Tampilkan postingan dengan label mybook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mybook. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

Kondisi Kampus

Oleh: Sujono sa'id Banyak hal yang akan saya ceritakan tentang kondisi di kampus saya diantaranya adalah perkenalan saya dengan teman teman saya di kampus. Sosok yang pertama kali yang saya kenal adalah Muslimin, setelah itu barulah saya lebih mengenal sosok Rezki Angraeni putri(ketua tingkat). Pertama kali saya betrtemu dengan Rezki, saya sangat rada malu-malu, namun saya selalu didekati oleh rezki, akhirnya sayapun akhirnya semakin akrab. Tibalah pada masa mit smester sayapun selalu mengkomunikasikan permasalahan saya kepada ketua tingkat andalan saya yaitu Rezki sang ketua tingkat. Dan akhirnya al-hamdulillah, sudah membuahkan hasil. Bahkan saya beberapa kali memperoleh surprise, Bahkan ketika saya akan menjalani ujian final, saya minta diantar dan dijembatani oleh ketua tingkat untuk bertemu dengan dekan fakultas hukum. Ternyata, ketika saya mengikuti final saya boleh didampingi oleh siapa saja hari pertama final, saya didampingi oleh ketua tingkat dan adik saya begitu juga dengan hari ke 2. Namun pada hari ke 3, saya kembali didampingi oleh adik saya, tetapi pada hari terakhir, saya didampingi oleh seorang teman saya untuk 2matakuliah yaitu Ilmu negara dan pengantar statistik, dan keduanya al-hamdulillah dapat diselesaikan. Saya setiap ujian selalu didampingi oleh ketua tingkat kalau ketua tingkat selesai duluan menjawab soal-soal tidak langsung keluar, tetapi tinggal sejenak untuk mendampingi saya. Subhanallah saya yakin kalau Aulia susantri akan tersenyum melihat saya bahagia dikawal oleh rezki angraeni putri sebagai rizki dari Allah yang harus saya jaga selama saya berada di kampus. Namun intinya, saya selama 1smester tidak pernah memperoleh masalah di dalam kampus

