada kaum penyandang cacat di kelas/ruang kuliah, system ini berlaku untuk kaum tunanetra, tetapi bagi tunarungu dan tuna daksa modivikasi system tidak usa di perlakukan, namun guru/dosen harus juga memberikan perlakuan khusus kepada siswa/mahasiswa tunarungu yaitu bagaimana guru/dosen agar instruksinya dapat di ikuti oleh siswa dari kalangan tunarungu seperti menampakkan gerakan-gerakan bibir atau dalam bentuk tulisan.

Sedangkan untuk tuna daksa, Kepsek/rector harus memberikan perlakuan bentuk perlakuan mereka adalah membuat sekolah atau kampus menjadi tempat yang akses untuk mereka dalam melakukan mobilitas khususnya bagi pengguna kursi roda.

Untuk pendidikan di sekolah umum baik negeri maupun swasta, saya akan lebih banyak berbicara tentang perlakuan terhadap siswa/maha siswa di sekolah/kampus mereka karena yang akan di bicarakan adalah mereka yang terhambat secara fisual/tunanetra bukan yang terhambat dari segi mobilitas/tunadaksa.

Yang dimaksud siswa/maha siswa sebagai mediator adalah membantu kaum tunanetra dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka atau membantu kaum tunanetra dalam mengikuti matapelajaran di kelas/ruang kuliah dengan cara membantu membacakan kepada kaum tunanetra apa yang ada di witeboard yang kemudian mereka alihkan ke dalam bentuk Braille atau mereka membantu mengisikan lembar kerja siswa kaum tunanetra di sekolah mereka mereka cukup di bacakan dan akan di jawab oleh mereka dan jawaban dari kaum tunanetra itulah yang di alihkan ke lembar kerja.

Sedangkan perlakuan yang harus diberikan oleh seorang guru terhadap siswanya adalah perlakuan yang sedikit berbeda tetapi tidak menonjolkan perbedaan tersebut, atau seorang guru/dosen harus membuat system pengajaran yang dapat dijangkau oleh pelajar/mahasiswa secara umum dan mahasiswa/pelajar tunanetra yang bersangkutan.

Sedangkan bagi guru eksak seperti Matematika, Fisika, dan Kimia begitu juga dengan guru Ekonomi, dan Akuntansi tidak usa memberikan tugas dalam bentuk perhitungan tetapi cukup dalam bentuk teori saja sebab ketika mengikuti semua itu, kaum tunanetra akan memperoleh hambatan, bukan berarti kami selaku penyandang cacat tidak mampu belajar matematika tetapi kami hanya tidak mampu untuk mengikutinya.

Begitupun dengan masalah jurusan, jika siswa Tunanetra tidak dapat memilih jurusan IPA, karena mereka seperti yang telah saya bahasakan tadi akan berhadapan dengan masalah besar sangat berbeda dengan pada tahun sembilan puluhan, IPA masih terpisah bahkan masih terbagi tiga IPA-1 adalah jurusan yang hanya mempelajari Fisika, sedangkan IPA-2 adalah jurusan yang mempelajari Biologi, dan IPA-3 adalah kimia.

Ketika saat itu, menurut data yang saya temukan, seorang tunanetra masuk jurusan IPA tetapi hanya mempelajari Biologi saja karena Biologi lebih banyak memiliki materi dalam bentuk Teori bukan dalam bentuk perhitungan sehingga tidak menghambat bagi kaum tunanetra saat itu, wal hasil tunanetra tersebut al-hamdulillah sekarang sudah berhasil dan kini telah kembali ke haribaan ilahi, tetapi sekarang tidak lagi seperti itu.

Tetapi kaum tunanetra dapat memilih jurusan seperti IPS dan bahasa, karena mereka tidak terlalu terhambat, kita tahu kalau di jurusan IPS ada pelajaran yang menyajikan materi perhitungan, tetapi tidaklah seperti hambatan yang kita peroleh ketika kita mengambil jurusan IPA karena masih bisa di minimalisir dan masih di ikuti.

Dari masalah diatas, saya lewat tulisan ini, ingin mengatakan bahwa tidak lagi ada alas an bagi pihak sekolah atau universitas yang menolak kaum tunanetra dengan alasan seperti bukan sekolah luar biasa, tidak ada nota dari dinas, dan tidak mampu untuk mengikuti pelajaran. Karena sekarang sudah banyak sekolah yang berhasil menammatkan tunanetra begitu juga dengan universitas sudah banyak yang menammatkan mahasiswa tunanetra dengan tidak terlalu banyak mengalami hambatan beserta menjadi lulusan terbaik. Selain itu, pemerintah juga sekarang telah menggalakkan program inklusi.

Statement diatas, saya keluarkan, sebab saya sangat jengkel ketika saya mengingat cerita teman saya yang di tolak dengan alas an belum ada sebelumnya, bukan sekolah luar biasa dan alas an yang lain dengan ilustrasi seperti ini saat itu, senior saya mencoba untuk mendaftar di sebuah sekolah umum tetapi ditolak dengan alas an belum ada tunanetra yang bersekolah di sekolah tersebut sang pendaftar menjawab Bandung dan Jakarta sudah banyak sekolah umum yang menerima kaum tunanetra.

Yang paling menjengkelkan saat itu, adalah statement dari sang kepala sekolah mengatakan “ kalau begitu kamu sekolah saja di bandung dan Jakarta” mendengar statement tersebut sang pendaftar mengatakan “kalau sekolah menengah umum di bandung dan jakarta sudah bisa menerima tunanetra, kenapa di sekolah bapak tidak mau mencoba menerima saya “ sang kepala sekolah kembali menjawab “bagai mana kalau kamu belajar apakah kamu mampu mengikutinya?” pendaftarpun mengatakan insya allah tidak ada hambatan bagi saya, saya akan mempergunakan tulisan brail dan kalau bapak memberikan tugas-tugas kepada saya saya akan meminta teman saya untuk menulisnya dan apa yang ditulis oleh teman tersebut adalah dari saya” ujar pendaftar dari kalangan tunanetra. Wal hasil, diapun akhirnya di terima dan tammat dengan nilai memuaskan.

Selain menata sikap bagi tunanetra yang sedang menjalani pendidikan di sekolah dan kampus, saya juga akan membahas bagaimana perlakuan yang seharusnya bagi penyandang cacat yang hidup dalam suatu keluarga dan hidup dalam bermasyarakat.

Dalam keluarga, seharusnya tidaklah boleh terlalu ofer protektif atau terlalu melindungi karena terlalu saying dan terlalu khawatir kalau-kalau nanti anak, saudara, istri, atau suaminya yang mengalami kecacatan akan mengalami kecelakaan atau hal-hal lain yang akan menyulitkan dirinya, cukuplah mereka memberikan ruang gerak yang seluas-luasnya bagi keluarga mereka yang mengalami ke cacatan.

Media atau ruang gerak yang harus diberikan adalah bagaimana membantu mereka dalam melakukan aktifitas, interaksi dengan keluarga dan masyarakat, dan melakukan pekerjaannya disesuaikan dengan jenis kecacatan yang di alaminya.

Bagi kaum tunanetra, mereka dalam memberikan ruang gerak seluas-luasnya adalah memberikan kebutuhan-kebutuhan seperti Tongkat, Reglet, Pen, dan alat-alat yang mampu mempermudah mereka dalam melakukan aktifitas seperti berinteraksi, mengerjakan tugas sekolah, bepergian dan aktifitas lain. Tetapi keluarga juga tidak boleh lepas tangan begitu saja, karena bagai manapun mereka tetap membutuhkan orang lain.

Seperti apakah bentuk keterlibatan mereka maka saya akan memberikan contoh semisal seorang tunanetra yang ingin mengurus KTP, maka peran keluarga adalah membantu untuk menulis formulir yang telah di sediakan yaitu dengan cara menanyakan nama, jenis kelamin, dan lain-lain karena ketika ia menjawab, maka jawaban tersebutlah yang di tuliskan ke dalam bio data tersebut itulah peran keluarga bagi kaum tunanetra.

Hal yang saya jelaskan diatas, tentu juga berlaku bagi penyandang cacat lain seperti TunaDaksa, mereka paling tidak mereka memperoleh media untuk melakukan kegiatan sehari-hari atau dikenal dengan activity dayly seperti materi yang disajikan dalam matakuliah pendidikan luar biasa media yang di siapkan bagi tunadaksa seperti kursi roda, ram atau bidang miring yang digunakan di tempat umum, protese tongkat, dan lain sebagainya untuk menunjang produktivitas mereka dalam bekerja.

