Oleh:Sujono sa’id
Hari ini jumat 17 Juli 2009, tepat pada pukul 7. 45 pagi, waktu Indonesia barat 2 hotel diluluh lantakkan oleh ledakan bom, dan kembali menelan korban jiwa dan ada sekitar 11 orang yang baru diketahui meninggal dunia salah satu diantaranya adalah seorang direktur sebuah perusahaan yang kemudian menghembuskan nafas terakhir pada saat ia dirawat di rumah sakit, 6 orang meninggal di lokasi kejadian perkara.
Dengan peristiwa ini, saya kembali disadarkan bahwa bencana, ajal dan lain-lain akan kita temui dimanapun dan dalam kondisi apapun, dan siapa serta apapun status yang ia sandang. Seperti itulah ternyata dalam kehidupan ini. Allah tidak membeda-bedakan hambanya sesuai dengan firmannya yang berbunyi sesungguhnya orang paling mulia adalah orang yang memiliki takwa. Begitupun dengan kematian, ketika seseorang nyawanya telah di cabut, meskipun ia adalah pejabat maka ia juga akan tidur ditanah.
Begitu juga dengan bencana yang kita hindari, tetapi ketika Allah menghendaki kita untuk terkena oleh bencana tersebut, maka kita tetap akan dilanda olehnya. Tetapi ada banyak hal yang tidak saya mengerti dengan munculnya bencana di negeri ini kalau ada yang mengatakan ini adalah sebuah ujian, tidak salah juga, karena di Indonesia juga masih banyak orang-orang yang mau mengingat Allah. Kalau kita ingin mengatakan bahwa bencana yang melanda negeri ini adalah hukuman, tentu tidak salah juga karena hukuman bagi warga Indonesia yang belum mau taat kepada Allah.
Okeylah, mungkin taat kepada allah dalam hal melaksanakan perintahnya, tetapi masih banyak penyimpangan yang dilakukannya, dan ketika mereka diberi tahu bahwa ini haram, bid’ah, musyrik, maka mereka tidak mau meng indahkan worning tersebut, sehingga wajarlah kalau kita ingin mengatakan bahwa ini adalah sebuah hukuman.
Ketika kita ingin mengatakan bahwa bencana yang melanda negeri ini adalah peringatan, maka itu juga tidak salah. Ini disebabkan karena mungkin kita sudah terlalu lalai, atau mungkin juga kita sudah terlalu larut terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, atau mungkin peringatan bagi kita yang tidak pernah akur dan selalu ber seteru ketika ada sesuatu yang ingin di bicarakan dan dengan cara yang tak ber etika.
Tetapi kesimpulannya adalah bencana yang menimpa Indonesia adalah ujian bagi yang beriman, peringatan bagi yang lalai, dan hukuman bagi pelanggar. Mengapa kesimpulannya demikian? Sebab nenurut analisa saya, di Indonesia sudah banyak orang yang melanggar seperti melakukan penyimpangan mulai dari yang berskala kecil sampai yang besar mulai dari keseringan mengkritik orang lain tetapi tidak mampu mengkritik diri sendiri, melakukan penyimpangan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran islam, penyimpangan dalam bentuk perampasan apa yang menjadi hak orang lain alias korupsi, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya yang telah sering terjadi di negeri ini.
Ujian bagi yang beriman, karena di Negara kita ini masih banyak hamba Allah yang mau melaksanakan ibadah, majelis ilmu juga masih banyak yang di galakkan, usaha da’wa juga masih sering di jalankan sungguh ini adalah ujian bagi yang beriman untuk mengetahui bagai mana mereka memberikan respon atas sebuah kondisi yang terjadi di tanah air kita apakah mereka masih akan tetap istikomah?, atau berpaling karena merasa tuhan tidak adil?, atau mereka berkeyakinan bahwa kondisi mereka akan lebih baik setelah mereka menghadapi ujian yang di ujikan kepada mereka sebagai mu’min?. Jawabannya saya rasa sangatlah sederhana kita hanya bisa berkata wallahua’lam.
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Juli 2009
Kamis, 16 Juli 2009
Kerja, da’wa dan ibadah
Oleh:Sujono sa’id
Kita sebagai seorang muslim, hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, sesuai dengan al-quran surah azzariat ayat 56 yang berbunyi tidaklah aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, maka marilah kita untuk selalu beribadah kepada Allah dengan cara yang telah diatur oleh agama.
