Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2008

Mengisi lembaran kosong di hari ke delapan Ramadan Oleh: Sujono sa’id

Senin 8 September 2008, hari itu setelah shalat subhu saya(penulis) melaksanakan sebuah kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan, yang selain sudah merupakan budaya dalam kehidupan masyarakat Muslim, juga sudah merupakan perintah dari agama untuk melakukannya yaitu membaca al-quran.
Setelah saya keluar dari Mushallah yang tak jauh dari Asrama Panti guna Yapti (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia) tempat penulis pernah bersekolah di bangku SMP dan merupakan tempat tinggal penulis sekarang ini, sayapun menyempatkan diri untuk menghirup udara segar di sekitar pekarangan asrama tersebut.
Saat saya menghirup udara segar, kala itu saya tak henti-hentinya mengucap syukur kepada sang khalik( outher) yang dalam bahasa Indonesia berarti pencipta yaitu Allah sebab dia masih memberikan kepada kita sebuah nikmat yaitu menghirup udara tanpa harus membayar satu sen pun kepada agen. Hari itu, saya(penulis melakukan rutinitas tetapi rutinitas saya hari itu tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Biasanya, pada hari pertama Ramadan, sampai hari ke 7 ramadhan, saya(penulis) biasanya melakukan kegiatan Menulis karya yang akan di aploat ke beberapa blog termasuk blog saya sendiri yang merupakan tempat untuk saya menumpahkan isi hati. Selain menulis, saya juga kadang-kadang browsing di internet untuk mencari referensi.
Terkadang situs yang saya kunjungi adalah blognya Wenny Aulia dan Aulia dengan nama masing-masing blog yaitu www. Wenny Aulia.wordpress.com dan www. Aulia 87.wordpress yang menempati wordpress sebagai wadah untuk menampilkan karya-karya beliau, saya tertarik untuk membaca isi blog mereka sebab disana banyak inspirasi untuk melakukan perubahan, atau memperbaiki kehidupan yang lagi trabel.
Kalau dib log Kak Wenny, saya banyak memperoleh tulisan yang akan memberikan inspirasi untuk menata kehidupan lebih kea rah yang baik agar dapat menjalani hidup yang lebih baik sedangkan dib log mas Oul, saya lebih banyak menemukan inspirasi untuk menjadi orang yang memiliki semangat untuk berusaha menjadi orang yang memasuki islam secara kaffa melalui tulisannya yang ber nuansa islami misalnya menjadi pemimpin, dan menjadi manusia yang sempurna ya! Begitulah kanda Aulia yang lebih lengkapnya akrab disapa kak oul, yang arti namanya itu sendiri adalah pemimpin, sehingga beliau selalu menulis tentang keislaman dan kepemimpinan.
Selain membuka blog dari kedua manusia yang sudah saya( penulis) anggap sebagai beautiful inspirator dan hansem inspirator ini, saya juga kadang-kadang membuka salah satu situs internet yaitu www.eramuslim.com dan saya langsung meng klick salah satu rublik yang berisikan artikel-artikel yang isinya adalah experience dari penulis artikel tersebut yang sedang menjalani kegiatan sebagai Maha siswa, Pelajar dan pegawai negeri dan swasta. Terkadang saat saya membaca tulisan mereka, air mata saya membasahi wajah yang tergolong gagah menurut penilaian penulis sendiri, sebab apa yang mereka tuliskan sangat menggugah hati saya dan memberikan pelajaran besar.
Namun, di hari yang ke 8 ini, unsure pengurus YAPTI(Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia) mengadakan pendidikan latihan atau singkatnya dikenal dengan istilah Diklat yang ternyata wajib hukumnya diikuti oleh seluruh binaan baik yang masih ber sekolah di SLB-A Yapti yaitu siswa-siswi yang mengikuti pendidikan tingkat SD dan SMP serta binaan yang sudah ber sekolah di luar tempat tersebut seperti penulis, jangan sangka kalau tunanetra seperti penulis dan beberapa temannya sudah ngegabung di beberapa SMU negeri dan swasta yang mau menerima kaum tunanetra seperti SMU Datukribandang, SMU Muhammadiah 3, SMU negeri 16 Makassar dan SMU lainnya.
Acara Diklat dimulai pada pukul 08.00, dengan materi pertama adalah belajar efektif yang dibawakan oleh Ibu Marhani S.PD yang merupakan guru SLB-A Yapti tingkat SMP sebagai guru Matematika di tempat tersebut, beliau juga pernah menjadi wali kelas penulis ketika SMP di tempat tersebut. Saat beliau memberikan materi, antusias peserta khususnya saya sendiri sangat tinggi karena metode penyajian yang interes serta melakukan interaksi dengan audiens yang beliau hadapi.
Bagi penulis, beliau juga telah memberikan inspirasi untuk melakukan tugas sebagai pelajar yang baik yaitu belajar efektif bukan asal belajar doang, sehingga saya yakin suatu masa saya akan mendapatkan output atas perbuatan saya yaitu output yang positif yaitu nggak kalang kabut ketika saya akan meng hadapi suatu momen.
Pada hari ke dua, Pendidikan dan latihan Ramadhan, saya dan tentu seluruh peserta diklat kembali memperoleh materi tentang mengelola kecerdasan emosi dari ibu Rahmawati mangka, salah satu guru pada Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia, ternyata melalui materi yang beliau sajikan sangat membantu saya dalam hal managemen emosi sehingga saya ter inspirasi untuk mencoba melakukan perubahan dari dalam diri.
Pada hari ke dua, saya juga menerima sebuah materi yang lebih dalam membahas tentang karakter tunanetra dan karakter penyandang cacat secara umum, melalui materi ini, saya(penulis) semakin mengetahui jati diri saya selaku penyandang cacat. Sehingga nantinya saya mampu mempertanggung jawabkan hasil perjuangan teman-teman.
Selama saya mengikuti diklat begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan dari sekian banyaqk materi yang disajikan dengan ciri khas pemateri yang beraneka ragam dan komunikasi yang baik pun terjadi antara pemateri dan audiens yang mereka hadapi.
Kegiatan yang berlangsung pada minggu kedua dibulan ramadhan ini, tidak sepadat biasanya, kita masuk jam 08 pagidan berakhir pada jam 10 pagi, sehingga aktivitas menulis, browsing di internet, dan lain-lain tidak terhenti, karena dilanjutkan setelah kegiatan berlangsung. Minggu kedua ramadhan, tidak membuat saya untuk melakukan rutinitas sebagai seorang pelajar, penulis, organisatoris, dan seorang jono.