Rehabilitasi mental, perlakuan ini diperlukan bagi kaum yang terkena musibah yang mengakibatkan mereka cacat seumur hidup seperti seorang warga yang mengalami kecelakaan dan kakinya harus di amputasi, seorang warga yang terkena sebuah penyakit atau mengalami kecelakaan yaitu berupa benturan yang mengakibatkan syaraf atau retina matanya rusak dan akhirnya tidak dapat melihat, atau penyebab kecacatan lain.

Rehabilitasi ini dapat berupa pencerahan bahwa mereka harus menerima kenyataan yang mereka alami supaya mereka dapat kembali bangkit dan mungkin saja mereka akan lebih produktif dan rehabilitasi ini dapat dilakukan oleh pelaku-pelaku yaitu penyandang cacat sendiri, agamawan, guru pendidikan luar biasa, atau masyarakat yang tahu banyak tentang penyandang cacat karena kondisi mereka sudah tidak mungkin lagi dikembalikan seperti dahulu kala contohnya seorang warga yang terkena kecelakaan dan kakinya di amputasi tidak mungkin akan menemukan kembali kakinya semula.

Rehabilitasi fisik adalah perlakuan yang dilakukan kepada penyandang cacat yang seperti telah saya jelaskan tetapi dengan bentuk yang lain, dan harus dilakukan oleh guru PLB, atau siapa saja yang berkecimpung di dunia kecacatan dan yang dilakukan adalah mengajarkan Braille, mengajarkan penggunaan protese, dan alat Bantu penyandang cacat lainnya. Itulah uraian saya tentang menata perilaku terhadap penyandang cacat, semoga dapat di amalkan dalam kehidupan masyarakat dan penca tidak akan terhambat.

MENABUNG UNTUK HARI ESOK

Oleh:Sujono sa’id

Setiap manusia tentu mempunyai cita-cita, sehingga untuk mewujudkan sebuah cita-cita tentu salah satu dari sekian caranya adalah menabung, semisal ketika seorang ingin beli mobil, maka harus menabung untuk beli mobil, seseorang yang ingin punya modal untuk usaha maka ia harus menabung sejak dini sehingga tidak kelabakan lagi.

Saya ingin menceritakan sebuah kisah nyata di suatu kampung di kabupaten selayar, hiduplah seorang pelajar orang tuanya adalah seorang guru. Setiap ia memperoleh uang jajan untuk di sekolah, ia tidak lupa untuk menyisihkan uangnya barang sedikit, ternyata setelah SMU kebiasaan menabungnya masih menjadi sebuah budaya yang telah meng internalizet falue dalam diri sang pelajar tersebut.

Sehingga, tibalah pada suatu hari ia ingin membeli motor, ayahnya kaget bukan main karena ia merasa tidak mampu untuk membeli motor buat anaknya sang anakpun mengatakan izinkan saya untuk membuka tabungan saya ternyata setelah sang anak dan ayahnya membuka tabungan tersebut, dihitunglah uang tersebut, dan sang ayahpun sangat terharu karena ia tidak mengira kalau tabungan anaknya sudah habis sejak lama.

Tapi yang saya akan bicarakan disini adalah menabung untuk hari esok bukan dalam bentuk materi yang jika di spesifikasi adalah uang, tetapi menabung untuk hari esok yang akan saya bicarakan adalah menabung dalam bentuk lain seperti memperbanyak teman dengan komunikasi yang baik, dan membina pertemanan sehingga ketika kita dalam keadaan susah, maka kita akan terbantu oleh mereka.

Sebagai contoh kita hidup bertetangga, tentu kita harus menjalin hubungan silaturrahim dengan tetangga, sehingga ketika kita sakit maka kita tidak lagi merasa kesusahan untuk meminta tolong bahkan kitala yang akan memperoleh tawaran dari mereka. Contoh lain yang saya ungkapkan adalah pengalaman saya di lingkungan saya.

Saya(penulis) adalah seorang tunannetra, saya tinggal di Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia saya memiliki teman sekolah dimana saya sama-sama menempu pendidikan di sebuahSMU swasta sebagai tunanetra yang ber integrasi dengan siswa yang normal, kami sebagai tunanetra untuk meng akses pelajaran, dan mengerjakan tugas harus didampingi oleh relawan yang di tunjuk oleh persatuan tunanetra Indonesia sulawesi selatan. Selama saya kelas 3 SMU, saya sudah menggunakan program higher education untuk membantu saya untuk mempelajari reverensi.

Sedangkan untuk mengerjakan tugas, saya tetap membutuhkan bantuan dari relawan yang telah saya sebutkan di atas, terkadang kalau saya bertemu dengan mereka saya sering di Tanya “ ada tugas?” mendengar hal tersebut, sang teman saya ini merasa diperlakukan tidak adil lebih keji menurut saya adalah dia mengira saya melakukan pendekatan dengan pendekatan material bukan pendekatan emosional.

Suatu hari, ia memperoleh tugas dari guru di sekolah yang harus dikerjakan yang kalau tidak akan membuat teman saya ini terancam, baru saja ia meminta tolong kepada relawan ada beberapa relawan yang dengan berat hati harus menolak permintaan tersebut karena harus membantu menjalankan tugas-tugas organisasi di secretariat pertuni.

Dan akhirnya, teman saya ini sangat marah, saking marahnya dia langsung melakukan tindakan yang salah karena paradikma yang di anut oleh teman saya bahwa relawan di tugasi oleh organisasi maka tanpa harus menolak juga harus membantu kita karena kita juga adalah pengurus organisasi yang harus di Bantu, sementara sebahagian warga pertuni dan termasuk saya juga merasa sebagai orang yang butuh harus mengerti mereka, bukan malah ber negative thinking terhadap mereka. Karena paradikma yang di anut oleh teman saya ini, maka ia melakukan tindakan yang tidak ber etika karena meminta agar tidak usah ada kegiatan di pertuni, bahkan teman saya ini meminta agar ketua pertuni meng sterilkan areal pertuni dari kalangan relawan.

Tindakan tersebut di respon oleh Kepala panti guna Yapti dengan memanggil mereka untuk melakukan pembicaraan dengan para relawan pertuni, setelah itu barulah beliau memanggil teman saya dan termasuk di dalamnya adalah saya sendiri, ketika saya sebenarnya hanya bermaksud baik, ia merasa bahwa saya lebih berpihak kepada relawan yang dimatanya telah mempunyai reputasi yang luarbiasa jeleknya.

Karena merasa ultimatumnya tidak di indahkan, maka teman saya ini melakukan tindakan yang lebih parah lagi, untunglah tindakan ini tidak merugikan siapa-siapa, dengan tindakan yang di awali dengan worning ini tidak di setujui oleh beberapa pengurus organisasi di pertuni. Akhirnya, saya dan beberapa pegurus pertuni mengadakan meting untuk membahas persoalan dan strategi pemecahannya. Ditambahkan lagi bahwa masalah personal harus diselesaikan secara personal bukan diselesaikan dengan cara organisasi. Strategi yang di capai adalah memberikan pencerahan.

Dari tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil rapat dengan beberapa pengurus, maka ia akhirnya sadar bahwa tindakan yang dilakukannya adalah tindakan yang sangat salah, bahkan dengan tindakan tersebut, ia sudah tidak pernah lagi meminta relawan untuk mengerjakan tugas-tugasnya, reverensinya juga ia usahakan untuk pelajari sendiri dengan menggunakan jaws, dan ia merasa menyesal karena sudah terlambat.

Tetapi setelah belajar dengan menggunakan jaws untuk meng akses reverensinya, maka ia merasa sangat terbantu, saya dalam hati hanya berkata “ makanya ikuti kata saya”. Memang, kita harus akui bahwa saya dan beberapa teman-teman selalu memberikan solusi kepada teman saya ini, tetapi malah mengatakan tidak cocok dengan kondisi saya, karena dengan alas an saya tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Kita melangkah ke kasus lain, ketika tiba masanya pemilihan umum, sangat banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendaftar menjadi anggota dewan, tentu mereka butuh massa, dan harus bekerja keras dengan waktu yang sangat terbatas, sebenarnya nanti mereka butuh baru mengsosialisasikan diri sedangkan jika bukan momen seperti ini mereka tidak turun ke masyarakat untuk menciptakan nama.

Sehingga untuk menciptakan nama sebenarnya kita harus melakukan infestasi seperti berkiprah di organisasi dengan kinerja yang wah, sehingga ketika kita ditunjuk menjadi orang yang akan mewakili mereka, maka kita tidak kesusahan lagi untuk bergerak mencari massa karena kita sudah di kenal lewat organisasi kita.