Kondisi lingkungan baruku

Oleh:Sujono sa’id

Saya(penulis) meninggalkan asrama tercintaku sejak tanggal 8-8-2009 untuk mengurus pendaftaran kampus. Dan ke esokan harinya, saya mengikuti test tepatnya pada tanggal 9 agustus2009. Empat jam setelah test sayapun dinyatakan lulus, ke esokan harinya saya mengurus pendaftaran ulang di fakultas yang akan menjadi tempat saya menuntut ilmu yaitu fakultas hukum universitas Indonesia timur. Setelah itu, saya dan adik saya mengurus KRS dan setelah 3 hari kemudian, saya melaksanakan puasa nazar atas kelulusan saya selama sehari sebagai rasa syukur saya kepada Allah.
Setelah semua urusan saya selesai, sayapun bertolak ke Selayar pada tanggal 17 agustus 2009 untuk menjalani ibadah puasa bersama dengan keluarga dan saya berada di sana selama sebulan. Setelah sebulan saya di Selayar, saya balik kembali ke Makassar pada tanggal 5-10-2009. Setelah sampai di Makassar, ke esokan harinya saya bertolak ke kampus untuk melihat-lihat jadwal dan melihat ruang kuliah yang akan menjadi tempat kuliah saya sejak awal sampai akhir kelak bersama dengan teman-teman saya. Ke esokan harinya tanggal 6 10-2009, saya langsung mengikuti kuliah perdana mata pelajaran Bahasa Indonesia yang hari itu baru memberikan aturan main atau kontrak kuliah.
Setelah selesai mengikuti kontrak kuliah, saya langsung mengikuti rangkaian daripada Latihan dasar kepemimpinan yang sudah menjadi pengganti daripada Operasi pengenalan Kampus(OSPEK) dan waktu itu yang mengisi kegiatan adalah kanda Anas batara yang merupakan ketua Panitia pelaksana daripada Latihan ke Mahasiswaan tersebut. Saya ter identivikasi sebagai seorang Tunanetra ketika saya mengikuti pengisian biodata dari panitia setelah beberapa hari kemudian sayapun mengikuti pengukuhan selama 2 hari. Pengukuhan tersebut berlangsung pada tanggal 10 Oktober.
Hari pertama pengukuhan, saya bersama dengan teman-teman sekelas dilepas dari kelas C 9 vakultas hukum menuju aula kampus 4 tepatnya pada lantai 5 bersama seluruh mahasiswa baru dari berbagai vakultas seperti Hukum,Sospol, Mipa, FKM, dan vakultas lain-lain.
Acara dihadiri oleh Badan eksekutif Mahasiswa dari berbagai vakultas, Presiden mahasiswa UIT, Pembantu Rektor 3 UIT, Mukhtar tompo alumni UIT yang sekarang ini telah menjadi anggota DPRD yang memperoleh kesempatan untuk membawakan orasi ilmiah yang menjadi bagian dari acara pengukuhan mahasiswa baru. Setelah seluruh acara pembukaan selesai, kamipun mengikuti acara covi break.
Setelah pengukuhan selesai, saya pulang ke rumah dengan kondisi sangat capek dan itulah awal dari perkembangan saya sebagai mahasiswa baru yang baru saja mengalami masa transisi. Awal mula saya tinggal ngekos bersama dengan adik saya beserta dengan teman-temannya, saya sangat belum menguasai medan lokasi perkuliahan, sehingga saya sering menjadi parasut bagi teman-teman adik saya. Tetapi setelah saya menguasai medan perkuliahan, sayapun akhirnya tidak bergantung lagi kepada mereka. Saya masuk kuliah menurut jadwal pukul 11.00, sedangkan adik saya dan teman-temannya masuk pukul 8 pagi, sebelum saya tahu jalanan ke kampus, saya sering ikut mereka, tetapi setelah saya tahu persis jalanan ke kampus saya akhirnya lebih terlambat sedikit dari mereka. Saya mau cerita sedikit tentang kondisi kos adik saya, utamanya tentang perlakuan dari teman kos dari adik saya sangat baik kepada saya selaku tunanetra, mereka juga sering memberikan motifasi kepada saya agar tidak dount dengan kenyataan yang telah Allah berikan kepada saya, dari motifasi mereka, saya telah memperoleh inspirasi untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi dari hari kemarin.
Yang mereka berikan, bukanlah hanya sekedar motifasi, tetapi yang mereka berikan juga adalah solusi tentang permasalahan saya sesuai dengan kemampuan mereka untuk membantu saya. Sedangkan di kampus, baik dari teman-teman Maba maupun senior juga selalu memberikan respon yang baik bagi saya selaku mahasiswa dari kalangan tunanetra bahkan mereka selalu memberikan motifasi bagi saya.