Intinya, selama kegiatan dibulan ramadhan ini, saya hanya ingin agar selama bulan Ramadan ini kita tetap memperoleh magfirah dari Allah sehingga kita memperoleh kasihsayang Allah, begitupun ketika kita memperoleh magfirah yang cantik itulho, pasti hidup kita akan sangat bahagia hingga akhir hayat magfirah yang kedua ini adalah sesuatu yang di cita-citakan oleh setiap laki-laki normal seperti diriku ini.
Minggu ke empat di bulan ramadhan, sudah ada agenda yang saya persiapkan yaitu meninggalkan Makassar dan bertolak ke Selayar untuk menemui keluarga, orang tua, dan beragam agenda lain yang dapat dilaksanakan sebab saya sangat bersyukur karena saya masih mempunyai sesuatu yang dapat terlihat dimata masayrakat tempat saya tinggal dan dibesarkan oleh kedua orang tua saya dengan penuh kasih sayang orang tua.
Saya berharap mudah-mudahan saya masih dipertemukan dengan bulan ramadhan tahun depan semoga amal ibadah yang kurang ini lebih optimal dan saya berkesempatan untuk memperbaikinya, saya tahu usia saya sudah semakin berkurang setiap hari, setiap jam, dan setiap detik. Sehingga saya menanamkan sebuah prinsip bahwa saya harus menulis sebelum dipaksa untuk berhenti menulis, isilah harimu dengan hal yang positif.

Sabtu, 13 September 2008

PELUANG SESUDAH RINTANGAN KETIKA MENGIKUTI PELATIHAN KOMPUTER Oleh:Sujono Sa’id

Saya(penulis) sebagai seorang tunanetra sangat bersyukur kepada Allah, sebab saya dapat menggunakan computer. Yang membuat saya merasa bangga adalah computer yang saya gunakan tak beda dengan computer yang digunakan oleh teman-teman, sepupu, dan masyarakat yang memiliki kelengkapan ditinjau dari segi fisual/penglihatan.
Software yang mereka gunakan pun tak beda dengan yang saya gunakan, antara lain Microsoft word, Microsoft acces, Microsoft Powerpoint , Microsoft outlook, dan masih banyak software-software yang saya gunakan tidak berbeda dengan orang lain gunakan. Begitupun dengan operating system yang saya gunakan tidak berbeda dengan yang orang awas gunakan yaitu Windows yang diproduksi setiap tahun mulai dari Windows98, Windows 2000 atau yang dikenal dengan nama Windows Milenium, Windows XP salah satu produc yang keluar pada tahun 2003, serta Windows Fista.
Jika saya (penulis) berbicara tentang hardware atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah perangkat keras, juga tidak berbeda dengan yang saya gunakan dengan orang-orang secara umum gunakan. Namun yang berbeda adalah saya terutama tunanetra secara umum harus menggunakan sebuah program atau software tambahan yang sudah dirancang dan akses bagi kaum tunanetra yaitu JAWS yang merupakan kependekan dari Job Acces with speach, yang jika diartikan secara sederhana adalah program yang acces bagi kaum tunanetra dengan bantuan suara.
Gambaran dari software ini adalah sebuah program yang dikemas dalam sebuah file outorisasi yang terlebih dahulu harus melalui sebuah proses yaitu proses instalasi ke computer mana saja yang sangat memenuhi persyaratan untuk instalasi program tersebut. Program ini juga dilengkapi dengan alat baca layer atau dalam bahasa Komputer dikenal dengan istilah Skreenreader, jadi skreenreader berperan untuk membaca tampilan pada monitor yang kemudian dibantu oleh jaws, sehingga apa yang tampil dilayar dapat dibaca oleh jaws yang sangat membantu saya selaku tunanetra sehingga sayapun secara mandiri juga sudah dapat melakukan aktivitas dalam hal mengoperasikan computer.
Kemampuan mengoperasikan computer secara mandiri saya peroleh dengan cara yang tidak terlalu rumit, tapi tidak juga segampang merebut hati seorang wanita agar ia terbuai dan akhirnya jatuh cinta kepada kita, namun kemampuan yang saya miliki saya dapatkan melalui sebuah tantangan yang amat luar biasa khususnya ketika saya menjalani pelatihan computer. Ketika saya mengikuti pelatihan computer, sangat banyak hal yang membuat saya agak kewalahan, namun ada satu hal yang selalu menjadi obat bagi saya yaitu kesabaran dan keikhlasan sebab saya sadar bahwa pelatihan ini adalah proses.
Ketika saya baru saja masuk mengikuti pelatihan, kesulitan yang saya hadapi adalah dalam hal ketidak mampuan bergerak yang dialami oleh jari-jari tangan saya ketika saya baru saja belajar mengetikkan data ke dalam computer. Kesulitan yang kedua yang saya jalani adalah ketidak pekaan dalam hal mendengarkan jaws, namun saya sadar bahwa dengan latihan mendengarkan suara jaws yang saya lakukan secara berulang-ulang saya yakin dan percaya bahwa saya pasti bisa meskipun saya harus berlatih berkali-kali namun saya ternyata telah berhasil memetik buah dari kesabaran saya dalam berlatih.
Hambatan lain selain kesulitan-kesulitan yang telah saya sebutkan diatas, masih ada hal lain yang ternyata juga menuntut kesabaran selama mengikuti pelatihan ini yaitu seringnya saya memperoleh bentakan dari Kak rais seorang instruktur yang mentrayning saya selama enam bulan, tetapi dibalik semua itu saya ternyata bisa mengerti apa-apa yang diajarkan olehnya. Kesulitan yang sering saya rasakan ketika saya diperhadapkan dengan materi Microsoft Excel khususnya yang menyangkut masalah logika.
Ada sebuah peristiwa yang menarik, suatu hari saya diberi tugas oleh Kak Rais yaitu tugas Microsoft excel karena saya tidak bisa menjawab soal tersebut dengan rumus yang benar maka saya sangat merasa bersalah sehingga saya harus menghukum diri dengan hukuman yaitu bermalam di lokasi pelatihan meskipun nyamuk sangat banyak.
Tetapi ada sesuatu yang sangat menyedihkan yaitu ketika seluruh peserta mengikuti tes kepekaan mendengarkan jaws, saya sangat menderita sebab saya dan beberapa teman yang juga menyandang tunanetra lofition harus menjalani tes dengan tidak diperkenankan untuk menyalakan layer monitor yang kita dengar hanyalah suara jaws dari spiker.
Adapun hal yang sangat lucu ketika saya mengikuti pelatihan computer adalah ketika saya nyaris tewas terkena setrum yang keluar dari plopi karena saya memiliki rasa ingin tahu seperti apasih bentuk sebuah plopi yang biasanya dipergunakan untuk memasukkan disket sebab saat itu saya dan teman-teman tunanetra yang secara kebetulan seangkatan dengan saya media selain disket adalah media penyimpanan data yang masih termasuk barang langkah bagi kami.