Bahkan kita tidak usah ber ambisi lagi untuk mencalonkan diri menjadi caleg tetapi kitalah yang dicalonkan oleh partai karena kita sudah dikenal oleh organisasi, contohnya semisal saya punya keluarga seorang calek, ia tidak pernah aktif ber organisasi, bahkan ia mengatakan bahwa organisasi hanya untuk buang-buang uang saja, tetapi setelah ia menjadi calek, tidak ada massa yang mau memberikansuaranya.

Penyebabnya adalah karena ia belum pernah ditemukan berkarya, bahkan setelah menyampaikan fisi dan missinyapun masih menimbulkan tanda Tanya sehingga peluangnya untuk menjadi anggota dewan sangat kecil, karena tidak ber investasi tetapi saya akan memberikan contoh lain semisal saya punya pacar seorang aktivis organisasi sehingga tibalah saatnya pemilihan umum ia dicalonkan menjadi caleg.

Karena ia adalah sosok yang paling terkenal, dan sahamnya sudah ditanam di berbagai organisasi, ia memperoleh suara yang banyak, sehingga ia terpilih menjadi anggota dewan dengan memperoleh suara terbanyak karena banyak yang mengenal kiprahnya di organisasi tempat ia bekerja dengan ikhlas tanpa tendensi lain.

Dari ilustrasi yang telah saya deskripsikan diatas, maka dapat kita petik sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa kita tidak boleh nanti membutuhkan baru mencari tetapi tidak menyimpan saham yang ketika kita membutuhkannya kita akan lebih gampang untuk mengambilnya sebagai kebutuhan kita suatu waktu.

Sedangkan ilustrasi tentang caleg apa yang kita dapat jadikan sebagai pelajaran? Tentu kita dapat simpulkan bahwa membuat diri kita terkenal butuh waktu bukan satu bulan, tetapi butu waktu bertahun-tahun. Tetapi saya kira bagi kita organisatoris yang bercita-cita menjadi anggota dewan, maka infestasikanlah saham dalam waktu 5 tahun kalau kita mempunyai kiprah yang baik, maka dalam waktu 5 tahun modal akan cukup.

Kemudian ilustrasi tentang teman saya diatas, kita dapat simpulkan bahwa tidak bolehla kita bertindak secara emosional, dan haruslah kita bersedia untuk menerima apapun konsekwensinya sebab saya sendiri kadang-kadang menerima tolakan-tolakan karena betul-betul memang harus di tolak, meskipun saya juga merasa butuh.

Tapi harus ada rasa saling memahami dan tidak ber negative thinking dan haruslah kita untuk sering ber interaksi sehingga ketika kita memperlihatkan sesuatu yang lain dari diri kita maka kita akan dipahami oleh orang bukan ditakuti oleh orang, dan juga kita harus mengelola emosi dengan cerdas serta lagi-lagi harus ber investasi.

Dari kesimpulan yang saya jelaskan tentang membuat nama besar, maka saya akan memberikan contoh dari kalangan internal tunanetra saja dulu saya akan jadikan kanda Syaharuddin daming beliau dapat duduk di kursi komnas, hanya karena kiprahnya di organisasi, contoh lain seperti Ilham arif sirajuddin wali kota makassar, dapat menjadi walikota hanya karena ia berawal dari kiprah di organisasi, dan kiprahnya dikenal partai.

Salah satu output dari silaturrahim antar sesama manusia, adalah investasi bagi kita untuk menunjang karier kita kea rah yang lebih baik karena hal ini sangatlah cocok dengan sebuah pepatah yang berbunyi banyak teman banyak rezeki, dan terakhir saya hanya ingin agar kita senantiasa menggali potensi yang telah Allah tanamkan dalam diri kita sebagai seorang hamba karena setiap manusia telah diciptakan lengkap dengan potensinya tinggal bagaimana mereka mengolahnya sehingga laku di pasaran.

KORELASI ILMU PENGETAHUAN DAN PROVESI

Oleh:Sujono sa’id

Setiap manusia apapun provesinya harus mengetahui banyak hal seperti tentang emosional qwoition, intelektual qwoition, dan spiritual qwoition. Yang manakah yang di maksud dengan ke tiga poin di atas? Yang di maksud adalah kecerdasan dalam hal emosi, kecerdasan dalam hal ber fakir, ilmu pengetahuan, analisis, komunikasi, dan lain-lain, dan yang ke tiga yaitu kedekatan kepada tuhan yang di dalamnya adalah kecerdasan secara religius atau dikenal dengan kecerdasan rohani.

Semua hal yang telah saya jelaskan diatas, adalah hal yang tidak boleh terpisahkan dengan provesi apapun seperti wira usaha, Dokter, perawat, guru, dan lain-lain sebagainya, mengapa demikian? Sebab ketika mereka menjalankan provesinya mereka akan menjalankan provesinya secara optimal dan di senangi semua pihak.

Seorang wira usaha, ketika tidak memiliki kecerdasan intelektual maka mereka tidak akan memperoleh customer/pelanggan, karena untuk memperoleh customer maka kita harus mampu untuk membaca perilaku konsumen, kebutuhan pasar, selera masyarakat, kemampuan dalam menggaid customer dengan kondisi yang beragam, dan bagai mana membaca peluang bisnis yang sudah berada di pelupuk mata kita saat ini.

Seorang wirausahawan ketika tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola emosinya, maka ia tidak akan mampu untuk melayani customer, selalu cemas ketika mendapati seorang customer yang tidak puas dengan produk yang di distribusikannya, dan akan selalu di jauhi oleh rekan kerja, dan relasi-relasinya selama ini.

Ketika seorang wira usahawan tidak memiliki kecerdasan spiritual, maka mereka tidak akan mampu mengelola bisnis mereka, karena dalam berbisnis, kita juga tetap menggunakan konsep-konsep yang telah diatur oleh agama seperti tidak membungakan uang, melakukan kecurangan dalam pembelian seperti mengurangi timbangan, dan menipu customer dengan cara-cara yang tidak terpuji dan tidak sesuai syariah.

Apa jadinya jika seorang dokter tidak mempunyai kecerdasan intelektual, maka dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter akan banyak merugikan pasien yang ditanganinya, banyak kejadian yang merupakan tindakan dokter yang merugikan pasiennya seperti mal prktek, salah resep, dan tindakan lainnya.

Ketika seorang dokter tidak mempunyai kecerdasan emosi, maka setiap hari akan merasa tidak mut dengan pasien yang dihadapinya, sebab ketika ia menghadapi pasien yang masih usia kanak-kanak dan mengganggu kegiatan penanganannya terhadap pasien tersebut, maka ia akan sering marah-marah, sehingga saya juga akan tandaskan di sini bahwa seorang dokter harus juga memiliki kemampuan ber interaksi dengan anak di bawah usia, dan menguasai pasiennya agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan. Kecerdasan secara religius atau spiritual juga wajib hokumnya dimiliki oleh seorang dokter, sebab selain karena memang mereka-mereka juga adalah manusia yang diciptakan oleh tuhan atau dengan kata lain ummat beragama, maka kemampuan itu juga akan membantu pasien untuk sembuh secara cepat, karena seorang dokter tidak hanya menangani penyakit manusia secara lahiriah atau fisik tetapi juga batiniah.

Saya akan meng ilustrasikan sebuah contoh ketika seorang dokter mata tidak memiliki kecerdasan spiritual suatu hari sang dokter mata ini menemukan seorang pasien yang berdasarkan hasil diagnosanya sudah tidak dapat di tolong lagi, maka sang dokter langsung mengatakan kepada sang pasien bahwa anda sudah tidak dapat di tolong lagi.

Tentu saja sang pasien dan keluarganya akan patah semangat dan batinnyapun akan sakit hanya karena fisiknya gagal disembuhkan dan saya juga akan memberikan sebuah ilustrasi tentang seorang dokter yang memiliki kecerdasan dari segi religi yang sangat luar biasa. Suatu hari, ia memeriksa seorang pasiennya yang mengalami gangguan penglihatan, ternyata hasil diagnosanya sang pasien tidak dapat tertolong lagi.

Maka, sang dokter akan mengatakan kepada keluarga pasien tersebut dengan perkataan seperti berikut manusia hanya mampu berusaha, tetapi hasil usaha ibu, bapak dan saya selaku dokter sudah sampai di sini, mata keluarga bapak/ibu sudah tidak dapat tertolong lagi, maka saya harap anda bersabar karena mungkin Allah hanya mencoba kita.

