Rabu, 10 September 2008

HIDUP DALAM MASALAH Oleh: Sujono Sa’id

Dalam kehidupan, kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang mengganggu dalam diri kita, apa yang disebut dengan masalah? Masalah adalah sesuatu yang tidak dapat di ukur, tetapi dapat kita rasakan. Saya( penulis) selalu berhadapan dengan berbagai masalah dalam hidup saya, tetapi saya yakin, bahwa setiap masalah ada jalan untuk menyelesaikannya, sebab tanpa masalah, kita tidak akan bisa menjadi orang yang ber fakir dewasa, dan tanpa masalah maka kita tidak akan bisa menggunakan akal kita untuk ber fakir, dan saya( penulis) sebagai orang Isolam mengutib firman Allah yang ber bunyi “ sesungguhnya aku tidak akan menimpahkan masalah kepada hambaku, apabila dia tidak mampu mengatasinya”.
Dalam al-quran, Allah juga ber firman bahwa “dibalik kesusahan terdapat kemudahan” maka penulis ber keyakinan bahwa masalah dapat ter selesaikan apabila kita selalu mencari jalan penyelesaiannya, keyakinan ini timbul setelah melihat kedua firman Allah di atas. Betul-betul penulis telah melihat kebesaran Allah, karena penulis sebagai orang yang ber agama Islam, tahu bahwa Islam mengajarkan bagaimana hidup dalam bermasyarakat, ber ibadah kepada tuhan, ber gaul secara Islami, memecahkan masalah secara Islami, dan hal-hal lainnya telah di atur secara sempurna.
Saya( penulis) sebagai seorang pelajar selalu berhadapan dengan berbagai masalah di sekolah, tetapi saya selalu mencoba mencari bagaimana agar persoalan tersebut dapat saya selesaikan selain berdo’a, juga di iringi dengan beragam usaha, tetapi saya( penulis) sadar bahwa saya tidak mampu menyelesaikan masalah yang menurut saya sudah tidak dapat saya selesaikan, bahkan saya sering putus asa dalam menyelesaikan masalah.
Penulis akan menuliskan contoh masalah yang betul-betul penulis rasakan selama 4 bulan di sekolah sebagai pelajar tunanetra yang berintegrasi di sekolah awas semisal saya mau mengerjakan tugas di rumah, saya terkadang harus mencari pembaca dan penulis, tetapi di tempat saya tinggal saya mengalami krisis pembaca, kemudian saya juga terkadang kehilangan buku LKS ( Lembar kerja siswa), padahal LKS tersebut sangatt perlu untuk membantu saya dalam mengerjakan tugas-tugas saya, terkadang saya juga pelupa jika ada tugas yang diserahkan oleh guru kepada saya, tetapi itulah yang namanya masalah tetapi saya yakin bahwa di balik semua itu pasti ada kesuksesan yang akan saya capai.
Terkadang, jika kita selalu menghadapi hal yang mulus-mulus, maka suatu hari kita akan mendapat hal yang sangat susah dan menyusahkan kita contohnya saya ketika saya tinggal bersama-sama dengan orang tua saya, saya tidak pernah tahu berbagai urusan, saya hanya terima beres, tetapi setelah saya tinggal bersama-sama dengan tante saya, saya selalu berhadapan dengan masalah seperti harus dimarahi tiap hari, harus di perhadapkan dengan berbagai masalah lainnya, tetapi saya terkadang doun, tetapi terkadang apabila saya memperoleh hiburan, saya kembali bersemangat.
Selain masalah bisa membuat kita bisa berfikir dewasa, masalah juga bisa membuat kita bisa belajar hidup lebih mandiri tanpa terlalu menggantung pada ke dua orang tua, teman, dan orang lain,meskipun memang kita adalah makhluk social, tetapi kita juga harus mampu untuk inde fenden.
Maka saya berkesimpulan bahwa setiap masalah, saya harus hadapi dengan penuh senyuman, dan tidak boleh selalu ber keluh kesa, dan sebagai orang Islam saya dalam menghadapi masalah, saya harus menyerahkan kepada Allah, dan ber ikhtiar, dan setiap menghadapi masalah, selaku orang Islam, maka kita harus selalu mengucapkan” Innalillahi wa innailaihi rajiun” yang artinya “ sesungguhnya semua ini adalah datangnya dari Allah, dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah”.