Saat itu, saya sedang menunggu instruktur yang akan masuk ke lokasi pelatihan untuk memberikan materi, tetapi instruktur yang saya tunggu-tunggu belum kunjung datang sehingga sayapun mempergunakan kesempatan tersebut untuk melakukan eksplorasi terhadap bagian-bagian computer yaitu mencoba menelusuri bagaimanasih bentuk CPU, hardisk, dan salah satunya adalah plopi yang digunakan untuk menyimpan.
Saat saya meraba-raba plopi computer yang saya pergunakan untuk mengikuti pelajaran dalam posisi jongkok, sehingga ketika sengatan setrum telah terasa di jari jemari saya sayapun langsung melompat agak sedikit menjauh dari CPU computer yang saya pergunakan untuk mengikuti pelajaran, teman-teman sekelompok sayapun tertawa.
Akhirnya ketika menjelang detik-detik terakhir saya mengikuti pelatihan computer, saya sempat berada dalam keputusasaan sebab saya sempat tidak menguasai beberapa cara untuk mengakses program-program tertentu namun karena adanya motifasi dari dalam diri saya dengan izin dari Allah sehingga saya akhirnya lulus dan berhasil menyelesaikan pelatihan ini dengan hasil yang memuaskan
Dengan adanya pelatihan computer yang dilaksanakan oleh Persatuan tunanetra Indonesia sulawesi selatan, maka saya tidak hanya mengenal computer dari mulut ke mulut, namun saya langsung melihat fakta yang memang sangat cocok dengan apa yang sering teman-teman saya ceritakan. Dahulu saya sudah tahu bahwa computer adalah alat untuk melakukan pengetikan, bentuknya mirip dengan TV yang dikoneksikan dengan keyboard sehingga saya membayangkan jika seseorang ingin mengetik ia harus memasukkan kertas yang ia akan gunakan untuk mengetik ke sebuah lubang yang sudah disediakan dan terletak dibagian atas monitor, bahkan saya sempat mengira bahwa tulisan yang kita ketik juga muncul di layer selain muncul di kertas ketika tulisan dihapus dengan menggunakan tombol bekspace selain tulisan terhapus di layer juga dapat terhapus dari kertas, pendek kata saya sempat mengira bahwa perubahan tulisan yang ada dilayar juga terjadi pada kertas yang dipergunakan untuk melakukan proses pengetikan.
Ternyata cek per cek, apa yang saya bayangkan tidak semua betul sebab ternyata untuk memindahkan tulisan dari computer ke selembar kertas hanya dilakukan dalam suatu proses yang dikenal dengan istilah printing atau pencetakan, dan ternyata untuk mengetik dengan menggunakan computer tidak mesti memasukkan kertas ke lubang yang disediakan layaknya seseorang yang ingin melakukan pengetikan dengan mesin ketik.
Ada suatu hal yang sudah sangat umum baik dalam lingkup tunanetra dan orang awas, dalam hal pelaksanaan sebuah kegiatan yang telah berakhir tidak berarti kegiatan yang telah mereka buat selesai begitu saja tetapi jika kita ingin mengembangkan diri tentu kita harus melakukan tindak lanjut atau followup baik followup bersama seorang mentor atau beberapa orang mentor yang telah mendampingi selama mengikuti training.
Sehingga setelah pelatihan computer yang saya ikuti berakhir, saya tetap terus menerus mempertahankan ilmu computer yang telah saya pelajari selama enam bulan, saya menjalani training khususnya materi Microsoft word dengan spesifikasi tata cara mengetikkan sebuah karya, editing, dan hal lain yang erat kaitannya dengan Microsoft word. Selama saya telah mengetahui bagaimana melakukan praktek mengetik sepuluh jari, saya selalu terdorong oleh sebuah keinginan untuk melakukan praktek mengetik sepuluh jari, sehingga saat berhadapan dengan computer, saya hanya selalu mengetikkan kata-kata yang keluar dari hati saya yang paling dalam dan di teruskan oleh jari jemari saya dan melalui media itulah isi hati sayapun yang terdiri atas beberapa kata yang menggabung menjadi satu kalimat dan kalimat demi kalimat tergabung menjadi satu paragraph dan dari paragraph demi paragraph menjadilah sebuah ungkapan yang keluar dari hati saya yang paling dalam telah tampil di layer monitor.
Hari demi hari, keinginan sayapun untuk memperlancar tata cara mengetik sepuluh jari, menguasai tata cara melakukan editing data, dan hal lain yang berkaitan erat dengan microsoftword telah tercapai dan apa yang telah saya pelajari hasilnya sangat memberi manfaat bagi saya sebagai seorang tunanetra yang ternyata mempunyai bakat menjadi seorang writer. Dengan izin Allah, dan kerja keras saya yang juga disertai iringan doa kepada tuhan melalui sebuah computer yang dilengkapi dengan jaws sebuah software yang sangat akses bagi tunanetra secara umum dan saya secara pribadi telah membantu saya untuk menuangkan gagasan, opini, atau kritikan melalui tulisan.
Meskipun saya adalah seorang tunanetra yang baru menjadi seorang penulis pemula, namun tulisan saya telah sering dimuat di sebuah bulletin yang dihendel oleh penyandang cacat sulawesi selatan yaitu bulletin sipaka tau, dari hasil tulisan yang saya buat, saya sebagai seorang pelajar tunanetra yang jauh dari orang tua sudah mampu untuk meringankan beban kedua orang tua saya dari segi profid saya meskipun adalah seorang tunanetra tetapi saya mampu untuk berkompetisi dalam berbagai bidang.
Mengapa saya memunculkan pernyataan ini dalam tulisan saya? Sebab ketika saya mengikuti pelatihan ini, para peserta baru menerima materi tentang jaws sudah banyak yang mengundurkan diri dalam pelatihan tetapi saya sadar bahwa mendengarkan jaws sangat sulit, namun sebagai orang beragama dan meyakini keberadaan tuhan sehingga saya mampu untuk menguasai computer dengan program yang akses.
Saya menanamkan sebuah prinsip dalam diri saya bahwa belajar untuk memperoleh ilmu semata sesulit apapun kendala yang saya hadapi pasti saya berhasil melaluinya, namun ketika saya belajar karena menginginkan imbas dari ilmu itu sendiri maka saya tentu tidak akan mampu untuk mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang menimpa saya, sangat benarlah sebuah perkataan orang bijak yang berbunyi berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ketepian bersakit-sakit dahulu bersenang – senang kemudian. Hasil yang dicapai oleh orang-orang yang menuntut ilmu hanya ingin memperoleh imbas dari ilmu yang ia pelajari, ketimbang yang menuntut ilmu untuk memperoleh ridha dari Allah.