Mahasiswa yang akrab dengan saya selama di kampus adalah Ketua tingkat di kelas saya, saya sangat suka dengan kepribadian dari ketua tingkat saya. Keperibadiannya bahkan selalu membuat saya untuk melakukan fleshbak ke masalalu saya dengan sosok Aulia susantri yang kini juga telah menjadi seorang mahasiswa. Bagi saya, aulia adalah sosok yang inspiratif dia tidak pernah akan hilang dari ingatan saya, tetapi kalau orang-orang yang akan meneruskan keperibadian Aulia sangat banyak.
Di kampus, saya lebih dikenal dengan julu kan Master of English, karena kepasihan saya dalam melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa inggris. Saya tidak menyangka, kalau ketika saya berbicara dengan menggunakan bahasa inggris, akan membuat teman-teman saya yang sebenarnya dulu punya potensi tentang bahasa inggris dank arena sesuatu tertidur dan kini potensi itu muncul lagi, dengan metode yang saya gunakan yaitu metode praktikum atau langsung bercakap dengan mereka.
Bahkan ada salah satu di antara mereka namanya adalah Endang kurnia asal dari Mammuju. Saya ketahui bahwa Endang ternyata memiliki kemampuan dalam berbahasa inggris ketika saya makan bersama dengan dia. Kalimat yang ia ucapkan pertama kali adalah kalimat yang sering digunakan oleh seseorang yang akan memulai pidato bahasa inggrisnya secara spontan ketika saya mendengarnya saya langsung berkata” Endang! Jangan bohongi saya, kamu pasti juara satu lombapidato bahasa inggris”.
Sejak itu, saya dan endang dalam berkomunikasi lebih sering menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa rahasia setiap ada hal yang akan saya bicarakan dengannya agar tidak diketahui oleh teman-teman saya di kampus. Bahkan dengan seringnya saya menggunakan bahasa inggris, saya akhirnya pernah dipergoki oleh seorang dosen dan akhirnya sang dosen tersebut juga sering menggunakan bahasa inggris saat saya ditemui ole beliau pada momen perkuliahan.
Itulah sedikit tentang apa yang saya alami di dunia baru saya, mudah-mudahan saya akan menjadi sosok yang lebih baik lagi ketimbang sebelumnya. Sebelum saya memasuki lingkungan baru saya, begitu banyak kenangan saya selama saya di Yapti, kenangan saya yang tidak akan mungkin saya lupakan adalah kenangan saya ketika bersama dengan Aulia susantri sosok wanita inspiratif.
Saya juga pu nya banyak kenangan bersama dengan teman-teman relawan atau dikenal dengan istilah mitra bakti yang bertugas melakukan pendampingan terhadap kaum tunanetra dalam berbagai kegiatan baik kegiatan akademik maupun non akademik yaitu membacakan buku matapelajaran mereka, membacakan mereka buku yang akan menambah wawasan luar mereka, dan kegiatan non akademik yang lebih cenderung ber orientasi pada kegiatan activity dayly seperti minta diantar untuk beli buku di Gramedia, minta diantar untuk membeli sesuatu dan kegiatan lain yang dipersamakan dengan itu. Saya punya kenangan yang paling berkesan dengan mereka yang aktif mendampingi saya antara lain seperti Kanda Mustakim, Awaluddin, Eprilia Eka saputri(Evi), dan kanda Nurhaeda.
Hal yang berkesan adalah ketika saya didampingi oleh kanda Mustakim adalah canda dan tawa setiap kali mendampingi saya dalamhal memberikan ilmunya kepada saya tentang organisasi. Hal yang berkesan dengan Awaluddin adalah ketika saya meminta beliau untuk mendampingi saya kata yang lebih sering menjadi jawabannya adalah “belajarmako!”, sedangkan ketika saya didampingi oleh Evi padasaat ia membacakan saya sebuah buku yang berjudul Be emotionally intelegence adalah saat saya dibacakan sebuah isi buku tentang menjadi pribadi yang insulteble ia tiba-tiba mengakui hal-hal yang telah lama menjadi kebiasaan buruknya dan sertamerta menangis dan berjanji tidak akan membiarkan kebiasaan tersebut tinggal dalam dirinya, karena ia sadar jika dipelihara akan membuat kwalitas hidupnya menurun. Sedangkan ketika saya didampingi oleh kanda Nurhaida, saya lebih banyak belajar kepada beliau tentang banyak hal mengenai bahasa inggris, dan saya kini sangat terbantu dengannya.
Seperti itulah kenangan-kenangan terindah saya selama 6 tahun di Yapti, semoga bantuan mereka akan bermanfaat sampai akhir hayat mereka dan mereka akan memperoleh amal jariah mereka.