Selain ibadah, untuk memperoleh rezeki dari Allah, maka kita juga harus ikhtiar dengan melakukan pekerjaan yang tentu saja halal dan baik bukan haram dan menyiksa diri sampai masuk penjara belum lagi disiksa di pengadilan akhirat. Begitupun dengan berda’wa, sebab da’wa jika tidak ditunjang dengan pekerjaan, maka tidak akan mungkin berhasil, karena kita tidak akan mampu untuk melakukan da’wa.
Mengapa? Sebab da’wa tidak hanya dalam bentuk ceramah dimasjid, tetapi juga dilakukan dalam bentuk lain seperti da’wa social yaitu dengan harta, social movement, dan melakukan da’wa dalam bentuk interaksi social dalam masyarakat dalam bentuk komunikasi seperti yang telah saya ceritakan dalam postingan 2 hari sebelumnya.
Sosial movement, adalah da’wa social yang dilakukan dengan menggunakan harta serta mengorbankan harta kita dengan melakukan pergerakan social seperti membangun masjid, pesantrwen, organisasi da’wa, dan menyantuni anak-anak yatim, orang miskin, orang yang tidak mampu dari segi fisik, dan orang-orang yang membutuhkan bantuan lainnya yang dengan catatan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin didengarkan.
Maerih kita lihat cermin penda’wa seperti Kiai ahmad dahlan yang telah berhasil mendirikan Muhammadiah sebagai organisasi da’wa , tetapi ia juga tetap bekerja sebagai guru dan peng rajin batik, sehingga ia berhasil melakukan social movement. Selain ibadah, da’wa, maka ia juga tetap bekerja sehingga meskipun ia berda’wa, perekonomian keluarganya tetap tercukupi sehingga tidak ada keluarga mereka yang kelaparan.
Begitupun juga dengan ikhwa-ikhwa kita yang aktiv melakukan da’wa dengan berjalan dari rumah ke rumah untuk mengajak kaum muslimin untuk kembali ke jalan Allah dengan iman dan amal, mereka juga mengeluarkan harta, tetapi bukan berarti mereka melupakan keluarganya. Mereka berda’wa dalam sebuah daerah selama 3 hari, selebihnya ia gunakan untuk mencari nafka untuk keluarga, dan kepentingan da’wanya.
Tetapi dari ilustrasi yang telah saya gambarkan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa bekerja, da’wa dan ibadah memang diwajibkan dalam islam dan didukung oleh dalil-dalil berikut ini “ hai orang-orang yang beriman, lakukanlah shalat jum’at kemudian bertebaranlah kalian dipermukaan bumi Allah untuk mencari rezeki”. Ditambah lagi dengan salah satu ayat dari surah ar-ra’du ayat 11 yang berbunyi “tidaklah aku merubah nasib suatu kaum kecuali ia sendiri yang melakukan perubahan dalam dirinya.”
Maka dari ayat tersebut, maka jelaslah bahwa kita tidak boleh bekerja saja tanpa berdo’a dan tidak boleh juga berdo’a saja tanpa mau untuk melakukan suatu usaha untuk menjemput rezeki yang telah diberikan oleh Allah untuk kehidupan kita selama kita berada di dunia. Lagi-lagi saya kembali hanya ingin mengajak siapa saja yang membaca blog ini supaya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam kehidupan ini, sebab waktu itu adalah pedang, ketika kita sendiri tidak mampu memanfaatkan pedang itu, maka kita sendiri yang akan ditikam oleh pedang tersebut. Semoga Allah, memberikan kita kebahagiaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini apalagi kita juga menjalankan kehidupan dengan konsep yang telah di atur oleh qur-an dan hadis nabi Muhammad.
Kita sebagai seorang muslim, hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, sesuai dengan al-quran surah azzariat ayat 56 yang berbunyi tidaklah aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, maka marilah kita untuk selalu beribadah kepada Allah dengan cara yang telah diatur oleh agama.
Selain ibadah, untuk memperoleh rezeki dari Allah, maka kita juga harus ikhtiar dengan melakukan pekerjaan yang tentu saja halal dan baik bukan haram dan menyiksa diri sampai masuk penjara belum lagi disiksa di pengadilan akhirat. Begitupun dengan berda’wa, sebab da’wa jika tidak ditunjang dengan pekerjaan, maka tidak akan mungkin berhasil, karena kita tidak akan mampu untuk melakukan da’wa.
Mengapa? Sebab da’wa tidak hanya dalam bentuk ceramah dimasjid, tetapi juga dilakukan dalam bentuk lain seperti da’wa social yaitu dengan harta, social movement, dan melakukan da’wa dalam bentuk interaksi social dalam masyarakat dalam bentuk komunikasi seperti yang telah saya ceritakan dalam postingan 2 hari sebelumnya.