Letak perbedaan diantara keduanya adalah, jika seseorang menuntut ilmu hanya untuk memperoleh imbas dari ilmu yang ia peroleh, tentu ia tidak akan mengerti akan sebuah proses yang ia lalui, misalnya ketika seseorang mengetahui bahwa dengan menguasai computer, kita akan mudah untuk memperoleh lowongan kerja, maka ia yang saat itu sudah mati-matian mengajukan lamaran lantas selalu ditolak hanya alas an tidak menguasai computer, maka ia tentu akan mati-matian untuk belajar tetapi yang terfikir dalam benaknya hanya ingin mengetahui ilmu computer secepat kilat, namun tidak sabar menghadapi hambatan-hambatan yang ia peroleh selama mengikuti pelatihan.
Sehingga, hasil yang di peroleh tidak mengalami perkembangan yang mempunyai arti dalam dirinya. Contoh yang bisa menjadi ilustrasi nyata adalah sebagai berikut: jika seseorang yang hanya ingin melamar sebagai staf administrasi pada sebuah kantor, namun lamarannya ditolak hanya dengan alas an bahwa tidak mengetahui ilmu computer maka ia belajar tentang computer yang ia tekuni hanya hal-hal yang berkaitan dengan administrasi seperti Microsoft word, dan Microsoft excel, sehingga hasil yang ia peroleh ketika ia sudah berada dikantor hanya pengetahuan tentang word dan excel saja.
Sehingga akibat yang terjadi adalah ketika terjadi kerusakan meskipun hanya kerusakan kecil pada computer yang ia gunakan di meja kerjanya, ia tidak mampu melakukan pertolongan pertama pada computer yang ia gunakan oleh dirinya tetapi ia langsung memanggil teknisi yang kebetulan ahli dalam bidang computer, karena ia memiliki penguasaan ilmu computer sangat sedikit.
Sedangkan orang yang mempelajari ilmu computer tidak mengharapkan apa-apa hanya ridha Allahla harapannya, maka ia tentu akan memperoleh hal-hal yang tidak ia sangka-sangka, sehingga manusia yang berada dalam tipe ini, menammatkan pelatihan dengan kualitas yang unggul sebab dengan kesabaran, serta keikhlasan yang ia miliki, ia akan menjadi orang-orang yang berkualitas, mungkin inilah saya yang terlahir kedunia ini untuk menjadi seorang writer, sebab saya menekuni ilmu computer saya hanya menuruti kata hati serta kemauan instruktur dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh instruktur, sehingga saya tumbuh dalam keadaan mandiri dalam hal mengoperasikan computer meskipun ilmu computer yang saya ketahui tidak terlalu banyak.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Keteguhan hati adalah penopang untuk menghadapi tantangan Oleh:Sujono sa’id

Dengan izin Allah, maka sebuah pertanyaan saya(penulis) telah berhasil terjawab pada tanggal 1 Juli 2007, tepatnya pada pukul 11 siang ketika diumumkannya hasil ujian akhir nasional adalah hari syukur pribadi sebab saya telah lulus dan telah menyelesaikan study saya sebagai siswa SMP di SLB-A Yapti Makassar.
Maka berangkat dari itu, saya(penulis) teropsesi untuk lanjut di sekolah menengah umum (SMU) yang di dalamnya adalah mayoritas orang-orang awas maka pada tanggal 7 Juli 2006 saya(penulis) mendatangi SMU Negeri16 untuk mengambil formulir pendaftaran dan saat itu saya didampingi oleh seorang guru SLB-A Yapti yaitu Bapak Tomas sarwoko, maksudnya adalah untuk bertemu dengan Kepala sekolah SMU16 yang dalam pertemuan tersebut beliau akan memberikan penjelasan bahwa kaum tunanetra juga bisa bersekolah dengan orang-orang yang matanya sehat(orang awas) agar saya(penulis) tidak dipersulit oleh kepala sekolah dan panitia penerimaan siswa baru
Saya berangkat dengan menumpang motor milik Bapak Tomas sarwoko dengan hati yang dalam keadaan bertanya-tanya, setelah sampai di depan meja panitia pendaftaran sayapun mendapatkan pelayanan yang sama dengan siswa baru yang lain dan juga ikut antri di depan loket pendaftaran memang saya tidak terlihat seperti tunanetra sebab saya adalah Tunanetra yang masih diberi sisa-sisa penglihatan oleh Allah.
Saya dan Bapak Tomas sarwoko mengisi formulir pendaftaran tersebut ditengah-tengah kegiatan pengisian formulir pendaftaran terjadilah dialog antara saya(penulis) dan Bapak Tomas sarwoko yang isinya adalah bagaimana nasib saya ketika saya dikemudian hari jika saya akan mengikuti tes masuk dan baru ketahuan bahwa saya adalah seorang Tunanetra.
Sehingga beliau memberikan saran pada saya(penulis) agar saya bisa mendaftar juga di SMU negeri 6 yang merupakan tempat 3orang tunanetra pernah bersekolah, sesampainya saya di Asrama Yapti sayapun betemu dengan ibu saya dalam keadaan kecewa terhadap strategi yang dilakukan oleh Bapak Tomas sarwoko yang tidak membuka diri tentang keadaan saya sebagai seorang tunanetra.
Akhirnya saya(penulis) mengurungkan opsesi untuk melanjutkan perjuangan saya sebagai sebuah proses untuk masuk di SMU16 sebagai tunanetra pertama yang akan melakukan sebuah gebrakan baru teman-teman saya yang telah mengalami masa-masa yang demikian sangat marah melihat sikap saya yang terlalu cepat kecewa, bahkan salah satu tunanetra yang merupakan alumni dari SMU negeri6 meminta agar saya tidak memenuhi saran dari Bapak tomas Sarwoko.
Mereka lebih marah lagi ketika saya(penulis) beropsesi untuk bersekolah di SMU Datuk ribandang, sebab menurut mereka saya tidak mampu menghadapi tantangan dan tidak mempunyai keteguhan hati untuk menghadapi tantangan demi tantangan, akhirnya karena saya telah mengurungkan niat sya(penulis) untuk mendaftar di SMU16, maka saya mendapat saran agar mendaftar di SMU negeri 4 Makassar.