Menolong agama Allah OLEH: SUJONO SA’ID

Sebuah kesyukuran bagi saya sebagai orang Islam meskipun saya tak mampu melihat ciptaan Allah yang ada di permukaan bumi ini sebab saya mempunyai kesempatan untuk menolong agama Allah yaitu agama Islam.
Pertolongan yang telah saya lakukan untuk menolong agama Allah adalah adanya kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menghendel dua buah rumah suci yang kedua-duanya adalah posko pengaduan kita kepada Allah yaitu Mushallah tarbiatul ittihadul ummah Yapti dan Mushallah Husnulkhatima SMU Negeri 4 Makassar.
Kedua rumah suci tersebut selain merupakan Posko pengaduan kita kepada Allah, juga merupakan gudang ilmu bagi seluruh ummat Islam yang ada di sekitarnya dan juga merupakan gudang ilmu bagi saya selaku orang yang memberikan pertolongan kepada Allah, saya sendiri sangat merasakan akibat yang telah ditimbulkan oleh perbuatan yang telah saya lakukan sebagai orang Islam.
Keikhlasan dan kesabaranlah yang menjadi modal yang harus dimiliki dalam melakukan perbuatan ini, sebab tanpa keikhlasan, kesabaran, dan kecintaan kepada Allah maka dalam melakukan pertolongan terhadap agama Allah kita akan menganggap berat pekerjaan yang sebenarnya merupakan pekerjaan yang ringan.
Terkadang saya bertanya-tanya” apasih yang membuat hati saya menjadi senang? Padahal saya menjadi pengurus Mushallah tidak pernah mendapatkan gaji sepeserpun”. Ternyata meskipun saya tidak mendapatkan gaji sepeserpun, saya tetap senang sebab saya telah mendapatkan rahmat darinya, maka saya berkesimpulan bahwa kesenangan yang telah Allah berikan lebih berharga ketimbang gaji yang diberikan seandainya ada.
Memang saya sadar bahwa saya sendiri sangat membutuhkan uang sebagai alat untuk mendampingi saya dalam meniti hidup ke depan, tetapi uag tidak akan saya bawa ke hadapan Allah, yang saya bawa kehadapan Allah adalah pertolongan yang telah sayalakukan insya Allah jika kita melakukan suatu kebaikan, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang baik pula, kalau kita membuat suatu perumpamaan jika kita menanam Mangga, tentu yang tumbuh bukanlah jagung tertapi yang tumbuh adalah mangga itu sendiri.
Selain kesabaran, keikhlasan, dan kecintaan kepada Allah, untuk menolong agama Allah kita harus memiliki sifat Fatanah, Amana, Siddik, Tablik. Salahsatu bentuk pertolongan terhadap agama Allah selain menjadi pengurus Masjid atau Mushallah menyampaikan da’wa juga adalah salah satu bentuk pertolongan kepada agama Allah.
Dalam menyampaikan da’wa kita harus memiliki sifat Fatonah sebab dengan sifat Fatonah kita akan sukses dalam menyampaikan da’wa, sebab kita bisa menguasai berbagai metode dan fatonah itu sendiri ber arti cerdas, selain fatonah kita harus memiliki sifat bilhikmah sebab dengan sifat bilhikmah kita akan berda’wa tanpa harus bentrok dengan orang yang kita da’wai.
Menjadi pengurus Mushallah, kita harus memiliki sifat Assiddik, dan amanah, sebab dengan sifat amanah kita akan menjadi orang yang terpercaya, sehingga kita akan menjadi orang-orang yang diperhitungkan.
Saya sebagai manusia yang bercita-cita menjadi penolong agama Allah sangat bersyukur sebab dengan kesempatan yang telah saya peroleh untuk memberikan pertolongan telah saya gunakan, semoga perbuatan yang saya lakukan bernilai ibadah dan saya tidak ingin mengharap materi, tetapi dalam menolong agama Allah mudah-mudahan saya tidak menjadi orang yang ria’, sebab jika kita dalam keadaan ri’a, maka sesuatu yang kita kerjakan akan amburadul hasilnya.
Dan jika kita memiliki harta, maka tolonglah agama Allah dengan hartamu, dan jika kamu tidak punya harta, tetapi anda mempunyai ilmu, maka tolonglah agama Allah, dengan ilmu, tetapi jika kamu mempunyai keduanya maka tolonglah agama Allah dengan menggunakan keduanya. Maksudnya adalah menolong agama Allah dengan harta maka keluarkanlah harta untuk pembangunan Masjid, menolong agama Allah dengan ilmu yaitu ajarkan ilmu agama kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, menolong agama Allah dengan keduanya jika kita mempunyai ilmu, maka ajarkan dan jika kita mempunyai harta, maka kita menggunakan harta untuk mengajarkan ilmu agama .