Sosial movement, adalah da’wa social yang dilakukan dengan menggunakan harta serta mengorbankan harta kita dengan melakukan pergerakan social seperti membangun masjid, pesantrwen, organisasi da’wa, dan menyantuni anak-anak yatim, orang miskin, orang yang tidak mampu dari segi fisik, dan orang-orang yang membutuhkan bantuan lainnya yang dengan catatan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin didengarkan.
Maerih kita lihat cermin penda’wa seperti Kiai ahmad dahlan yang telah berhasil mendirikan Muhammadiah sebagai organisasi da’wa , tetapi ia juga tetap bekerja sebagai guru dan peng rajin batik, sehingga ia berhasil melakukan social movement. Selain ibadah, da’wa, maka ia juga tetap bekerja sehingga meskipun ia berda’wa, perekonomian keluarganya tetap tercukupi sehingga tidak ada keluarga mereka yang kelaparan.
Begitupun juga dengan ikhwa-ikhwa kita yang aktiv melakukan da’wa dengan berjalan dari rumah ke rumah untuk mengajak kaum muslimin untuk kembali ke jalan Allah dengan iman dan amal, mereka juga mengeluarkan harta, tetapi bukan berarti mereka melupakan keluarganya. Mereka berda’wa dalam sebuah daerah selama 3 hari, selebihnya ia gunakan untuk mencari nafka untuk keluarga, dan kepentingan da’wanya.
Tetapi dari ilustrasi yang telah saya gambarkan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa bekerja, da’wa dan ibadah memang diwajibkan dalam islam dan didukung oleh dalil-dalil berikut ini “ hai orang-orang yang beriman, lakukanlah shalat jum’at kemudian bertebaranlah kalian dipermukaan bumi Allah untuk mencari rezeki”. Ditambah lagi dengan salah satu ayat dari surah ar-ra’du ayat 11 yang berbunyi “tidaklah aku merubah nasib suatu kaum kecuali ia sendiri yang melakukan perubahan dalam dirinya.”
Maka dari ayat tersebut, maka jelaslah bahwa kita tidak boleh bekerja saja tanpa berdo’a dan tidak boleh juga berdo’a saja tanpa mau untuk melakukan suatu usaha untuk menjemput rezeki yang telah diberikan oleh Allah untuk kehidupan kita selama kita berada di dunia. Lagi-lagi saya kembali hanya ingin mengajak siapa saja yang membaca blog ini supaya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam kehidupan ini, sebab waktu itu adalah pedang, ketika kita sendiri tidak mampu memanfaatkan pedang itu, maka kita sendiri yang akan ditikam oleh pedang tersebut. Semoga Allah, memberikan kita kebahagiaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini apalagi kita juga menjalankan kehidupan dengan konsep yang telah di atur oleh qur-an dan hadis nabi Muhammad.
Minggu, 12 Juli 2009
Rangkaian akhir pelatihan kader taruna melati satu
Oleh:Sujono sa’id
Semalam, tepatnya pada pukul 21 tepat, acara penutupanpun dimulai dengan serangkaian kegiatan seperti pemutaran film yang menceritakan tentang sosok penda’wa syekh salahuddin al-ayyubi yang melakukan da’wa dengan beragam tantangan.
Yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film yang memuat gambaran seperti apa potret dan jati diri muhammadiah sebelum saya dan seluruh kader IPM generasi sekarang lahir di permukaan bumi ini, kemudian dilanjutkan dengan petua-petua oleh Kanda ali hannafia selaku master of training, dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata kepada peserta terbaik dalam training, fasilitator yang berjasa dalam suksesi berlangsungnya training dengan modal awal 40.000 rupiah, penyerahan cendera mata kepada peserta yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan peserta lain. Tapi yang saya tidak mengerti apakah yang di maksud itu karena peserta yang satu ini adalah tunanetra, atau karena memang berbeda intelegensinya dengan yang lainnya, tetapi kalau dua aspek ini yang jadi kategori cocoklah karena menurut saya kedua-duanya benarlah adanya dia memiliki intelegensi yang tinggi meskipun memiliki kemampuan yang berbeda dengan para peserta training yang ada di lokasi. dan di akhiri dengan pemutaran sebuah film yang menceritakan bagaimana kondisi malam pertama di alam kubur.