Selain itu, mereka juga dapat memberikan solusi semisal mengarahkannya ke sekolah luar biasa dan memberikan spirit bagi keluarga agar mereka mau menerima keadaan keluarganya tersebut. Begitu juga dengan seorang dokter ahli kandungan utamanya yang menangani USG, ketika tidak memiliki kecerdasan rohani dan hanya akan mengandalkan ilmu kedokterannya saja maka ia juga akan membuat mental pasiennya dapat jatuh maka akan saya berikan contoh tentang kasus-kasus seperti ini dan akibatnya.

Seorang ibu yang hamil mendatangi seorang dokter di bagian USG, ibu tersebut sangat berharap anak yang dilairkannya adalah anak laki-laki. Setelah melihat hasil dari USG, maka yang tampil di layer computer tersebut adalah janin perempuan, sehingga sang dokter tersebut mengatakan menurut hasil pemeriksaan saya maka bayi ibu adalah perempuan, maka sang ibu tentu tidak akan menerima kenyataan ini, sebab dia berharap punya anak laki-laki, tetapi ketika sang dokter juga memiliki kecerdasan rohani dan kemampuan membaca reaksi pasien dan mengetahui harapan pasien dari raut mukanya, maka ia tentu akan mengatakan bahwa apa yang terlihat di USG adalah hasil pemeriksaan saja bukanlah hasil secara final karena yang menentukan adalah Allah saja.

Satu ilustrasi lagi tentang korelasi antara kecerdasan rohani dan provesi dokter, seorang ibu yang mengidap penyakit kista, mendatangi dokter untuk memeriksakan penyakitnya ke dokter tersebut, setibanya di dokter tersebut sang dokter mengatakan bahwa umurnya sudah tidak lama lagi karena penyakit yang di deritanya sudah stadium 4, tetapi ketika seseorang dokter ahli kista memiliki kecerdasan rohani maka ia akan mengatakan bahwa penyakit ibu berdasarkan hasil pemeriksaan sudah stadium 4 maka umur ibu sudah tidak lama lagi tetapi itu baru hasil pemeriksaan saja tetapi semua itu di tentukan oleh Allah tetapi selain itu banyak-banyaklah ber doa untuk memperoleh umur panjang, karena doa dan usaha akan membantu perubahan takdir allah.

Seandainya sudah seperti itu, maka seorang penderita kista semangat hidupnya sudah renda jika seorang dokter hanya mengatakan hidup anda tidak lama lagi, tetapi jika seorang dokter memberikan semangat hidup serta meyakinkan sang pasien maka meskipun sudah stadium 4 umurnyapun tinggal beberapa hari, maka semangat hidupnya akan bertambah dan kemungkinan hidupnya untuk lebih lama sangatlah besar.

Maka sebagai penutup dari tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam provesi apapun maka kita harus memiliki berbagai wawasan seperti kecerdasan emosi, kecerdasan intelegensi, kecerdasan spiritual, kecerdasan membaca kondisi dan lain-lain sebagainya, sehingga sangat cocoklah sebuah pepatah bahwa janganlah pernah berhenti untuk belajar, sebab hidup ini adalah tempat untuk belajar, bukanlah tempat untuk tujuan lain, semoga saya dapat meng implementasikan apa yang telah saya tuliskan di layer computer ini, dan juga dapat bermanfaat bagi yang sempat membaca tulisan ini.

KETUNANETRAAN BUKANLAH PENGHALANG UNTUK MAJU

Oleh: Sujono Sa’id

Seorang anak yang terlahir ke dunia ini kemudian mengalami ketunanetraan bukanlah sebuah penyakit, apalagi kedua orang tua anak tersebut sudah berusaha untuk membuat mata anak tersebut melihat dengan cara berobat ke Dokter, Dukun, dan melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya melihat tetapi sudah tidak bisa melihat lagi.

Lantas kebutaan seorang anak tersebut akan di anggap sebagai apa? Maka kebutaan tersebut sudah tak bisa kita hindari, jadi kita anggap saja kebutaan tersebut sebagai cobaan dari sang pencipta. Lantas dengan adanya kebutaan yang menjadi cobaan bagi si anak dan orang tuanya apakah mereka harus putus asa?, apakah mereka harus bersedih hati?, dan apakah mereka harus berkecil hati?, kalau kita ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, maka jawabannya hanya satu yaitu tidak.

Kalau mereka tidak harus berputus asa, bersedih hati, berkecil hati, lantas mereka harus bagaimana? Mereka harus menerima kebutaan tersebut sebagai takdir dari Sang pencipta dengan penuh tawakkal dan ikhtiar, maksudnya adalah mereka tidak seharusnya bersedih hati, berputus asa, dan berkecil hati, tetapi harus berusaha dan berdoa.

Usaha yang harus mereka lakukan adalah bagi orang tua si anak, harus menyekolahkan anaknya di SLB dari SD sampai SMP, dan boleh mengintegrasikan anaknya di SMA dan bagi si anak, maka harus belajar dengan tekun. Oleh karena itu, bagi kaum tunanetra, ketunanetraan bukanlah suatu penyakit melainkan merupakan suatu cobaan. Hal itu juga sangat dirasakan oleh penulis dan kedua orang tua penulis ketika penulis di lahirkan penulis dilahirkan sebagai bayi sehat, ketika penulis disusui oleh ibunya, ibunya menemukan bintik putih dan di periksakanlah temuan tersebut ke Dokter, hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa saya( penulis ) sudah dalam keadaan buta, mendengar hal itu orangtua saya langsung putus asa, namun saya tetap dirawat dengan penuh kasih.

Setelah penulis beranjak masa kanak-kanak, Ayah penulis selalu marah-marah seakan-akan tidak mau menerima kenyataan yang teramat pahit tetapi ibu penulis selalu dengan sabar membimbing penulis sehingga yang dahulunya penulis adalah orang yang tidak berguna, menjadi orang yang selalu dipandang baik di mata masyarakat.

Bagi para tunanetra, ketunanetraan bukanlah penghalang untuk maju, jika seorang tunanetra mempunyai bakat, maka mereka harus menyalurkan bakat mereka. Meskipun kaum Tunanetra sudah berada dalam kegelapan, tetapi mereka juga bisa melakukan hal-hal tertentu yang juga bisa dilakukan oleh orang yang memiliki mata yang normal(orang awas) kalau orang yang masih memiliki penglihatan yang baik(orang awas) bisa bersekolah, maka tunannetrapun juga bisa bersekolah,meskipun harus bersekolah di SLB tetapi setelah itu mereka juga bisa bersekolah di SMA bersama dengan orang awas atau orang normal meskipun mereka harus mengandalkan teman-temannya untuk mengerjakan tugas dan meskipun mereka juga harus memperoleh perlakuan khusus dari gurunya ketika mereka mengikuti ujian Smester.

Terkadang kaum tunanetra dipandang baik apakah dimata keluarganya ataupun di mata masyarakat ketika mereka mempunyai kelebihan tertentu tetapi ketika kaum tunanetra tidak memiliki kelebihan tertentu akibatnya sangat menyedihkan sebab akan dipanddang oleh masyarakat sebagai kaum yang menambah beban keluarga dan masyarakat(parompa-rompai) bahkan tidak diakui oleh keluarganya.

Contohnya semisal ada seorang Tunanetra yang mempunyai kelebihan bisa membaca Al-quran secara tartil(tadarus tilawa)pada saat belum pernah mendapat gelar juara, tak ada satupun dari keluarganya yang mengakuinya sebagai bagian dari keluarganya, padahal jelaslah bahwa memang dia adalah bagian dari keluarga beliau. Hal inilah yang menimpah seorang tunanetra sebut saja Abdul aziz, dia adalah seorang tunanetra yang dikenal sebagai seorang kori sebelum Abdul aziz sering memperoleh gelar juara dia tidak memperoleh pengakuan dari keluarganya padahal dia adalah bagian dari keluarga seorang bupati di salah satu kabupaten di Sulawesi tenga(sulteng). Berdasarkan fakta dan sebuah literature tentang ketunanetraan yang penulis baca, bahwa tunanetra terkadang hanya memperoleh apresiasi jika hadir dalam acara resmi(ceremony) atau apabila mereka menjadi pelaku dari acara tersebut, tetapi mereka tidak mengerti bahwa kaum tunanetra juga memiliki kesamaan hak dengan mereka dengan izin Allah melalui Pertuni( persatuan tunanetra Indonesia) sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak kaum tunanetra dan menyuarakan bahwa kaum tunanetra juga mempunyai hak yang sama dengan mereka, tunanetra juga membutuhkan pendidikan, tunanetra juga membutuhkan persamaan hak dimata hukum.

Selain menyuarakan hak-hak yang dimiliki oleh kaum tunanetra, Pertuni juga telah merubah statemen yang miring tentang tunanetra, alhamdulillah atas berkat dan rahmat Allah yang maha kuasa, melalui Pertuni semua pemikiran miring tentang tunanetra sudah dikikis sedikit demi sedikit.