Arti penting kehadiran sebuah pena Oleh:Sujono sa’id

Nun demi pena dan segala apa yang dituliskannya, seperti itulah bunyi dari ayat pertama Surah al-qalam. Dari surah ini, sangat jelas akan arti penting kehadiran sebuah pena. Mengapa pena dianggap sebagai sesuatu yang harus ada dalam kehidupan kita?, sebab dengan pena kita mampu membuka paradikma berfikir masyarakat khususnya masyarakat Muslim yang telah dibutakan oleh pandangan-pandangan yang tidak logis.
Dengan pena pula, kita juga mampu memperluas cakrawala berfikir kita baik pemikiran kita tentang pemahaman ajaran agama, maupun tentang pemahaman yang bersifat umum yang mampu diterima oleh akal sehat serta fakta yang terlihat dalam kehidupan kita , melalui tulisan ini, saya akan mengutarakan beberapa ilustrasi.
Dahulu, masalah pacaran sering menjadi perdebatan, sebahagian dari mereka ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju dengan aktifitas pacaran yang dilakukan oleh kebanyakan remaja pada masa sekarang ini, tentu pendapat yang mereka kemukakan masing-masing memiliki alas an yang menurut penulis bisa diterima.
Bagi mereka yang setuju dengan pacaran memiliki alas an bahwa dengan pacaran, mereka akan mengenal lebih dalam keperibadian masing-masing, namun yang tidak setuju dengan hal inipun juga memiliki alas an yang tentu masuk akal sebab fakta yang ditemui dilapangan kebanyakan pasangan yang berpacaran melakukan kegiatan yang sudah keluar dari koridor-koridor yang telah ditentukan, baik dalam budaya masyarakat Indonesia maupun ajaran islam, namun mereka telah mengikuti budaya barat.
Melalui polemic yang telah berkepanjangan masalah pro dan kontra yang terjadi bagi masyarakat Indonesia, Allah telah menurunkan sebuah solusi melalui perantara Habiburrahman yang dengan penanya telah berhasil membuka dan memperluas cakra wala berfikir kita tentang bagaimana bercinta yang sehat sesuai dengan koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh syariatul islamiah.
Polimik ini telah berhasil di selesaikan melalui bukunya yang berjudul Ayat-ayat cinta. Selain membuka paradikma kita tentang pacaran yang menimbulkan pro dan kontra antara kaum Muslimin, Buku karangan Kang abik juga telah membuka mata hati kaum perempuan yang telah diselimuti oleh sebuah paradikma berfikir yang terlalu sempit tentang bagaimana poligami dalam islam, potret dari kedua persoalan ini telah digambarkan dalam buku beliau. Tetapi, meskipun sebahagian dari ibu-ibu yang telah berkeluarga telah membaca buku karangan kang abik, namun mereka malah mengatakan “kita bukan nabi sekarang kita ngak usah mencontoh nabi” begitu ujarnya.
Berdasarkan dari ilustrasi ini, maka dapat disimpulkan bahwa pena sangat berarti bagi kita sebagai media untuk membuka para dikma berfikir setiap manusia yang sudah mampu membaca dan menulis serta para kutu buku.