Minggu, 26 Juli 2009

Temukan titik terang

Oleh:Sujono sa’id

Alhamdulillah, semalam saya telah bertatap muka dengan mama saya. Apa yang menjadi hasil dari pembicaraan saya semalam, telah menjadi titik terang dan tentu keputusan yang telah dibawa oleh mama saya adalah hasil dari musyawarah dengan ayah saya, tante saya, dan lain-lain sebagainya. Pertemuan yang berlangsung di ruangan higher education Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia semalam telah memperoleh beberapa butir kesepakatan dan sebelumnya juga kembali terjadi perdebatan yang a lot.
Agenda yang sempat dibicarakan adalah mengenai mengapa saya tidak dibiarkan kuliah di unismu karena menurut adik saya, ongkos mobil terlalu mahal, dan harus 3 kali naik mobil. Setelah itu, saya angkat bicara dan tidak menyetujui apa yang sempat menjadi alas an dari adik saya. Setelah itu saya memberikan pandangan bahwa apa yang dikatakan itu sangatlah salah karena saya mendeskripsikan fakta bahwa kalau saya naik mobil ke kampus unismu kan lewat jalanan ke mallengkerikan jadi saya dari Yapti hanya dua kali pete-pete, karena saya dari Yapti ke masjid raya kemudian ambil mobil pete-pete jurusan Mallengkeri. Setelah itu, barulah mereka paham akan penjelasan saya.
Ternyata muncul lagi masalah baru, masalahnya papa saya, tante saya, dan beberapa om saya tidak menghendaki kalau saya ke unismu ngga’tau apa alasannya, tetapi karena saya masih menghargai mama, yang juga ingin menghargai papa, sebagai suaminya, dan om saya sebagai bagian dari rumpun keluarga, maka saya mengambil keputusan ini meskipun saya tahu kalau teman-teman saya dari korps pertuni akan tidak terlalu setuju dengan langkah ini, tetapi saya rasa inilah resiko yang harus saya hadapi.
Ada juga masalah lain yang sempat di angkat seperti labtob, sekarang adik saya sudah dibelikan dan saya juga bisa pakai labtop tersebut untuk mengerjakan tugas saya dan tinggal di instali jaws sebagai program yang akan mendukung kegiatan saya, selain itu skenner juga telah di siapkan sehingga, saya sudah dapat mengerjakan tugas-tugas saya tanpa harus ke Yapti untuk mengerjakannya, tetapi kalau mau informasi di internet, maka saya baru ke Yapti lagi atau kalau saya mau jalan-jalan saja barang kali.
Selain alas an aksesibilitas, saya juga tidak di izinkan untuk tinggal di Yapti lagi karena papa saya tidak akan mengizinkan saya kuliah kalau saya tidak mtinggal di rumah yang sudah ada di Daya mangga tiga. Saya sebenarnya sudah siap-siap untuk tidak kuliah, tetapi adik saya malah takut kalau suatu masa saya dituntut oleh papa saya dan saya malah menyalahkan papa saya jadi saya disuruh untuk kuliah saja tahun ini.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam, juga membahas tentang usaha agar saya mampu untuk melihat kembali dengan menggunakan kacamata, tetapi saya sudah berkeras, dan sudah bicara baik-baik untuk menolak secara halus, dan hamper-hampir lagi saya marah dibuatnya, tetapi saya merasa bahwa hal ini tidak boleh di selesaikan secara emosional, jadi saya mencoba untuk bertutur yang baik dengan konsideran saya sesuai dengan kemampuan saya. Dan al-hamdulillah berhasil.
Intinya, pertemuan di higher education room Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia, adalah hal yang sangat berkesan meskipun terkesan sangat a lot. Pertemuan tersebut berakhir dengan kata-kata perpisahan dan meminta maaf yang dimulai dari saya yang kemudian saya memperoleh tanggapan balik dari mama saya. Intinya, pertemuan semalam sangatlah berkesan. Saya juga sangat berterima kasih kepada tante saya yang sudah mau ambil bagian dalam mengurusi perkuliahan. Artinya mereka punya awayr.