Saat film tentang kondisi malam pertama di alam kubur di putar, saya bersama-sama dengan seluruh panitia mengikuti meting dengan agenda evaluasi kinerja panitia yang telah melaksanakan kegiatan selama 4 hari, dan agenda-agenda lain yang tentu berkaitan dengan rangkaian akhir dari training tersebut seperti follow up, dan lain sebagainya. Setelah rapat selesai, saya kemudian menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan teman-teman panitia yang merupakan alumni pelatihan kader taruna melati satu sejak angkatan saya pada tahun 2005-2007 dua tahun kemarin.
Tujuan diputarnya film tentang salahuddin al-ayyubi, dan potret jatidiri muhammadiah masa lalu, dimaksudkan agar generasi muda IPM, tahu bahwa dalam ber IPM dibutuhkan kesungguhan dalam melaksanakan da’wa yang tentu saja didukung juga dengan kesabaran dalam menghadapi tantangan globalisasi yang kian berat sekarang ini.
Saat film tentang sosok Ahmad dahlan diputar, saya akhirnya tahu tentang seperti apa awal mula berdirinya muhammadiah, dan seperti apa pula konsep dan pemikiran dari Sosok kiai haji ahmad dahlan sesungguhnya, dan tentu patutlah kita mengambil pelajaran untuk di contoh meskipun tidak harus sama persis dengan ahmad dahlan.
Beliau sebelum mendirikan Muhammadiah, juga sempat menjadi anggota budi utomo yang bertugas mengajarkan islam terhadap anak-anak pada masa itu. Dan selain ia adalah pengajar dia juga adalah seorang pengrajin batik yang ulek sehingga ia juga mampu untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya dan selebihnya harta yang ia miliki digunakan untuk berda’wa di jalan Allah dengan menda’wakan islam lewat pergerakan social atau yang dalam bahasa inggris dikenal dengan social movement.
Akhirnya tulisan inipun diakhiri dengan sebuah harapan agar kader-kader masa kini menjadi kader yang betul-betul sesuai dengan maksud terbentuknya IPM yaitu terbentuknya masyarakat yang ber ilmu dan di ridhoi allah dengan 4 pilar pergerakan yaitu keilmuan, social, keislaman, dan kekaderan. Semoga pula pengkaderan yang dilakukan setiap tahun bukanlah ajang ceremony belaka tetapi kita dapat melihat output.
Semalam, tepatnya pada pukul 21 tepat, acara penutupanpun dimulai dengan serangkaian kegiatan seperti pemutaran film yang menceritakan tentang sosok penda’wa syekh salahuddin al-ayyubi yang melakukan da’wa dengan beragam tantangan.
Yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film yang memuat gambaran seperti apa potret dan jati diri muhammadiah sebelum saya dan seluruh kader IPM generasi sekarang lahir di permukaan bumi ini, kemudian dilanjutkan dengan petua-petua oleh Kanda ali hannafia selaku master of training, dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata kepada peserta terbaik dalam training, fasilitator yang berjasa dalam suksesi berlangsungnya training dengan modal awal 40.000 rupiah, penyerahan cendera mata kepada peserta yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan peserta lain. Tapi yang saya tidak mengerti apakah yang di maksud itu karena peserta yang satu ini adalah tunanetra, atau karena memang berbeda intelegensinya dengan yang lainnya, tetapi kalau dua aspek ini yang jadi kategori cocoklah karena menurut saya kedua-duanya benarlah adanya dia memiliki intelegensi yang tinggi meskipun memiliki kemampuan yang berbeda dengan para peserta training yang ada di lokasi. dan di akhiri dengan pemutaran sebuah film yang menceritakan bagaimana kondisi malam pertama di alam kubur.
Saat film tentang kondisi malam pertama di alam kubur di putar, saya bersama-sama dengan seluruh panitia mengikuti meting dengan agenda evaluasi kinerja panitia yang telah melaksanakan kegiatan selama 4 hari, dan agenda-agenda lain yang tentu berkaitan dengan rangkaian akhir dari training tersebut seperti follow up, dan lain sebagainya. Setelah rapat selesai, saya kemudian menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan teman-teman panitia yang merupakan alumni pelatihan kader taruna melati satu sejak angkatan saya pada tahun 2005-2007 dua tahun kemarin.
Tujuan diputarnya film tentang salahuddin al-ayyubi, dan potret jatidiri muhammadiah masa lalu, dimaksudkan agar generasi muda IPM, tahu bahwa dalam ber IPM dibutuhkan kesungguhan dalam melaksanakan da’wa yang tentu saja didukung juga dengan kesabaran dalam menghadapi tantangan globalisasi yang kian berat sekarang ini.