Dengan pena, kita mampu untuk melakukan transpor masi ilmu kepada sesama manusia. Mengapa?, sebab dengan pena, kita mampu menuangkan gagasan kita dalam sebuah tulisan yang berisi pengetahuan yang kita miliki baik melalui Bulletin, maupun melalui buku-buku, serta situs internet yang ada.
Bukankah dengan pena kita mampu untuk membuat gagasan yang berisi kritikan yang membangun baik kepada masyarakat, diri sendiri, pemerintah, serta saran yang berisi solusi yang membangun melalui sebuah pena.
Dalam menjalankan syariatul Islamiah, kita tentu menjalankan peraturan berdasarkan al-quran dan hadis shahi. Tentu, sumber yang akan membantu kita untuk mengetahui dan meng amalkan ajaran agama adalah goresan tinta sebuah pena yang membentuk huruf demi huruf, yang berkumpul menjadi kata demi kata, yang menjadi paragraph demi paragraph yang berisi berita gembira bagi yang beriman, ancaman bagi para pelanggar handal, dan perintah untuk taat pada keduanya, serta larangan untuk keluar dari koridor-koridor yang telah ditetapkan oleh gariskomando yang telah dirumuskan secara baku.
Mengapa pena dianggap sebagai sebuah komponen yang sangat penting dalam hidup kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan mencoba membuka pemikiran pembaca, jika kita ingin kepasar untuk berbelanja, tentu kita tidak mungkin mengingat isi daftar belanja yang begitu banyak sehingga kita membutuhkan sebuah pena untuk menyimpan apa-apa yang merupakan isi dari daftar belanja yang kita telah buat sebelum kepasar karena memori kita mungkin tidak mengingatnya, kita tentu mengalihkannya ke catatan dengan bantuan pena ke selembar kertas, atau ke media lain yang cocok untuk menggoreskan tinta pena.
Kalau kita analogikan, pena ibaratkan sebuah flashdis, yang menjadi tempat penyimpanan untuk membantu kita dalam mengingat-ingat apa-apa yang kita perbuat, sebab memori yang ada dalam kepala kita belum tentu mampu mengingat semua yang kita lakukan sehingga dapat disimpulkan bahwa pena adalah hal yang amat penting dalam kehidupan kita sebab tanpa pena, kita tidak mampu berbuat banyak, mengapa? Jawabannya adalah sebuah gambaran berikut jika kita memiliki selembar kertas, kita tentu masih membutuhkan sebuah pena , tanpa kertas tetapi kita memiliki sebuah pena kita masih mampu untuk melakukan berbagai hal termasuk mengalihkan informasi yang sudah tidak memperoleh tempat di otak karena kemampuan otak terbatas.
Informasi dapat dialihkan ke beberapa media dengan bantuan sebuah pena yaitu dialihkan ke telapak tangan, atau ke sebuah kayu, atau ke sebuah batu. Hal-hal seperti ini, sering dilakukan oleh nenek moyang kita yaitu menulis diatas sebuah batu tentang sebuah peristiwa yang dikenal dengan istilah prasasti. Yang kemudian dipajang untuk dilihat oleh khalayak ramai.
Sebagai akhir dari tulisan ini, saya akan tutup dengan surah al-alaq “ bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari segumpal darah, bacalah dengan nama tuhanmu yang mulia, yang telah mengajarkan kepada manusia dengan perantara pena(qalam) yang telah mengajarkan kepada manusia hal-hal yang ia tidak ketahui”. Dari ayat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kehadiran sebuah pena ibarat lampu yang nenerangi dunia.