Maka keesokan harinya sehari pasca pendaftaran di SMU16 sayapun diantar ke SMUNegeri 4 untuk mengambil formulir pendaftaran, karena ketika saya(penulis)mendaftar di SMU Negeri 4 sudah hari terakhir maka saya langsung mengambil nomor tes, keberangkatan saya ke SMU Negeri 4 didampingi oleh salah seorang mitra sebut saja Marlina sesampainya kami di depan loket pendaftaran kamipun langsung mengambil formulir pendaftaran dan terjadilah dialog antara Marlina dan salah seorang panitia pendaftaran yang disaksikan oleh kedua telinga saya sendiri
Marlinapun mengatakan “sesungguhnya siswa yang saya dampingi untuk mendaftar adalah seorang tunanetra, dan kalau seandainya dia lulus kelak, dia akan belajar dengan menggunakan fasilitas yang ia miliki dan ketika ia mengikuti tes maka ia akan didampingi jadi apakah sekolah ini bersedia menerima seorang tunanetra?”.
Mendengar pertanyaan tersebut salah seorang panitia menjawab”bisa” sayapun mendengar jawaban tersebut dengan sedikit tenang akhirnya kamipun mengisi formulir pendaftaran.
Setelah kami melakukan pengisian formulir kamipun langsung mengembalikan formulir tersebut kepada panitia pengembalian formulir, sesampainya di sana Marlina pun kembali berdialog dengan panitia pengembalian formulir iapun kembali mengatakan bahwa siswa yang saya dampingi adalah seorang tunanetra kira-kira sekolah ini bersedia menerima tunanetra untuk mengikuti pendidikan sama dengan orang-orang yang normal?.
Panitia pengembalian formulir tersebut langsung menjawab”lebih baik menghadap kepada kepala sekolah”, akhirnya setelah saya(penulis) mendengar pernyataan tersebut, 3 hari pasca pendaftaran sayapun(penulis) langsung menghadap kepada Bapak Kepala SMU negeri 4 makassar yaitu Bapak Ibnu hajar saat itu saya didampingi oleh Kakanda Nurul hasana yang kebetulan menjabat sebagai ketua biro adfokasi dan pengkaderan Persatuan Tunanetra Indonesia wilayah Propinsi Sulawesi Selatan.
Dalam pertemuan tersebut dibahaslah mulai bagaimana kaum tunanetra menjalani pendidikan hingga bagaimana teknis pelaksanaan tes masuk yang khusus dilaksanakan bagi kaum tunanetra yang akan berintegrasi dengan orang-orang awas, jadi hasil pertemuan antara saya(penulis), Kakanda Mnurul hasana, dan bapak Ibnu hajar selaku kepala SMU negeri4 adalah disepakati bahwa saya(penulis) bisa membawa pendamping dari luar tidak didampingi oleh panitia penerimaan siswa baru ketika mengikuti tes.
Dan beliaupun mengatakan bahwa hal-hal yang bersifat teknis akan diatur saat hari ha akhirnya pada saat mengikuti tes saya didampingi oleh salah seorang mitra dari Persatuan Tunanetra Indonesia wilayah Sulawesi selatan dan diawasi oleh salah seorang guru SMU negeri 4 yang telah diberi mandat oleh Kepala SMU negeri4 untuk itu.
Rabu tepatnya pada tanggal12-7-2006 pada pukul 9.00 sayapun mengikuti tes di ruangan dewan guru SMU negeri4 sayapun masuk ke ruangan dewan guru dibawah pengawalan Bapak kepala sekolah SMU negeri4 dan disambut oleh sekian banyak guru yang tergabung dalam kepanitiaan penerimaan siswa baru.
Beragam ekspresi yang tampak dari wajah mereka ketika saya bersama pendamping yang akan mendampingi saya(penulis) masuk kedalam ruangan dewan guru setelah kami sampai di dalam ruangan dewan guru satu persatu panitia datang dan berkerumun di sekitar kami ada diantara mereka terheran-heran, ada yang bertanya-tanya, dan ada pula yang bersikap biasa-biasa saja dan menyambut kami dengan baik.
Sebelum tes saya(mengisi biodata yang telah ada pada bagian lembar jawaban sambil kami mengisi biodata, kamipun sesekali diajak ngobrol oleh sebahagian panitia dan akhirnya ketika lonceng berbunyi pertanda bahwa tes akan dimulai soal demi soalpun dibacakan oleh salah seorang guru yang telah diberi mandat secara lisan oleh kepala sekolah SMU negeri4 dan pendamping yang mendampingi saya hanya melingkari opshen yang saya pilih diantara beberapa opshen, sementara tes berjalan, saya(penulis) dan juga pendamping yang mendampingi saya sesekali didatangi dan dikerumuni oleh sekian banyak guru yang terlibat dalam kepanitiaan tersebut.
Seusai saya mengikuti tes, sayapun menandatangani Apsensi peserta tes pada saat itu, saya langsung didatangi oleh salah seorang guru SMU Negeri4 yang sekarang telah menjadi wali kelas saya beliaupun sempat menyempatkan waktu barang 5 menit untuk ngobrol dengan saya(penulis) dan pendamping yang mendampingi saya.
Tepat pukul 11.00, tes penerimaan siswa barupun telah selesai, sayapun pulang dengan hati yang sedikit agak legah meskipun saya masih dijangkiti oleh rasa pesimis terhadap hasil tes saya kelak jadi seandainya saya tidak lulus tes di SMU Negeri4 maka sayapun akan mencoba untuk masuk ke SMU Muhammadiah7 Rappokalling sebagai pelajar Tunanetra yang pertama kalinya
Akhirnya tepat pada pukul 16.00, sayapun datang ke Sekretariat PC IRM Tallo yang merupakan tempat saya beraktifitas sebagai pengurus dalam organisasi tersebut, selain ingin melakukan aktifitas sebagai pengurus IRM Tallo, saya juga bermaksud ingin menggali informasi tentang prosedur untuk masuk ke SMU Muhammadiah7 Rappokalling, dalam kesempatan itu saya berbincang-bincang dengan Nur rahma yang merupakan salah seorang siswi di SMU tersebut yang juga merupakan rekan kerja saya di Ikatan remaja Muhammadiah isi perbincangan kami adalah mulai dari berapa uang muka saat masuk, uang komite setiap bulan, dan lain-lain.
Tetapi setelah 2 hari saya mengikuti tes, saya(penulis) memperoleh informasi tentang kelulusan saya melalui media cetak saya dan ibu saya sangat berbahagia dan sangat bersyukur kepada Allah sebab kelulusan yang saya raih adalah sebuah anugerah yang telah ia berikan.
Akhirnya saya dan ibu saya datang ke SMU Negeri4 untuk mendaftar ulang dan sayapun resmi menjadi siswa di sekolah tersebut setelah melalui beberapa proses mulai dari pengambilan formulir, wawancara, dan mengurusi kepentingan yang lain.