Ada faham masyarakat yang sangat jelek banyak masyarakat yang menganut faham yang berbunyi apabila pagi-pagi mereka akan pergi untuk menyelesaikan urusan lantas mereka menemukan tunanetra, maka mereka berkeyakinan bahwa urusan mereka tidak akan selesai, sebab menurut mereka tunanetra adalah pembawa sial.

Kalau kita meninjau kembali ajaran agama Islam, maka faham-faham yang seperti ini tidaklah dibenarkan karena dalam agama Islam hal seperti ini disebut dengan istilah khurafat. Hak kaum tunanetra dan statemen miring tentang kaum tunanetra disuarakan setiap Pertuni mempunyai momen

Selain Pertuni sebagai organisasi yang membantu tunanetra untuk memperjuangkan hak-haknya masih ada organisasi lain yang membantu kaum Tunanetra untuk memperjuangkan haknya yaitu Forum adfokasi penyandang cacat( faham penca), dengan izin Allah melalui kedua organisasi tersevut sebagai perantara, alhamdulillah kaum tunanetra sudah sedikit bisa bernafas legah sebab perjuangan mereka sudah berhasil.

Alhamdulillah dengan izin Allah, melalui kedua organisasi yang telah memperjuangkan kaum tunanetra akhir-akhir ini kaum tunanetra dari segi pendidikan, mereka sudah bisa melanjutkan pendidikannya ke Sekolah menengah atas( SMA) baik di Sekolah negeri maupun di Sekolah swasta dengan catatan mereka sudah mematuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan, meskipun demikian, masih pernah ada seorang tunanetra yang sempat bermasalah di dunia pendidikan sebab tertolak disebabkan hanya karena dia adalah tunanetra sebut saja M. Rais yang pada saat itu dia ingin mendaftarkan dirinya di SMA Muhammadiah 7 Rappokalling, ketika baru saja sampai di meja panitia pendaftaran M. Rais mendapatkan kata-kata yang amatlah menyedihkan dan juga amatlah menjengkelkan kata-kata tersebut berbunyi “ini bukan sekolahmu”.

Tetapi dari segi pendidikan sudah ada tunanetra yang berhasil menyelesaikan pendidikan dari SD sampai ke jenjang perguruan tinggi sudah ada yang berhasil memperoleh gelar Master setelah menyelesaikan pendidikan dengan melewati jenjang Strata2, dan sekarang ini sedang mengikuti pendidikan jenjang Strata3 untuk memperoleh gelar Doktor,sudah ada juga tunanetra yang telah memperoleh Gelar Doktor setelah menyelesaikan pendidikan pada jenjang Strata3 di Universitas hasanuddin Jurusan komunikasi, sebut saja beliau adalah Doktor Mansyur semma, kaum tunanetra telah banyak yang berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas (SMA) antara lain yaitu M. Rais dari SMA Datuk ribandang, M. Husni dari SMA Negeri 6 Makassar,M. Arifin dari SMA negeri 6, Masdin dari SMA Datuk ribandang, dan masih banyak tunanetra yang telah menyelesaikan pendidikan mereka di berbagai SMA Negeri dan swasta. Adapun kaum tunanetra yang masih menjalani pendidikan di berbagai SMA negeri dan swasta antara lain Kasmir Padallingan, sedang menjalani pendidikan di SMU Datuk ribandang, begitupun dengan penulis sendiri sedang menjalani pendidikan di SMA Datuk ribandang dan M. Fadli Ismail sedang menjalani pendidikan di SMU negeri 16.

Kaum tunanetra juga sudah banyak yang telah menyelesaikan pendidikan melalui jenjang Strata 1, antara lain Detrandus Arman habib pada fakultas tarbia Universitas Muhammadiah makassar, Yehezkiel parudani SPd Jurusan Bahasa Ingris. Adapun kaum tunanetra yang masih menjalani pendidikan jenjang strata1 antara lain Hamzah yang sekarang masih menjalani pendidikan pada jenjang strata1 pada jurusan bahasa Ingris di Universitas Negeri Makassar, M. Arifin yang sedang menjalani pendidikan strata1 pada jurusan sastra Ingris di Universitas Muslim Indonesia, Firman gozal sedang menjalani studi di Universitas 45 Jurusan Bahasa inggris serta M. Husni sedang menjalani studi di Univeersitas Negeri Makassar Jurusan PLB.

Alhamdulillah sudah ada beberapa universitas yang telah memberikan kesempatan kepada kaum tunanetra untuk mengikuti perkuliahan antara lain Universitas negeri Makassar(UNM), Universitas Muslim Indonesia(umi), Universitas hasanuddin(Unhas), dan Universitas 45.

Dari segi penggunaan teknologi alhamdulillah kaum tunanetra sudah tak ketinggalan lagi khususnya tunanetra di Sulsel, kaum tunanetra sulsel yang dahulu tahu computer hanya dari mulut ke mulut, tetapi sekarang kaum tunanetra khususnya warga Pertuni Sulsel mengenal computer bukan lagi dari mulut kemulut, semua ini adalah hasil perjuangan seorang tunanetra sebut saja M. Rais yang sehari-hari lebih akrab disapa Rais, rais harus belajar tentang ilmu computer di sebuah Yayasan di Jakarta ia menjalani kursus selama 6 bulan selama di Jakarta, Rais tidak menginap di rumah keluarga sebab menurut yang penulis peroleh tak satupun keluarganya yang ada di Jakarta sehingga ia harus menginap di sebuah mushallah yang berlokasi di yayasan tempat ia belajar.

Setelah 6 bulan ia menimba ilmu tentang computer, diapun kembali ke Makassar, sesampainya di Makassar, ia langsung membuka training tentang computer bicara dan akhirnya telah menghasilkan20 alumni.

Perlu penulis jelaskan bahwa komputer yang digunakan oleh kaum tunanetra adalah komputer yang digunakan oleh orang yang mempunyai penglihatan hanya kaum tunanetra harus menginstal sebuah program yang mengeluarkan suara pada speaker selain suara pada speaker, program ini telah dilengkapi dengan alat baca layar atau dikenal dengan istilah skreen reader program ini dikenal dengan nama Jaws atau Job akses wit speech. Berdasarkan apa yang penulis paparkan di atas, maka sebagai kesimpulan akhir, diharapkan agar kaum tunanetra janganlah berkecil hati karena ada saja rahasia tuhan dibalik ketunanetraan yang kita alami dan marilah kita menyambut hari-hari kita dengan penuh semangat dan berjuanglah dengan penuh kesabaran karena sabar adalah kunci sukses dan perlu kita ketahui bahwa tuhan bersama dengan orang-orang yang sabar tetapi jangan hanya sabar lantas berpangku tangan tetapi mari kita untuk selalu berikhtiar dan berserah diri kepada tuhan marilah kita jadikan kebutaan yang kita alami sebagai motifasi untuk maju dan mari kita jadikan kebutaan yang kita alami sebagai motifasi untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada tuhan

Perlu kita ketahui bahwa tuhan tidaklah menurunkan cobaan kepada hambanya apabila hambanya tidak mampu untuk menjalani cobaan tersebut dan janganlah kita jadikan ketunanetraan kita sebagai penghalang untuk maju dan selalu berjuang sebab hidup ini memerlukan perjuangan apalah arti hidup ini tanpa perjuangan dan perlu kita ingat bahwa sebagai tunanetra musuh besar kita sekarang adalah diskriminasi dari berbagai kalangan dan janganlah hanya karena ketunanetraan kita sehingga kita sudah merasa kehilangan segala-galanya.

Bagi para pembaca penulis sampaikan bahwa apabila anda menemukan orang yang mengalami kebutaan atau yang dikenal dengan istilah ketunanetraan dan orang tersebut sudah putus asa maka bantulah mereka dalam bentuk dukungan dan sampaikanlah kepada mereka bahwa orang seperti mereka juga bisa menjadi orang sukses semoga tuhan selalu melindungi kita dalam berjuang dan semoga para pembaca terketuk hatinya membantu perjuangan kami untuk melepas saudara-saudara kami dari belenggu diskriminasi dan marjinalisasi

HIDUP IBARAT TANJAKAN

Oleh:Sujono sa’id

Setiap manusia yang terlahir di dunia ini, ingin menjadi orang yang sukses, bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Dan untuk memperoleh semua itu, mereka-mereka melakukan berbagai upaya dengan menggunakan daya yang ada dalam diri mereka untuk memcapai apa yang telah menjadi hajat, keinginan, cita-cita yang berawal dari sebuah impian yang terbayangkan saat-saat mereka tidur di waktu malam.