Yakinilah bahwa tuhan itu ada OLEH: Sujono Sa’id

Kita sebagai manusia terlahir kedunia ini dalam keadaan bersih dari segala dosa, sehingga agar kita bisa hidup dengan tenang, kita harus siap memenuhi aturan dalam sebuah agama sebab jika kita hidup dengan menganut sebuah agama maka kita akan hidup dengan tentram mengapa? Sebab setiap agama mengajarkan kita untuk menjadi orang-orang atau pribadi-pribadi yang bermoral.
Selain agama juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang bermoral, kita juga diajarkan bahwa kita harus mempercayai bahwa kita adalah makhluk ciptaan tuhan bukan makhluk yang datang ke dunia ini dengan sendirinya seperti apakah tuhan itu? Apakah tuhan itu adalah sebuah berhala seperti tuhan orang-orang kafir pada zaman Ibrahim, jika betul-betul demikian tuhan kita adalah benda mati.
Perlu kita ketahui bahwa penyembahan berhala adalah sebuah kekeliruan, sebab berhala tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita, maka berdasarkan permenungan yang telah penulis lakukan dan waktu yang penulis gunakan untuk melakukan permenungan tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat, maka penulis berfikir bahwa tuhan yang menciptakan manusia adalah zat yang hidup meskipun kita takmampu melihat dengan kasatmata, untuk lebih jelasnya simaklah ilustrasi berikut:
Cobalah fikirkan kita adalah seorang manusia, kita adalah makhluk hidup dan selama saya(penulis) hidup di dunia ini belum pernah menyaksikan sebuah benda mati menciptakan seekor makhluk hidup, tetapi saya telah sering menyaksikan manusia sebagai makhluk hidup menciptakan benda mati seperti Meja, Kursi, Dan benda mati lainnya.
Jadi berdasarkan ilustrasi yang telah tertuang dalam tulisan ini kita sudah sadar bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh tuhan yang hidup bukan benda mati seperti berhala yang tidak bisa memberikan syafaat bagi kita untuk lebih lengkapnya penulis akan memberikan ilustrasi lanjutan:
Menurut pengetahuan kita, bumi lebih dahulu muncul daripada manusia dan manusia hidup di permukaan bumi ini, dan manusia yang membuat benda meskipun sudah ada benda yang muncul bersamaan dengan bumi kita seperti Rumput, dan batu . Tetapi menurut ajaran agama tidak ada benda mati yang menciptakan bumi ini dan jika kita kembali melihat sifat-sifat Allah, maka salah satu diantara 99 sifat Allah adalah Allah itu hidup.
Jika kita melihat alam ini penciptaannya lebih sempurna daripada benda-benda yang kita buat meskipun mempergunakan peralatan super canggi tetapi Allah jika mempunyai keinginan pastilah terpenuhi, untuk lebih mengenal dan neyakini adanya tuhan, maka kita harus melakukan berbagai metode yang telah diatur oleh setiap ajaran agama bagi ummat Islam kita melakukan pendekatan kepada Allah melalui shalat dan zikir selain shalat dan zikir, masih ada pendekatan yang lain seperti Tadabbur alam atau yang lebih dikenal dengan istilah Rihla.
Sekarang sudah banyak orang-orang yang lebih mendewakan teknologi daripada meyakini keberadaan tuhan sebab mereka melakukan pendewaan dalam bentuk ucapan contohnya adalah”seandainya tidak ada Komputer, maka saya tidak dapat membuat karia tulis” padahal seharusnya kita mengatakan bahwa”seandainya tuhan tidak menurunkan pertolongannya melalui teknologi Komputer maka saya tidak mampu membuat karia tulis” jika kita melihat ucapan-ucapan tersebut, maka kita telah melakukan sebuah kemusyrikan dan kita telah menduakan tuhan.
Sekarang banyak ummat Islam yang meyakini adanya tuhan tetapi hanya dalam bentuk pengakuan secara lisan bukan pemgakuan dalam bentuk amalan terhadap aturan yang telah dibuatnya melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan deni larangan yang telah ditetapkan akhirnya tuhanpun telah mengunci hati-hati mereka yang melakukan tindakan yang demikian.
Dahulu, banyak orang-orang yang pintar, tetapi mereka-mereka mencoba menyesatkan seluruh manusia yang belum mengetahui tentang penciptaan seluruh dunia dan isinya contohnya adalah salah seorang ahli dibidang pengetahuan Biologi Mister charles darwin yang mengatakan bahwa manusia adalah dari kera, tetapi akhirnya setelah sekian tahun lamanya, statemen tersebut telah berhasil diubah oleh sekian banyak ilmuan yang melakukan pengkajian lebih dalam.
Akhirnya statemen tersebut telah berubah bahwa manusia sebetulnya tercipta dari tanah jadi pernyataan yang telah dikeluarkan oleh Mister Charles darwin adalah sebuah pernyataan yang keliru manusia berasal dari tanah jadi berdasarkan bgambaran diatas, maka kita tidak boleh mencoba-coba mempelesetkan kebenaran tuhan sebab tak satupun orang yang mampu mempelesetkan kebenaran yang telah dibawanya, sudah terlihat berdasarkan gambaran dari Charles darwin yang telah melakukan percobaan tapi tidak mampu sebab sepandai-pandainya kita menyembunyikan sesuatu akan ketahuan juga.