Setelah saya(penulis) bersekolah di sekolah tersebut saya selalu memperoleh perlakuan yang baik dan sama dengan mereka-mereka yang awas tetapi ketika saya baru berada di sekolah tersebut sayapun sangat minder terhadap teman-teman saya dan kakak-kakak kelas saya sebab saya(penulis) merasa tidak memiliki apa-apa yang disebabkan oleh keterbatasan saya dari segi penglihatan.
Tetapi karena saya sering didekati oleh kakak-kakak kelas saya dari kelas IPA1 hinggaIPA7 sayapun akhirnya memiliki keteguhan hati yang dengan keteguhan hati itulah saya mampu bertahan meskipun saya dalam keadaan bermasalah, pendek kata meskipun saya sudah berhadapan dengan berbagai tantangan sayapun masih memiliki keteguhan hati yang menjadi penopang bagi diri saya untuk tidak mudah menyerah.
Adapun masalah yang saya hadapi sebagai seorang tunanetra adalah seringnya teman-teman saya melontarkan ejekan-ejekan secara bertubi-tubi bahkan mereka selalu menganggap kehadiran saya di sekolah tersebut sebagai sampah pelajar, tetapi itu semua hanya berawal dari ketidak tahuan saja dan alhamdulillah, semua itu sedikit demi sedikit sudah terkikis, selama satu smester saya bersekolah di sekolah tersebut, terkadang teman-teman saya mencoba mematahkan semangat belajar saya dengan mengeluarkan statemen yang jelek dan menjual-jual nama guru tapi keteguhan hatilah yang menjadi modal saya untuk menghadapi mereka-mereka yang ingin mematahkan semangat saya

Proses yang ditempuh untuk meraih sebuah opsesi Oleh:Sujono sa’id

Setiap anak cucu Adam pasti mempunyai opsesi dan setiap anak cucu Adam mempunyai hak beropsesi tercapainya suatu opsesi tergantung dari bagaimana kita berjuang , ada sebuah opsesi yang setiap orang ingin capai yaitu menjadi orang sukses, menjadi orang terkenal, bisa hidup senang, dan masih banyak yang lain.
Jika seseorang ingin menjadi orang yang hidup bahagia, maka dia harus bersusah-susah dahulu sebab dengan kesusahan yang kita alami akan menghantarkan kita untuk menikmati kehidupan bahagia ternyata penulis baru sadar bahwa hidup ini sangatlah indah jika hidup ini selalu kita hadapi dengan senyum, selain senyum merupakan sesuatu yang bernilai ibadah, ternyata senyum adalah merupakan gambaran yang nampak dalam diri orang –orang yang menikmati hidup meskipun dalam hatinya tersimpan berjuta-juta kesusahan.
Untuk tercapainnya suatu opsesi selain harus bersusah-susah, kkita juga harus melawan bisikan-bisikan yang sebenarnya merupakan suatu bisikan yang menyuuruh kita untuk melakukan suatu tindakan yang ternyata tidak memiliki hasil yang efektif, maka janganlah hal tersebutdilakukan, sebab penulis sendiri telah merasakan akibat dari turutnya kita kepada bisikan-bisikan tersebut, sehingga penulis terkadang tidak memperoleh apa yang menjadi opsesi penulis.
Terkadang penulis sangat sedih jika penulis berkaca pada dirinya, hati penulis terkadang menjerit-jerit kesakitan, jika melihat diri penulis terjangkiti oleh penyakit yang diakibatkan oleh ulah penulis yang mengakibatkan opsesi penulis tinggallah menjadi mimpi, penulis sadar bahwa dirinya teelah terjangkiti oleh sebuah penyakit, tetapi tangan penulis tidak mampu untuk mengatasinya sehingga penulis terkadang bertanya-tanya kepada diri penulis “mengapa tangan saya tidak mampu mengatasi penyakit yang ada dalam diri saya?”.
Tetapi penulis telah menemukan jawaban yang meskipun belum bisa penulis pastikan sebagai penyebab, tetapi jika penulis melihat kenyataan yang menjadi jawaban dari pertanyaan penulis sangatlah menjadi syarat untuk penulis dalam membuat pernyataan yang isinya adalah menghukumi bahwa itulah sebagai penyebabnya.
Penulis sadar bahwa dirinya telah terkontaminasi oleh sifat-sifat Syaitan, sebab dirinya sering lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai hamba tuhan, penulis juga terkadang tidak mampu memanage waktu dan energi negative yang telah tersimpan dalam dirinya masih tersimpan dan hati penulis belum terketuk untuk melakukan pembuangan terhadap energi negative tersebut, dan energi negative yang dimaksud adalah kebiasaan terhadap kesenangan yang telah penulis jalani selama 3 tahun.
Penulis juga terkadang takmampu menerima kenyataan yang amatlah memilukan, padahal kita bisa menjadikan kenyataan yang tadinya amatlah memilukan, bisa menjadi sesuatu yang amatlah menyenangkan, dan untuk tercapainya opsesi kita ke depan, kita harus siap menerima kenyataan yang teramat pahit, artinya kita harus siap kalah dan siap menang.
Untuk mencapai opsesi yang kita inginkan, maka kita harus berjuang dengan menggunakan teknik yang tepat sehingga kita bisa melakukan sesuatu yang tepat sasaran, sebab meskipun kita sudah mati-matian melakukan perjuangan yang amat keras, tetapi dengan menggunakan teknik yang salah maka opsesi kita tidak akan tercapai bahkan opsesi kita tinggallah menjadi mimpi belaka.
Agar opsesi kita tercapai, maka kita tidak boleh terlalu banyak berhayal, tetapi apabila ada sesuatu yang muncul dari dalam hati kita yang juga merupakan buah pemikiran kita maka implementasikanlah dalam bentuk aksi untuk mencapai opsesi ke depan, dan tercapainya sebuah opsesi yang sangat dibutuhkan adalah sebuah komitmen dan marilah kita untuk mengikat diri kita dengan suatu aturan yang akan mempermudah bagi kita untuk mencapai sebuah opsesi, dan dengan aturan yang telah mengikat kita akan menjadi alat untuk meminimalisir penyakit-penyakit yang bisa membuat opsesi kita tinggallah menjadi mimpi, dan untuk mencapai opsesi kita harus siap untuk gagal, sebab kegagalan adalah sebuah opsesi yang tertunda, dan untuk mencapai sebuah opsesi kita maka kita harus memperbaiki hubungan kita dengan tuhan. Jadilah kita orang yang bersyukur sebab tuhan akan selalu menambahkan nikmat bagi orang yang ber syukur, dan akan menghukum orang-orang yang selalu mengkufuri nikmat yang telah tuhan berikan.