Pagi harinya, mereka mewujudkan impian mereka dengan melakukan sebuah aksi yang sebelum dilakukan adalah melakukan axion plane, komitmen, dan keyakinan, serta tekat yang bulat dan kemudian di eksekusilah impian tersebut dengan sebuah aksi. Dari aksi itulah, dapat dilihat apakah mereka mencapai keinginan mereka atau tidak.

Banyak orang yang kehidupannya ibarat tanjakan karena apa? Karena mereka ketika memperoleh kesuksesan di masalalu tidak terlena dengan pujian-pujian yang datang kepada mereka, bahkan kesuksesan mereka digunakannya sebagai ajang untuk melakukan improvisasi untuk menambah atau paling tidak yang adalah dipertahankan.

Begitu juga sebaliknya, ketika kesuksesan yang kita peroleh tidak di improve, maka hidup kita ibarat manusia yang sedang berjalan dan di rem secara tiba-tiba, karena mereka larut dalam pujian, dan sanjungan dari kolega-koleganya, keluarga mereka, dan lain-lain sebagainya dalam kehidupan mereka. Saya rasa tidaklah cukup jika penjelasan saya ini tidak didukung oleh sebuah ilustrasi yang dapat dijadikan sebagai bukti.

Saya mau cerita tentang pengalaman saya sendiri waktu saya ikut les bahasa inggris di sekolah, saat saya mengikuti les bahasa inggris hari itu materinya adalah ujian dalam bentuk latihan listening lewat kaset. Soal nomor satu di dengarkan lewat radio, sayapun menjawab sesuai dengan pilihan jawaban yang saya anggap benar dengan alas an yang saya kemukakan dan ternyata alas an yang saya kemukakan di terima.

Akibatnya, saya memperoleh pujian dari guru Bahasa inggris saya, ketika sudah masuk soal nomor dua, saya kembali menjawab, soal tersebut dan mengemukakan kembali alas an saya dan ternyata saya salah dalam meng artikan soal tersebut. Disitulah saya sadar bahwa ketika kita memperoleh kesuksesan di masa lalu maka terkadang ketika kita memperoleh pujian maka kita langsung mati rasa. Saya sadar bahwa saya tergolong dalam tipe seperti ini ketika saya mendengarkan acara smart a wayrness pada hari kamis 4 juni 2009 saat saya menuliskan tulisan yang sedang saya buat ini.

Dari penjelasan pak Nakoy ( Nanang Kosim Yusuf) , saya berkesimpulan bahwa hidup kita ibarat orang mendaki sesuai dengan tema yang di bahas satujam sebelum saya membuat tulisan ini dalam smart a wayrness. Saya membuat tulisan ini dan kemudian saya beri judul hidup ibarat tanjakan adalah sebuah kesimpulan saya ketika saya mendengarkan penjelasan serta contoh yang diberikan oleh pak Nakoy.

Selain itu, saya juga ingin memberikan gambaran tentang keberadaan masyarakat Indonesia yang sekarang ini terlalu larut dalam kesenangan pasca kemerdekaan karena ketika kemerdekaan diberikan, mereka terlena dengan apa yang mereka telah peroleh padahal seharusnya generasi muda di masa sekarang ini, tidak terlena dengan zona modern sekarang ini. Begitu juga dengan peristiwa revormasi pada tahun 1998, dulu sebelum revor masi berlangsung kita tidak mendapatkan ruang untuk curhat, mengkritik, dan memberikan pendapat. Sekarang ini, ruang untuk berpendapat sudah sangat luas tetapi ternyata malah mengakibatkan kekacauan di Negara kita, walikota, gubernur, sampai presidenpun sudah tidak di hargai karena mereka larut dalam suasana revormasi.

Dari ilustrasi di atas, maka dapatlah kita katakan bahwa kita harus menyadari bahwa kesuksesan, dan kegagalan yang kita peroleh adalah sebuah ujian dari allah. Karena ketika kita memperoleh kesenangan, berarti kita di uji sejauh mana tingkat kesyukuran kita kepada Allah, maksudnya semisal ketika kita memperoleh kesenangan apakah kita akan larut dalam kesenangan tersebut?, larut terhadap pujian yang kita dapatkan?, dan lain-lain sebagainya?. Olehnya itu, maka jadikanlah apa yang kita peroleh sebagai sebuah motivasi untuk melaju ke tingkatan yang lebih tinggi.

Contoh lain seorang pembicara public, ketika ia terlena dengan tepuk tangan audience, maka ia akan merasa bahwa dialah yang paling wah, karena ia merasa cukup dengan apa yang telah ia miliki padahal ada hal-hal tertentu yang harus kita merasa cukup dan ada hal-hal tertentu yang dimana kita tidak boleh merasa cepat puas. Bukankah rasulullah, telah mencontohkan kepada kita dengan sebuah perbuatan yang digambarkan sebagai berikut suatu malam Rasulullah bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, setelah shalat tahajud ia ber dzikir dan senantiasa bertasbih padahal ia sudah di jamin untuk menempati syurga dari Allah, kemudian ditanyalah ia dengan pertanyaan berikut.

Ya rasulullah! Apakah kamu belum merasa cukup dengan apa yang telah allah berikan kepadamu yaitu jaminan bahwa kamu tidak punya dosa(maksum)?, rasulullah menjawab ya! Betul, saya adalah sosok yang maksum, tetapi saya lakukan ini sebagai bentuk syukur dan terima kasih saya kepada Allah dan saya tidak pernah merasa cukup dengan nikmat yang telah allah berikan kepada saya. Hal ini sangat sesuai dengan surah ibrahim ayat 7 yang berbunyi bahwa akan aku tambahkan nikmat atasmu ketika engkau bersyukur kepadaku, dan ketika hambaku tidak bersyukur atas nikmatku maka ia akan memperoleh azab yang amat pedih dan tidak ada tandingannya di dunia ini.

Dari contoh kongkrit yang telah diberikan oleh rasulullah, maka dapat disimpulkan bahwa ketika kita memperoleh kesuksesan dimasa lalu, maka janganlah kita terlena, tetapi haruslah kita jadikan sebagai motivasi untuk menambah dan memperbaharui kesuksesan yang telah kita peroleh sehingga hidup ini ibarat tanjakan bukan ibarat orang yang sedang berjalan dan terhenti karena kandas.

Hal yang telah saya ilustrasikan sejak awal sampai pertengahan, sangat cocok dengan apa yang telah dikatakan oleh Arfan pradiansyah ketika membawakan smart happiness beliau mengatakan you are wat you are repetedly think, yang kurang lebih artinya adalah anda adalah apa yang anda fikirkan berulang-ulang.

Dari apa yang telah saya ramu dalam tulisan ini, dengan mengutip banyak reverensi seperti smart happiness, 7 a wayrness, hadis nabi, dan lain-lain sebagainya, maka saya hanya berharap agar dapat menjadi bahan renungan bagi saya, karena saya yakin bahwa apa yang saya tulis ini adalah ilmu yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber dan tidak mungkin kalau saya hanya simpan di kepala saya tidak bakalan muat tetapi kalau saya buat dalam sebuah artikel, maka pasti akan saya ingat terus.

Selain saya mengutip berbagai reverensi, saya juga membuat tulisan ini yang saya kembangkan dengan buah pikiran saya melalui membaca, dan mendengarkan reverensi yang telah saya temukan di radio, internet, televisi, dan berbagai pengalaman hidup yang telah saya peroleh sejak saya kecil sampai saya akan menyelesaikan studi di SMU, dan semoga hidup saya ibarat tanjakan bukan ibarat orang yang jalan di tempat atau di rem,.

CARA HIDUP YANG SEHAT

Oleh:Sujono sa’id

Kita tahu bahwa dalam kehidupan ini harta yang paling berharga adalah kesehatan, olehnya itu kita tentu menginginkan diri kita menjadi peribadi yang sehat. Nah! Muncullah sebuah pertanyaan, cukupkah jika untuk mencapai hidup yang sehat hanya dengan cara melakukan sebuah rumusan yaitu 4 sehat 5 sempurna dan6 hutang?.

Saya kira bukan itu yang dimaksud dengan hidup yang sehat, sebab kita ingin kalau kita sehat baik secara jasmania dan batiniah sebab saya teringat dengan sebuah statement bahwa didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, sementara kita tahu bahwa 4 sehat dan5 sempurna itu hanya untuk kesehatan jasmaninya saja.