Senin, 13 Juli 2009

Meski sakit aktivitas tetap jalan

Oleh: Sujono sa’id

Al-hamdulillah, saya masih hidup hari ini, karena hari ini saya masih dapat untuk melakukan aktivitas saya meski saya masih sakit akibat dari ulah saya pada waktu malam sabtu yang lalu, tetapi saya anggap itu adalah hal yang tidak membuat saya rapuh.
Hari ini saya tetap mandi pagi, kemudian saya mendengarkan motivasi dari Andrie wongso, sementara saya mendengarkan kuliah dari Andrie wongso saya tiba-tiba dipanggil ke rumah kanda makmur untuk menjemput beliau dan menggiringnya ke secretariat pertuni karena di sana menurut jadwal bakal ada rapat pada hari ini pukul 11 tepat membahas tentang pelatihan tata laksana organisasi pada masa itu.
Setelah rapat, saya langsung makan, dan kemudian latihan musik pada pukul 13 sampai dengan pukul 15 atau sebelum ashar. Setelah itu saya melanjutkannya dengan acara tidur siang di waktu sore hari karena tubuh saya sudah tidak tahan untuk duduk.
Sorenya, saya terbangun, dan mandi meskipun tubuh ini dalam keadaan demam kemudian melakukan shalat magrib. Setelah itu saya melanjutkan dengan menikmati secangkir kopi setelah magrib sambil mengatakan bahwa tubuh ini tidak boleh terkena penyakit tidak akan kubiarkan dia terkena penyakit, dan alhamdulillah, aktivitas saya hari ini tidak ada yang terganggu karena saya punya kemauan untuk menangkal penyakit itu.
Pada pukul 20.19, saat tulisan ini saya buat, saya masih merasa sedikit tidak fit, tetapi kan saya sudah minum obat jadi al-hamdulillah, saya tetap dapat membuat tulisan ini. Sungguh ini adalah sebuah anugerah, dan ini adalah sebuah tantangan bagi kita, saya rasa saya tidak boleh menyerah dengan kondisi apapun seperti pola hidup yang diterapkan oleh masyarakat jepang dan para pengusaha di jepang, saya kira itu juga yang terjadi dalam diri kaum intelektual yang kini telah mempunyai posisi yang wah, dimuliakan, dihormati, dan didamba-dambakan oleh setiap orang.
Dan ketika saya dalam kondisi seperti ini, saya lagi-lagi teringat pada tulisan yang dibuat oleh kanda Aulia di www.aulia87.wordpress.com yang berjudul betapa indah sakit ini. Bahkan kanda aulia juga meski dalam keadaan sakit tetapi masih flu ringan, beliau juga tetap kuliah, aktiv di mailis,, bem, dan organisasi-organisasi kemahasiswaan serta komunitas blogger aceh yang telah ia rintis meski di dunia maya, ia tidak bisa masuk kuliah, aktiv di organisasi, dan lain-lain ketika beliau betul-betul terbujur kaku.
Itulah sebabnya, ketika kita sedang dalam keadaan sakit, harusnya kita dalam keadaan enjoi saja, karena meski tubuh ini sakit, tetapi hati ini tetap dalam keadaan bahagia, insya allah kita akan terbantu untuk cepat sembuh dalam waktu beberapa hari.
Itulah apa yang menjadi bahan tulisan saya untuk hari ini, yang penting saya sudah berbagi dib log yang tercinta, semoga Allah memberikan saya kekuatan untuk selalu melakukan yang terbaik dan selalu mengisi hari-hari saya dengan kebaikan.
Saya juga berdoa kepada allah, semoga orang-orang yang saya cintai tetap dalam lindungan Allah dan tetap dalam keadaan sehat. Dan saya juga tidak lupa mendoakan diri saya yang sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan ini, semoga allah memberikan kesenangan dibalik semua itu, dan saya tetap dapat melaksanakan aktivitas seperti biasanya serta mengerjakan pekerjaan saya di organisasi yang saya cintai, meng updet blog, bercengkrama lewat facebook, dan melakukan kegiatan positif yang akan memberikan faidah yang wah! Dan akan memberikan output yang baik dan memuaskan.