Sebuah kata yang akan meng akhiri tulisan ini adalah “ di mana ada kemauan, di situlah kita memperoleh jalan”, untuk memperoleh kesuksesan, maka kita pasti memperoleh apa yang disebut dengan
istilah kegagalan maka untuk memperoleh opsesi kita maka kita harus mempunyai prinsip yang bisa kita pegang, dan kita bisa ber opsesi setinggi langit

Rabu, 10 September 2008

HIDUP DALAM MASALAH Oleh: Sujono Sa’id

Dalam kehidupan, kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang mengganggu dalam diri kita, apa yang disebut dengan masalah? Masalah adalah sesuatu yang tidak dapat di ukur, tetapi dapat kita rasakan. Saya( penulis) selalu berhadapan dengan berbagai masalah dalam hidup saya, tetapi saya yakin, bahwa setiap masalah ada jalan untuk menyelesaikannya, sebab tanpa masalah, kita tidak akan bisa menjadi orang yang ber fakir dewasa, dan tanpa masalah maka kita tidak akan bisa menggunakan akal kita untuk ber fakir, dan saya( penulis) sebagai orang Isolam mengutib firman Allah yang ber bunyi “ sesungguhnya aku tidak akan menimpahkan masalah kepada hambaku, apabila dia tidak mampu mengatasinya”.
Dalam al-quran, Allah juga ber firman bahwa “dibalik kesusahan terdapat kemudahan” maka penulis ber keyakinan bahwa masalah dapat ter selesaikan apabila kita selalu mencari jalan penyelesaiannya, keyakinan ini timbul setelah melihat kedua firman Allah di atas. Betul-betul penulis telah melihat kebesaran Allah, karena penulis sebagai orang yang ber agama Islam, tahu bahwa Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam bermasyarakat, ber ibadah kepada tuhan, ber gaul secara Islami, memecahkan masalah secara Islami, dan hal-hal lainnya telah di atur secara sempurna.
Saya( penulis) sebagai seorang pelajar selalu berhadapan dengan berbagai masalah di sekolah, tetapi saya selalu mencoba mencari bagaimana agar persoalan tersebut dapat saya selesaikan selain berdo’a, juga di iringi dengan beragam usaha, tetapi saya( penulis) sadar bahwa saya tidak mampu menyelesaikan masalah yang menurut saya sudah tidak dapat saya selesaikan, bahkan saya sering putus asa dalam menyelesaikan masalah.
Penulis akan menuliskan contoh masalah yang betul-betul penulis rasakan selama 4 bulan di sekolah sebagai pelajar tunanetra yang berintegrasi di sekolah awas semisal saya mau mengerjakan tugas di rumah, saya terkadang harus mencari pembaca dan penulis, tetapi di tempat saya tinggal saya mengalami krisis pembaca, kemudian saya juga terkadang kehilangan buku LKS ( Lembar kerja siswa), padahal LKS tersebut sangatt perlu untuk membantu saya dalam mengerjakan tugas-tugas saya, terkadang saya juga pelupa jika ada tugas yang diserahkan oleh guru kepada saya, tetapi itulah yang namanya masalah tetapi saya yakin bahwa di balik semua itu pasti ada kesuksesan yang akan saya capai.
Terkadang, jika kita selalu menghadapi hal yang mulus-mulus, maka suatu hari kita akan mendapat hal yang sangat susah dan menyusahkan kita contohnya saya ketika saya tinggal bersama-sama dengan orang tua saya, saya tidak pernah tahu berbagai urusan, saya hanya terima beres, tetapi setelah saya tinggal bersama-sama dengan tante saya, saya selalu berhadapan dengan masalah seperti harus dimarahi tiap hari, harus di perhadapkan dengan berbagai masalah lainnya, tetapi saya terkadang doun, tetapi terkadang apabila saya memperoleh hiburan, saya kembali bersemangat.
Selain masalah bisa membuat kita bisa berfikir dewasa, masalah juga bisa membuat kita bisa belajar hidup lebih mandiri tanpa terlalu menggantung pada ke dua orang tua, teman, dan orang lain,meskipun memang kita adalah makhluk social, tetapi kita juga harus mampu untuk inde fenden.
Maka saya berkesimpulan bahwa setiap masalah, saya harus hadapi dengan penuh senyuman, dan tidak boleh selalu ber keluh kesa, dan sebagai orang Islam saya dalam menghadapi masalah, saya harus menyerahkan kepada Allah, dan ber ikhtiar, dan setiap menghadapi masalah, selaku orang Islam, maka kita harus selalu mengucapkan” Innalillahi wa innailaihi rajiun” yang artinya “ sesungguhnya semua ini adalah datangnya dari Allah, dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah”.

Kakak kelasku adalah penyemangatku Oleh:Sujono sa’id

Tanggal17-7-2006 adalah sebuah momen yang bersejarah dalam kehidupan saya(penulis), sebab saya telah memasuki sekolah baru saya yaitu SMU negeri empat Makassar, baik sebagai siswa baru maupun sebagai pelajar dari kaum yang termasuk ke dalam kategori berkebutuhan khusus. Setiap siswa yang masuk sebagai siswa baru harus mengikuti salah satu kegiatan yang sifatnya adalah perkenalan antara sekolah dan kita sebagai peserta didik dengan mengikuti kegiatan yang dikenal dengan istilah Masa orientasi siswa(MOS) selama tiga hari.
Dalam kegiatan tersebut, kita lebih banyak didampingi oleh kakak kelas dari berbagai organisasi yang ada di sekolah itu khususnya di seluruh SMP dan SMU antara lain dari Organisasi intra sekolah(OSIS), Palangmerah remaja(PMR), Pengurus Mushallah, Paskibra, dan Mading(Majallah dinding). Selama tiga hari saya mengikuti Masa orientasi siswa, saya selalu memperoleh perlakuan yang baik dari kakak-kakak kelas yang bekerja baik sebagai pendamping mos maupun sebagai panitia mos.
Kalau selama kita mengikuti masa orientasi siswa, kita membeli buku tandatangan yang diedarkan oleh kakak panitia mos seharga enam ribu rupiah terkadang ketika jam istirahat berlangsung, saya dan teman-teman saya keluar kelas mendatangi kakak-kakak panitia mos untuk meminta tandatangan. Ketika saya meminta tanda tangan, saya langsung diberikan tetapi saya juga kasihan pada teman-teman yang merupakan peserta mos sebab ketika mereka meminta tanda tangan permohonan mereka tidak langsung terkabulkan tetapi mereka diberikan persyaratan yang macam-macam mulai yang sifatnya masih bagus sampai yang betul-betul konyol
Saya terkadang digunakan oleh beberapa teman untuk memperoleh tandatangan dari kakanda ketua osis, sehingga ketika saya masuk kembali ke ruangan yang merupakan tempat saya mengikuti mos teman-teman saya terkena marah dari kakak pendamping mos sebab menurutnya saya telah dimanfaatkan oleh mereka sehingga sayapunn merasa tidak enak terhadap mereka.