Sementara ketika jiwa ini atau dikenal dengan rohani ini yang sakit, tentu juga akan memberikan dampak negative bagi jasmani kita. Untuk kesehatan jasmani kita harus melakukan aktivitas seperti bangun pada waktu sebelum shalat subhu, kemudian melakukan olah raga seperti senam, lari-lari, dan lain-sebagainya tetapi sebelum ber olah raga maka sebaiknya jika anda adalah seorang muslim, maka lakukanlah kewajiban.

Setelah shalat subhu, bagi yang muslim, janganlah tidur lagi tetapi usahakanlah anda menghirup udara segar, karena udara segar di pagi hari adalah bagian dari kesehatan kita. Selain bangun pagi dan berolah raga, maka makanlah secukupnya dengan makanan seperti nasi, laukpauk, sayur, buah, dan segelas susu. Selain mengatur pola makan, anda juga harus banyak melakukan berbagai aktifitas, kalau tidak mampu yang berat lakukanlah yang ringan-ringan saja, yang terpenting adalah tubuh ini harus bergerak.

Menurut temuan saya(penulis), masyarakat Desa sangat kecil peluangnya terkena penyakit ketika mereka sudah berusia sekitar 40 tahun sampai tua, sedangkan masyarakat kota, sangat besar peluangnya untuk terkena penyakit sebab mereka memiliki aktivitas yang minim, selain itu polusi udara juga turut menjadi factor yang menyebabkan mereka terjangkiti penyakit, factor tuntutan hidup, serta tingginya kebutuhan masyarakat dan persaingan tidak sehat tidak ketinggalan sebagai salah satu dari sekian poin yang menjadi factor penyebab masyarakat kota menjadi masyarakat yang rawan penyakit.

Sedangkan masyarakat desa, mereka sangat kecil persentasinya yang terkena penyakit sebab mereka setelah shalat subhu bagi yang menjalankannya, mereka langsung melakukan aktifitas mereka di kebun sampai mata hari sudah berada di kepala kira-kira sekitar jam sembilan, setelah itu barulah mereka mengisi perut mereka dengan menyantap nasi, laukpauk, dan segelas te barulah mereka membersihkan diri mereka.

Selain jadwal yang teratur, factor yang membuat mereka menjadi sehat adalah kurangnya tuntutan yang dapat menyebabkan mereka stress, dan secara spiritual mereka adalah orang yang paling bahagia karena mereka mensyukuri keadaan lingkungan mereka serta dari gambaran tentang aktifitas mereka setelah shalat subhu, mereka langsung bertebaran untuk mencari rezeki mereka dengan penuh suka cita bukan kelu kesah.

Temuan saya(penulis) yang kedua adalah orang-orang yang sangat rawan terkena penyakit baik secara fisik maupun secara batin adalah orang yang memiliki stratifikasi social yang tinggi, sebab mereka mengkonsumsi makanan secara berlebihan sehingga mereka sering terkena penyakit seperti kolesterol, tinggi darah, serangan jantung, dan lain sebagainya ditambah dengan kurangnya aktifitas masyarakat yang memberikan mereka proteksi yang melindungi mereka dari penyakit, karena mereka hanya mengandalkan pembantu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka setiap hari.

Selain itu, golongan yang memiliki stratifikasi yang teratas, berpeluang untuk terkena penyakit karena mereka menurut temuan penulis memikirkan bagaimana mereka akan menjaga harta dan kekayaan mereka jangan-jangan harta kekayaan mereka jatuh ke tangan manusia yang berbuat jahat sehingga mereka sering terkena penyakit seperti stress, dan tekanan-tekanan batin lainnya disamping itu juga karena mereka tidak memiliki kedekatan spiritual yang tinggi karena mereka tidak memiliki kedekatan dengan tuhan yang harusnya ia sembah. Padahal mereka tidak sadar bahwa harta bukan jaminan bahwa kita akan memperoleh ketenteraman batin dalam menjalani kehidupan ini.

Sebagai bukti pendukung dari pernyataan di atas, maka saya akan memberikan sebuah ilustrasi yang saya temukan di www.pembelajar.com dan ini adalah sebuah kisah nyata, dalam tulisannya, penulis menceritakan sebuah pengalamannya, kebetulan, seorang temannya adalah orang yang kaya raya, dan temannya adalah seorang pimpinan perusahaan obat-obatan yang katanya dengan obat yang ia minum itu membuat badannya selalu fit, tetapi saya kaget bukan main ketika mendengarnya masuk rumah sakit.

Singkat cerita, sang penulis artikel ini berkunjung ke rumah sakit untuk membesuk temannya itu, ternyata menurut penuturan dari isterinya bahwa ia terkena penyakit lambung dan harus di operasi karena di lambungnyaterdapat sebuah lubang yang modelnya seperti uang logam, karena kata dokter ia terlalu sering cemas.

Setelah kembali pulih, sang penulis artikel ini kembali berkunjung ke rumah temannya yang tadi masuk rumah sakit, tetapi temannya ini sudah dapat diajak ngobrol, terjadilah obrolan seperti ini sangpenulis artikel: mas! Jangan terlalu cemas sang pimpinan perusahaan juga berkata: gimana saya tidak cemas? Perusahaan saya bermasalah belum lagi saya harus menyelesaikan kepentingan lain andai aja kamu berada di posisi saya, kamu pasti nggak bakal bicara kaya gini, sang penulis juga membenarkan argument sang pimpinan perusahaan tetapi ia tetap memberikan saran.

Ia mengatakan bahwa “ mas harus lebih banyak istirahat kalau mau mas coba dululah saran saya ini “ ujar penulis sambil menyodorkan sebuah buku tentang cara agar tidak cemas. Setelah beberapa bulan kemudian, sang pimpinan perusahaan berubah ia sudah tidak terlalu cemas lagi, dan sampailah pada suatu hari, sang penulis artikel di undang untuk datang ke rumah sang pimpinan perusahaan sesampainya di rumah tersebut, sang penulis artikel disambut dengan ramah sang pimpinan perusahaan langsung mengatakan “ terima kasih atas saran dan buku yang uda di kasiin ke saya” ujar sang pimpinan perusahaan karena usahanya sudah kembali seperti sedia kala.

Dari tulisan yang merupakan tulisan yang dapat di akses di alamat yang tertera di atas, dapat di simpulkan bahwa penyakit rohani seperti sering cemas, iri hati, dengki, dan lain-lain juga akan memberikan dampak yang amat berbahaya bagi anggota tubuh yang lainnya. Tips yang lain yang dapat saya bagikan disini adalah bersyukurlah jika kita ingin hidup sehat secara jasmani dan secara batinia karena hidup kita akan terganggu kalau kita selalu di liputi dengan ke susahan, harusnya kita selalu bersyukur dalam kondisi apapun.

Lagi-lagi saya akan memberikan sebuah kasus lagi kali ini adalah kasus yang menimpa diri saya sendiri saya adalah seorang siswa kelas 3 SMU sekarang ini saya baru saja menyelesaikan ujian nasional dan sekarang tinggal menunggu pengumuman.

Saat ujian tepatnya pada hari ke 4, mata pelajaran yang di ujikan adalah mata pelajaran Geografi, jumlah soal sekitar 40 nomor, sangat sedikit jumlah soal yang saya yakini kebenarannya, ditambah lagi banyak kesulitan lain sehingga saya memprediksikan diri saya tidak lulus ujian saat pengumuman nanti, tetapi di satu sisi saya tetap yakin.

Semakin yakinlah saya bahwa saya besar kemungkinan lulus ketika saya mendengarkan sebuah statemen dari Mas Arfan pradiansyah dari radio smart FM dalam acara smart happiness yang mengudara setiap jumat pagi, beliau mengatakan bahwa janganlah anda menilai sendiri benar atau salahnya hasil kerja yang anda lakukan karena semua di tentukan oleh nasib anda, tetapi saya juga siap untuk terima apa adanya ketika saya tidak lulus ujian karena saya tahu bahwa saya akan memperoleh sesuatu dari Allah.

Statemen ini saya keluarkan karena saya terinspirasi dari perkataan mas Arfan yang mengatakan bahwa haruslah kita bersyukur meskipun dan janganlah anda bersyukur karena dan iapun melanjutkan dengan sebuah statemen yang mengatakan bahwa ketika anda memperoleh anugerah dari tuhan semestinya anda bertanya keenapa mesti saya.

Tetapi ketika kita memperoleh musibah maka kita harus bertanya apa yang akan tuhan berikan kepada kita, mas arfan melanjutkan. Dari statemen beliau, saya juga merujuk pada salah satu ayat dalam surah al-baqara yang artinya adalah “tidaklah aku bebankan sebuah kesulitan kepada hambaku ketika mereka tidak sanggup untuk itu.”