Saat film tentang sosok Ahmad dahlan diputar, saya akhirnya tahu tentang seperti apa awal mula berdirinya muhammadiah, dan seperti apa pula konsep dan pemikiran dari Sosok kiai haji ahmad dahlan sesungguhnya, dan tentu patutlah kita mengambil pelajaran untuk di contoh meskipun tidak harus sama persis dengan ahmad dahlan.
Beliau sebelum mendirikan Muhammadiah, juga sempat menjadi anggota budi utomo yang bertugas mengajarkan islam terhadap anak-anak pada masa itu. Dan selain ia adalah pengajar dia juga adalah seorang pengrajin batik yang ulek sehingga ia juga mampu untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya dan selebihnya harta yang ia miliki digunakan untuk berda’wa di jalan Allah dengan menda’wakan islam lewat pergerakan social atau yang dalam bahasa inggris dikenal dengan social movement.
Akhirnya tulisan inipun diakhiri dengan sebuah harapan agar kader-kader masa kini menjadi kader yang betul-betul sesuai dengan maksud terbentuknya IPM yaitu terbentuknya masyarakat yang ber ilmu dan di ridhoi allah dengan 4 pilar pergerakan yaitu keilmuan, social, keislaman, dan kekaderan. Semoga pula pengkaderan yang dilakukan setiap tahun bukanlah ajang ceremony belaka tetapi kita dapat melihat output.
Sabtu, 11 Juli 2009
Interaksi sosial kaitannya dengan Islam
Oleh: Sujono sa’id
Sadarkah kita bahwa kita hidup di dunia ini sebagai seorang makhluk social, dimana kita selalu membutuhkan bantuan dari sesama manusia. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk social secara penuh, maka tentulah kita merasa bahwa interaksi adalah hal yang sangat penting bagi kita, sebab tanpa interaksi, maka kita akan memperoleh kesusahan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini.
Dengan adanya interaksi, maka kita dapat memenuhi kebutuhan kita, misalnya ketika kita tidak mempunyai uang, maka kita mengunjungi bank, dan ketika sampai di bank, maka yang di temui adalah petugas bank tempat kita mengambil uang kita.
Atau saya akan memberikan contoh lain jika dalam suatu pasar, terdapat dua komponen yaitu penjual dan pembeli, sang penjual menawarkan barangnya dan sipembeli membeli barang tersebut, maka terjadilah sebuah kegiatan yang dikenal dengan interaksi.
Dari uraian di atas, maka saya akan menyampaikan firman Allah dalam surah al-zalzalah yang berbunyi jika kamu berbuat kebajikan, maka sebesar zarrapun akan diperhitungkan, tetapi ketika berbuat jelek, maka sebesar zarrah juga akan di hitung.
Dalam salah satu hadis nabi juga dikatakan bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan di bawah berarti tangan yang memberi lebih baik dari pada tangan yang selalu meminta. Begitulah islam mengajarkan kepada kita dalam hal interaksi social.
Rasulullah, dalam sebuah hadisnya mengemukakan hak-hak dan kewajiban seorang muslim yaitu apabila mereka mengundang, maka hadirilah undangan mereka, apabila mereka sakit, maka jenguklah mereka, apa bila mereka meninggal antarkanlah jenazahnya sampai ke tempat peristirahatan yang terakhir. Dari poin-poin diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa seperti inilah gambaran akan sebuah interaksi.
Secara realita, kita selaku manusia diciptakan di bumi ini dalam keadaan yang beraneka ragam dari segi pandangan, tingkat intelegensi, stratifikasi, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Dari kondisi ini, maka kita harus menyikapi secara bijak dan arif akan perbedaan dintara kita sebab melalui perbedaan, maka akan terjadi sebuah interaksi.
Hal ini saya katakan sebab, dengan interaksi kebetuhan kita akan dapat terpenuhi, sebab bukan kah kita tahu kalau kita ini adalah makhluk social yang selalu berada dalam ketergantungan. Dengan perbedaan stratifikasi misalnya ada sekelompok orang yang kaya dan ada lagi sekelompok orang yang miskin, maka tentu kelompok orang-orang miskin inilah yang akan menjadi lading amal mereka, sehingga ketika kelompok orang-orang kaya ini memberikan sebahagian hartanya kepada kelompok orang-orang miskin, dan kelompok yang menerima mendoakan si pemberi, maka lagi-lagi sudah merupakan gambaran akan interaksi social antara mereka dalam kehidupan ber islam.