Minggu, 12 Juli 2009

Rangkaian akhir pelatihan kader taruna melati satu

Oleh:Sujono sa’id

Semalam, tepatnya pada pukul 21 tepat, acara penutupanpun dimulai dengan serangkaian kegiatan seperti pemutaran film yang menceritakan tentang sosok penda’wa syekh salahuddin al-ayyubi yang melakukan da’wa dengan beragam tantangan.
Yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film yang memuat gambaran seperti apa potret dan jati diri muhammadiah sebelum saya dan seluruh kader IPM generasi sekarang lahir di permukaan bumi ini, kemudian dilanjutkan dengan petua-petua oleh Kanda ali hannafia selaku master of training, dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata kepada peserta terbaik dalam training, fasilitator yang berjasa dalam suksesi berlangsungnya training dengan modal awal 40.000 rupiah, penyerahan cendera mata kepada peserta yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan peserta lain. Tapi yang saya tidak mengerti apakah yang di maksud itu karena peserta yang satu ini adalah tunanetra, atau karena memang berbeda intelegensinya dengan yang lainnya, tetapi kalau dua aspek ini yang jadi kategori cocoklah karena menurut saya kedua-duanya benarlah adanya dia memiliki intelegensi yang tinggi meskipun memiliki kemampuan yang berbeda dengan para peserta training yang ada di lokasi. dan di akhiri dengan pemutaran sebuah film yang menceritakan bagaimana kondisi malam pertama di alam kubur.
Saat film tentang kondisi malam pertama di alam kubur di putar, saya bersama-sama dengan seluruh panitia mengikuti meting dengan agenda evaluasi kinerja panitia yang telah melaksanakan kegiatan selama 4 hari, dan agenda-agenda lain yang tentu berkaitan dengan rangkaian akhir dari training tersebut seperti follow up, dan lain sebagainya. Setelah rapat selesai, saya kemudian menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan teman-teman panitia yang merupakan alumni pelatihan kader taruna melati satu sejak angkatan saya pada tahun 2005-2007 dua tahun kemarin.
Tujuan diputarnya film tentang salahuddin al-ayyubi, dan potret jatidiri muhammadiah masa lalu, dimaksudkan agar generasi muda IPM, tahu bahwa dalam ber IPM dibutuhkan kesungguhan dalam melaksanakan da’wa yang tentu saja didukung juga dengan kesabaran dalam menghadapi tantangan globalisasi yang kian berat sekarang ini.
Saat film tentang sosok Ahmad dahlan diputar, saya akhirnya tahu tentang seperti apa awal mula berdirinya muhammadiah, dan seperti apa pula konsep dan pemikiran dari Sosok kiai haji ahmad dahlan sesungguhnya, dan tentu patutlah kita mengambil pelajaran untuk di contoh meskipun tidak harus sama persis dengan ahmad dahlan.
Beliau sebelum mendirikan Muhammadiah, juga sempat menjadi anggota budi utomo yang bertugas mengajarkan islam terhadap anak-anak pada masa itu. Dan selain ia adalah pengajar dia juga adalah seorang pengrajin batik yang ulek sehingga ia juga mampu untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya dan selebihnya harta yang ia miliki digunakan untuk berda’wa di jalan Allah dengan menda’wakan islam lewat pergerakan social atau yang dalam bahasa inggris dikenal dengan social movement.
Akhirnya tulisan inipun diakhiri dengan sebuah harapan agar kader-kader masa kini menjadi kader yang betul-betul sesuai dengan maksud terbentuknya IPM yaitu terbentuknya masyarakat yang ber ilmu dan di ridhoi allah dengan 4 pilar pergerakan yaitu keilmuan, social, keislaman, dan kekaderan. Semoga pula pengkaderan yang dilakukan setiap tahun bukanlah ajang ceremony belaka tetapi kita dapat melihat output.