Intinya, dari beberapa ilustrasi di atas, kita dapat mengatakan bahwa hidup sehat tidak harus dengan 4 sehat dan 5 sempurna tetapi juga di dukung oleh hal lain seperti kebahagiaan, yang tentu akan kita peroleh ketika kita memiliki ke dekatan terhadap sang khalik dan satu kata dari saya happy is verry importen of our life ditambah lagi dengan sebuah slogan dari mas arfan yang berbunyi if you wonna be happy be happy now.

Maksudnya, janganlah kamu menunggu kapan kamu bahagia tetapi bahagialah sekarang, tentu dengan mempelajari tips-tips serta ilustrasi yang telah saya kemukakan di atas yang dilengkapi dengan reverensi yang saya ambil dari berbagai literature seperti Pembelajar.com, Smart happiness, peristiwa yang saya alami, dan reverensi yang tidak terbantah lagi kebenarannya adalah ayat-ayat al-quran yang menjadi pedoman hidup.

BOSAN MAIN INTERNET

Oleh:Sujono sa’id

Alhamdulillah, karena setiap malam saya dapat browsing di internet, karena saya tahu kalau internet is the leding sorce and knowledge depelopmen in society today, karena saya banyak memperoleh informasi dari internet. Situs yang sering saya buka-buka adalah Wennyaulia.com, Aulia87.wordpress.com, Senyum sehat.wordpress.com, dan lain sebagainya, kadang-kadang kalau saya bosan saya langsung menuliskan isi hati saya tentang apa yang baru saja saya dapatkan, tetapi setiap hari saya selalu membuka situs andalan saya yaitu Eramuslim.com, sebab di sana saya memperoleh banyak perjalanan rohani kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan mereka-mereka.

Kadang-kadang, saya bosan dan memutar lagu-lagu yang ada di computer yang saya gunakan untuk menuliskan karya-karya saya, tetapi setiap malam saya masih selalu menyempatkan diri saya untuk browsing di internet, kadang-kadang kalau saya sudah kehabisan situs, saya sercing di google dengan menuliskan kata kunci apakah dengan menggunakan nama cewek andalan saya atau dengan menggunakan judul yang saya karang sendiri seperti Evi, Aulia, Fira, dan judul yang sering saya jadikan kata kunci adalah Artikel tentang medis dan kesehatan, Perilaku menyimpang, dan narkoba.

Ketika saya menuliskan nama Evi sebagai kata kunci di google, maka situs yang berhasil saya temukan antara lain Senyum sehat.wordpress.com, Psikonseling.blogspot.com, Gula aren.blogspot.com, dan lain sebagainya. Ketika saya menggunakan nama Fira sebagai kata kunci yang saya ketikkan di google, maka blog dan situs yang saya temukan antaralain Firabas.multiply.com, Firameutia.wordpress.com, dan lain sebagainya. Ketika saya menggunakan nama Aulia sebagai kata kunci di google, maka situs dan blog yang muncul salah satunya adalah situs dari SMU negeri 4 makassar.

Salah satu hal yang sangat terbilang lucu adalah ketika saya menemukan sebuah blog yang bernama Aulia87.wordpress.com, saya membayangkan bahwa Aulia blogger asal aceh yang sekarang tercatat sebagai pengurus dari aceh blogger community yang merupakan pemilik blog ini saya membayangkan dirinya adalah seorang cewek yang cantik, tetapi setelah saya membaca tulisannya yang berjudul khutbah jumat hari ini, barulah saya sadar bahwa Aulia yang satu ini adalah orang yang gagah bukan cantik.

Maklumlah, tunanetra yang dalam ilmu pendidikan luarbiasa memiliki karakter yang suka ber imajinasi yang ternyata apa yang di imajinasikan itu tidaklah mutlak kebenarannya, tetapi saya senang karena saya sering mempelajari banyak hal dari teman-teman blogger seperti Mas Aulia, Mba’wenny, Mas made, dan masih banyak lagi.

Saya sangat interes kepada teman-teman blogger, karena mereka menulis dari hati, meskipun ada juga yang hanya ngambil postingan dib log atau situs orang lain itu yang saya nggak suka, lebih bagus buatan teman-teman blogger ketimbang seorang blogger yang hanya pinter ngambil punya orang lain, utamanya dari kaum hawa.

Saya punya temuan, berdasarkan temuan saya, kalangan penulis dari kaum hawa memiliki isi tulisan yang bagus banget dan tolok ukur sebuah karya yang saya nilai sebagai karya yang bagus dari segi bahasa yang tidak tajam, kalimat yang di gunakan, dan lain sebagainya, berbeda dengan kaum laki-laki yang dalam menulis mereka sering menggunakan bahasa yang tajam dan kasar pula dan tidak pernah ada solusi di dalamnya. Temuan tersebut saya survey dari kalangan penulis media cetak dan blogger.

UJIAN AKHIR TINGGAL MENGHITUNG HARI

Oleh:Sujono sa’id

Al-hamdulillah, karena saya hari ini tepatnya pada tanggal 16-3-2009 saya masih dapat meng expresikan kegembiraan saya meskipun saya sedang dirundung oleh kesedihan, serta ditimpa oleh kesibukan untuk mengikuti ujian akhir nasional.

Di satu sisi saya sangat berbahagia, karena saya akan menammatkan pendidikan saya di SMU tetapi saya juga merasa sangat sedih, sebab saya harus melakukan kerja keras untuk melewati tantangan yang sangatlah berat, namun keyakinan saya tetap tumbuh bahwa saya akan tetap mampu untuk melewati tantangan demi tantangan.

Hal yang sering saya lakukan untuk kematangan persiapan ujian saya adalah mencari referensi, di internet, jika ada, membuka-buka kembali buku-buku pelajaran yang ada, mengikuti les di sekolah, dan berlatih soal-soal yang diujikan, serta berpasrah diri kepada Allah dan memohon maaf kepada kedua orang tua di kampung.

Saya tahu kalau doa orang tua adalah doa yang di ijabah oleh Allah, karena saya percaya bahwa doa orang tua sangat membantu sebab terbukti selama saya jauh dari orang tua, saya tidak pernah memperoleh kesusahan dalam menjalani kehidupan ini.

Dalam menghadapi ujian kali inipun saya juga masih memperoleh kekuatan dan seolah-olah saya memperoleh bisikan-bisikan kalau saya akan sangat berpeluang untuk lulus insya allah, semangat belajar saya juga sangat tinggi untuk menghadapi uan kali ini. Saya tahu kalau saya adalah manusia yang tidak pintar seperti manusia yang lainnya tetapi dengan modal kemauan, serta potensi yang ada dalam diri saya maka saya meyakini kalau saya mampu meraih sukses bahkan saya tidak punya cita-cita yang tinggi amat meskipun agama, dan motifator kita menginginkan kita bercita-cita setinggi langit tetapi, saya hanya ingin menjadi orang yang tidak bergantung pada orang lain.

Ujian akhir ibarat manusia yang sudah meninggal hanya di antar sampai ke kuburan sedangkan pengantarnya akan kembali kerumah, maksudnya kita sekarang ini sebelum ujian masih sering memperoleh bimbingan dari guru tetapi setelah proses ujian berlangsung, kita tidak memperoleh bantuan lagi dari guru tetapi hanya dibantu oleh skil atau wawasan dalam hal ini adalah materi yang didapat selama les.

Tahun ini, guru tidak akan mau lagi membantu kita, karena mereka sudah memperoleh efek jerah atas peristiwa SMU Tridarma dan Kartika candra kirana yang kini guru dan kepala sekolahnya dip roses ke meja hijau. Tahun ini pengawasan untuk Uan pun di perketat karena yang datang untuk mengawas adalah Dosen dari Unhas, Unem, dan team indefenden, jadi tidak adalagi yang akan membantu kita selain diri, orang tua, dan pertolongan Allah karena pengawasan sudah semakin diperketat tahun ini.

Saya kembali dihantui oleh tulisan dari kakanda Al-ustaz Aulia dalam blognya yang diberi judul pertanggung jawaban, dalam tulisannya beliau mengatakan bahwa ketika kita sudah berada di penghujung tahun, penghujung periode, atau penghujung waktu untuk kita untuk mengemban amanah kita akan tahu siapa diri kita sebenarnya, bahkan beliau kembali mengingatkan kita kepada firman Allah yang berisi demi waktu asar sesungguhnya manusia adalah orang yang merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yaitu orang yang mampu me manage waktunya dalam banyak hal. Semoga Allah membimbing saya menuju jalan yang ia kehendaki dan semoga saya dapat lulus dan maju ke perguruan tinggi untuk menempuh bangku kuliah amien.