Tidakkah terfikir oleh kita, bahwa zakat baik fitrah maupun zakat mal, kurban, infak, sadaqah, serta waqaf. juga sudah merupakan media interaksi social bagi kaum muslimin, sebab ketika kita memberikan zakat, infak, kurban, waqaf, dan sadaqah. dan ternyata kebutuhan mereka terpenuhi, hati kitapun senang dan bersyukur, maka terjadilah hubungan timbale balik. Interaksi sesama muslim, akan lebih berbobot ketika dalam interaksi dilakukan secara ikhlas dan tujuan atau future oriented kita hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain-lain maka itulah bobot sebuah kegiatan interaksi.
Interaksi sosial kaitannya dengan Islam
Sadarkah kita bahwa kita hidup di dunia ini sebagai seorang makhluk social, dimana kita selalu membutuhkan bantuan dari sesama manusia. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk social secara penuh, maka tentulah kita merasa bahwa interaksi adalah hal yang sangat penting bagi kita, sebab tanpa interaksi, maka kita akan memperoleh kesusahan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini.
Dengan adanya interaksi, maka kita dapat memenuhi kebutuhan kita, misalnya ketika kita tidak mempunyai uang, maka kita mengunjungi bank, dan ketika sampai di bank, maka yang di temui adalah petugas bank tempat kita mengambil uang kita.
Atau saya akan memberikan contoh lain jika dalam suatu pasar, terdapat dua komponen yaitu penjual dan pembeli, sang penjual menawarkan barangnya dan sipembeli membeli barang tersebut, maka terjadilah sebuah kegiatan yang dikenal dengan interaksi.
Dari uraian di atas, maka saya akan menyampaikan firman Allah dalam surah al-zalzalah yang berbunyi jika kamu berbuat kebajikan, maka sebesar zarrapun akan diperhitungkan, tetapi ketika berbuat jelek, maka sebesar zarrah juga akan di hitung.
Dalam salah satu hadis nabi juga dikatakan bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan di bawah berarti tangan yang memberi lebih baik dari pada tangan yang selalu meminta. Begitulah islam mengajarkan kepada kita dalam hal interaksi social.
Rasulullah, dalam sebuah hadisnya mengemukakan hak-hak dan kewajiban seorang muslim yaitu apabila mereka mengundang, maka hadirilah undangan mereka, apabila mereka sakit, maka jenguklah mereka, apa bila mereka meninggal antarkanlah jenazahnya sampai ke tempat peristirahatan yang terakhir. Dari poin-poin diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa seperti inilah gambaran akan sebuah interaksi.
Secara realita, kita selaku manusia diciptakan di bumi ini dalam keadaan yang beraneka ragam dari segi pandangan, tingkat intelegensi, stratifikasi, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Dari kondisi ini, maka kita harus menyikapi secara bijak dan arif akan perbedaan dintara kita sebab melalui perbedaan, maka akan terjadi sebuah interaksi.
Hal ini saya katakan sebab, dengan interaksi kebetuhan kita akan dapat terpenuhi, sebab bukan kah kita tahu kalau kita ini adalah makhluk social yang selalu berada dalam ketergantungan. Dengan perbedaan stratifikasi misalnya ada sekelompok orang yang kaya dan ada lagi sekelompok orang yang miskin, maka tentu kelompok orang-orang miskin inilah yang akan menjadi lading amal mereka, sehingga ketika kelompok orang-orang kaya ini memberikan sebahagian hartanya kepada kelompok orang-orang miskin, dan kelompok yang menerima mendoakan si pemberi, maka lagi-lagi sudah merupakan gambaran akan interaksi social antara mereka dalam kehidupan ber islam.
Tidakkah terfikir oleh kita, bahwa zakat baik fitrah maupun zakat mal, kurban, infak, sadaqah, serta waqaf. juga sudah merupakan media interaksi social bagi kaum muslimin, sebab ketika kita memberikan zakat, infak, kurban, waqaf, dan sadaqah. dan ternyata kebutuhan mereka terpenuhi, hati kitapun senang dan bersyukur, maka terjadilah hubungan timbale balik. Interaksi sesama muslim, akan lebih berbobot ketika dalam interaksi dilakukan secara ikhlas dan tujuan atau future oriented kita hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain-lain maka itulah bobot sebuah kegiatan interaksi.
Interaksi sosial kaitannya dengan Islam
Langganan:
Postingan (Atom)