Setelah saya tiga hari mengikuti masa orientasi siswa, sayapun ternyata merasakan suasana yang sangat berkesan, suasana itu terjadi ketika jam di dinding menunjukkan pukul lima teng pada saat itu kakak-kakak panitia mos masuk keruangan yang merupakan tempat saya mengikuti mos mereka membawa gitar, sesampainya mereka di dalam ruangan, kamipun disuruh untuk tunduk di atas meja.
Setelah mereka menyuruh kami tunduk di atas meja, saya yang juga sebagai peserta mos sempat berfikir bahwa saya dan teman-teman saya akan mengalami hal yang sama ketika saya mengikuti pengkaderan sebab mereka bernyanyi-nyanyi sambil memainkan gitar yang mereka bawa dan saya menyangka bahwa ketika mereka telah menyanyi-nyanyi, kami akan dipelonco sebagai akhir dari kegiatan masa orientasi siswa, ternyata mereka menyanyi sebagai tanda bahwa seluruh kegiatan mos telah dinyatakan selesai, dan kamipun segera berlarian menuju lapangan upacara untuk mengikuti klosing cerimonial dari acara masa orientasi siswa.
Keesokan harinya, saya dan teman-teman mencari ruangan yang menjadi kelas masing-masing untuk ditempati belajar setelah itu saya(penulis) langsung mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tidak lama kemudian tibalah pada tanggal 17 agustus, sayapun mengikuti sebuah kegiatan yaitu pekan olah raga dan seni(PORSENI) acara tersebut dilaksanakan oleh Organisasi intra sekolah(OSIS) sayapun mengikuti salah satu lomba yang diadakan dari sekian banyak lomba yang diadakan seperti Pidato bahasa ingris, lomba da’i, dan lomba menyanyi solo(solo focal).
Pada saat-saat porseni itulah saya berkenalan dengan mereka-mereka yang telah menjabat sebagai pengurus osis yang merupakan akhir periode mereka. Dan pada saat porseni sayapun tidak ketinggalan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut sayapun mengikuti lomba da’i, sambil menunggu giliran untuk mengikuti lomba da’i, sayapun berbincang-bincang dengan mereka-mereka yang merupakan kakak-kakak kelas saya, perbincangan kami mulai dengan introduktion, bahkan saya tidak segan-segan memberitahukan kepada mereka bahwa saya adalah orang yang memiliki keterbatasan dari segi penglihatan.
Sayapun sebenarnya sangat merasa minder terhadap apa yang saya miliki, tetapi setelah saya bercerita tentang keadaan saya sebagai orang yang telah berada di dunia yang penuh dengan kegelapan, sayapun diberikan motifasi oleh mereka dengan cara memberikan kata-kata yang membuat saya kuat dan membuat hati saya sedikit menjadi tenang. Suasana yang saya rasakan saat pertemuan tersebut adalah tidak adanya batasan antara senior dan yuniornya sehingga yang dulunya saya adalah orang yang minder kini menjadi orang yang mulai percaya terhadap diri saya bahwa apapun yang terjadi sayapun harus tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan yang bertubi-tubi. Tibalah saatnya saya(penulis) tampil untuk menyajikan materi sebagai kontestan pada lomba da’i tersebut dengan nomor peserta 29, sayapun tampil dengan penuh semangat dan materi da’i saya sampaikan dengan suara lantang dan dalam keadaan berapi-api.
Setelah saya selesai menampilkan kebolehan saya dalam hal menyampaikan da’wah, sayapun melihat reaksi yang bermacam-macam baik dari sesama peserta, dewanjuri, seluruh panitia, dan guru-guru yang menyaksikan saya berkompotisi dalam konteks ini, ada pula berbagai suara sumbang yang keluar dari mulut kakak-kakak kelas yang mengucapkan sebuah kalimat”apakah kamu tidak merasa malu terhadap teman kamu yang satu ini?” perkataan ini ditujukan kepada seluruh peserta dari tiga lomba yang sedang berlangsung saya ketika mendengar hal ini tidak merasa sombong tetapi hal ini yang membuat saya bersemangat.
Setelah empat bulan lamanya saya(penulis) bersekolah di SMU negeri empat, saya langsung diangkat menjadi pengurus Mushallah di sekolah tersebut, di dalam struktur kepengurusan ini saya menduduki sebuah pos yaitu Departeman da’wah sebagai anggota bidang. Dalam kesempatan yang menurut saya adalah kesempatan emas sayapun menampilkan beberapa kebolehan yang saya bisa dan kebetulan teman-teman saya juga miliki.
Saya sangat bersyukur kepada tuhan sebab saya tidak pernah memperoleh perlakuan diskriminatif dari kakak-kakak kelas, malahan mereka yang selalu memberikan sugesti kepada saya agar saya tetap enjoi dalam menghadapi kebutaan yang sudah lama saya alami. Berdasarkan pemaparan di atas, kakak-kakak kelas saya memberikan sugesti bukan hanya dalam bentuk retorika tetapi mereka memberikan sugesti dalam bentuk tindakan. Sugesti dalam bentuk tindakan ini contohnya adalah kesempatan untuk mengasa kreatifitas, dan dilibatkannya saya dalam struktur kepengurusan dalam sebuah organisasi
Sugesti dalam bentuk perkataan adalah seringnya saya diajak ngobrol dan mereka sering juga mengajak saya untuk berbagi dan memberikan suport atau dukungan dan mereka menyatakan salut pada saya sebab dengan kebutaan yang saya alami saya masih bisa melakukan apa yang mereka juga bisa lakukan, sehingga saya meskipun sebagai seorang tunanetra saya juga seperti hidup di Asrama Yapti.
Selama saya aktif sebagai pengurus Mushallah di sekolah tersebut, saya merasakan betapa indahnya sebuah kebersamaan yang merupakan anugerah terbesar dari ilahi tetapi jika saya kembali mengingat masa-masa lalu saya saya terkadang menangis perasaan bahagiapun meliputi jiwa saya yang dahulu lebih sering dilanda oleh keputus asaan. Namun, saya sebagai orang yang telah sangat banyak terbantu oleh kakak kelas saya sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Allah serta tak lupa mendoakan mereka mudah-mudahan mereka diberikan kemudahan untuk mencapai opsesinya.