Sabtu, 11 Juli 2009

IRM dan IPM dari segi terminologi

Oleh:Sujono sa’id

Pertama, saya mengucapkan syukur kepada Allah karena hari ini, saya sempat untuk menulis kembali tentang sebuah ide. Sebenarnya tentang hal yang satu ini, bukanlah suatu masalah tetapi saya tidak tahu mengapa saya tergila-gila mempermasalahkannya. Saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini berawal dari pertemuan saya dengan kanda Yusri salah seorang Senior PC IRM Tallo.
Kita tahu, bahwa IRM pasca mukhtamar di Boyolali telah menghasilkan berbagai keputusan salah satunya adalah perubahan status dari IRM ke IPM, tentu kalau kita menginterpretasi secara terminology istilah dari nama kedua singkatan dari organisasi ini, tentu tujuan, fisi, serta ke anggotaannya harus berubah, mari kita melihat, dan membandingkan kedua singkatan organisasi ini kita mulai dari IPM yaitu ikatan pelajar Muhammadiah.
Ikatan pelajar Muhammadiah jika di artikan maka organisasi ini hanya untuk para pelajar dari kalangan muhammadiah saja seperti siswa siswi dari sekolah Muhammadiah, mahasiswi dan maha siswa yang sedang berkuliah di universitas Muhammadiah, atau seorang pelajar yang kedua orang tuanya adalah warga muhammadiah.
Tetapi, ternyata selama IRM masih bernama IPM pada masa mudah ayah dan ibu kita dahulu dan masa pergerakan para tokoh muhammadiah yang sekarang ini telah memetik buah atas jeripayah mereka seperti kanda Hamsani kudus, Bapak Saiful Saleh, dan tokoh-tokoh muhammadiah terdahulu, tidaklah seperti teori yang saya jelaskan di atas, bahkan orang tua mereka kebanyakan dari kalangan biasa nggak ada yang special, meskipun secara de fakto mereka-mereka adalah pelajar di sekolah Muhammadiah.
Bahkan, ada juga barang satu atau dua orang yang bersekolah di sekolah non muhammadiah pada masa itu tetapi saat itu masih sangat sedikit. Tetapi setelah IPM mengalami masa transisi pada tahun 90, mereka sudah gencar melakukan rekruitmen kader di sekolah-sekolah non muhammadiah khususnya di sekolah-sekolah negeri.
Selama IPM menjadi IRM pada tahun 1990-an, sampai tahun 2007 saya memandang bahwa kedudukan organisasi ini mirip dengan kedudukan organisasi intra sekolah atau osis, karena dari kebijakan sekolah muhammadiah dikatakan bahwa selama siswa dan siswi sekolah Muhammadiah tidak mengikuti pengkaderan paling tidak PK TM-1 atau Pelatihan kader taruna melati 1 yang dilanjutkan dengan follow up dan tidak memperoleh sertifikat atau tanda bukti kalau mereka telah mengikuti pengkaderan mereka tidak akan memperoleh ijazah mereka setelah tammat kelak. Saya sempat menyimpulkan bahwa IRM dikembalikan menjadi IPM, karena para penggagas status ini ingin menyamakan kedudukan mereka dengan organisasi intra sekolah meskipun kalau saya fikir-fikir, osis skalanya kecil sedangkan organisasi yang satu ini skalanya besar.
Saya tiba-tiba menyimpulkan demikian, sebab sayapun meliliki dasar yang menurut saya agaklah kuat yaitu ketika saya mengikuti konferensi pimpinan cabang IRM kota makassar dikeluarkan sebuah rekomendasi yang salah satu item nya adalah menjadikan IRM sebagai organisasi pelajar dikalangan siswa sekolah muhammadiah.
Namun, dari segi fisi dan misi, sejak IPM masih bernama IPM pada tahun 60-an sampai mengalami perubahan ke masa IRM dan akhirnya kembali menjadi IPM tidaklah berubah yaitu menjadikan remaja muslim yang ber ilmu dan ber akhlak mulia dan di ridhoi Allah. Wajarlah kalau IRM atau IPM memiliki fisi yang demikian, sebab saya ingat betul ketika saya masih memiliki kiprah di organisasi tersebut, banyak orang-orang cerdas yang dibentuknya, banyak peribadi-peribadi yang menurut saya adalah manusia-manusia yang berakhlak mulia karena dibentuk oleh misi nya yaitu pengkaderan.
Ketika saya masi aktif di kepengurusan IRM sekitar 4 tahun yang lalu, saya selalu melihat anak-anak IRM di lokasi-lokasi training melakukan aktifitas membaca buku kalau lagi sedang istirahat karena tidak ada administrasi atau konsumsi yang lagi di kerjakan atau nggak ada tugas untuk bawa materi, sejak saya masih aktif di IRM, saya juga sering banyak menemukan warga IRM yang memiliki kemampuan menulis artikel, puisi, atau cerita, bahkan sampai naskah teater sekalipun mampu mereka buat.
Anak-anak IRM yang memiliki kebiasaan seperti ini hanya dimiliki oleh mereka yang tingkatan pengkaderannya lebih tinggi yaitu mulai dari lepasan Taruna melati dua, sampai dengan lepasan pelatihan fasilitator dan pendampingan satu(PFP-1), itulah sehingga ketika saya mengunjungi lokasi training dan masuk ke ruangan fasilitator saya sering menjumpai banyak buku yang bertebaran di meja-meja fasilitator.
Dari hasil temuan saya, saya dapat menyimpulkan bahwa fisi bukanlah sekedar fisi, tetapi sudah terwujud dan memiliki hasil, dari situlah saya menyimpulkan pula bahwa mungkin inilah makna akan sebuah moto IRM yang di ambil dari ayat pertama surah al-qalam yang berbunyi “ nun demi pena dan segala apa yang dituliskannya”, sebab banyak diantara mereka yang berhasil menjadi penulis, menjadi kaum intelek, dan kaum terpandang di mata masyarakat, karena kerajinan membaca dan dari apa yang mereka baca dan mereka simpulkan dari buku-buku bacaan mereka dituangkannya dalam tulisan.
Meskipun saya sudah tidak aktif lagi di IRM yang kini telah kembali ke fitrahnya namun saya tetap menaru hati pada organisasi tersebut, karena di situlah saya terbentuk, disitulah saya belajar, dan disitulah saya mengerti akan arti kehidupan yang keras bak kerikil-kerikil yang begitu tajam, dan melalui IRM yang kini telah menjadi IPM membentuk saya menjadi pemikir-pemikir yang buah pikirannya ditumpahkan melalui tulisan-tulisan sesuai dengan kemampuan, meskipun masih melewati sebuah proses.
Tentang terminology-terminologi tadi saya fikir, itu hanya kekonyolan saya saja bukan karena apa-apa tetapi mungkin tidak tahu kapan waktunya semua akan saya ketahui titik terangnya karena semua itu akan melewati sebuah masa.