Usaha dan takdir penentu masa depan Oleh:Sujono sa’id

Hari itu pengumuman tentang penentuan lulus tidaknya semua siswa dan siswi SMU negeri dan swasta di Indonesia, usaha yang telah tiga tahun dijalani oleh Medita salah seorang siswi sebuah SMU di Makassar telah membuahkan hasil. Hal tersebut terbukti ketika ia melihat namanya muncul di papan pengumuman sebagai salah satu dari sekian banyak pelajar yang lulus dengan nilai dan index prestasi yang memuaskan.
Setelah tiga hari pasca pengumuman, iapun meneruskan perjuangannya untuk meraih sebuah cita-cita yang telah lama diperjuangkannya, entah mengapa hati medita tertarik untuk mendaftar di fakultas hukum Universitas Hasanuddin makassar, padahal ketika ia SMU ia mengambil jurusan IPA, kalau kita mengacu pada kebiasaan seseorang yang besiknya kuat di IPA selama SMU, biasanya ia mengambil jurusan kedokteran, Matematika, Biologi, Fisika, dan Kimia kalau kita melihat memang sangat ganjil jika seseeorang yang mengambil jurusan IPA mengambil jurusan hukum, akuntan, dan Bisnis, serta jurusan social yang lain. Tapi, hal itu tidak dipedulikannya, ia tetap pada prinsipnya.
Ketika tindakan Medita diketahui oleh kedua orang tuanya, Medita langsung memperoleh kritikan pedas dari keduanya. Sepulangnya dari universitas yang akan menjadi tempat Medita untuk melanjutkan studi, terjadilah dialog antara Medita dan kedua orang tuanya “ Medi… mama sama papa kecewa banget deh ama kelakuan kamu kali ini” ujar ibu Medita “ ada apa ma?” Tanya Medita tidak mengerti,” gini Dit, kamu tuh udah gila ya kok kamu jebolan IPA malah ngambil jurusan hukum!” ungkap ibunya dengan nada marah “ ia deh ma Medi minta maaf kalau Medi udah ngecewain mama tapi.. tapi apa?” Gertak ibu medita “ tapi gini ma inikan kemauan Medi sendiri ma!” jawab Medi, “ mama udah nggak usah ngatur Medi lagi ma, Medikan udah tammat SMU”” Medi udah bisa nentuin pilihan, udah mampu ngebedain yang baik ama yang buruk!” tambah Medi.
Setelah mendengar argumen Medi, ibunya langsung memberikan tamparan ke wajah Medi dan berujar” kamu tuh nggak tahu diuntung ya!” ujar ibunya, setelah mengayunkan tamparan kewajah Medi ia langsung menyuruh Medi untuk pergi dari rumah” kamu angkatkaki aja dari rumah ini! Kamu tuh bukan lagi anak mama” ujar sang ibu kepada Medita, mendengar kemarahan Ibunya, ia langsung menanggapi ibunya dengan berujar” baiklah kalau itu kemauan mama Medi turuti!”.
Akhirnya, saat itu Medita langsung meninggalkan rumahnya kemudian mencari tempat tinggal ditempat lain. Karena Medi sudah memiliki tabungan sejak masih kecil di sebuah bank, ia langsung mengeceknya dan dari hasil pengecekannya, ternyata cukup buat nyari tempat tinggal, buat bayar uang kuliah, dan lain-lain.
Setelah Medita memperoleh rumah untuk tinggal, iapun datang ke rumah pamannya yang kebetulan adalah saudara kandung mamanya, di rumah pamannya, Medi mengadukan perlakuan medi yang diperoleh dari mamanya “gini om, Medikan mau kuliah di fakultas Hukum di Unhas, medi tahu kalau Medi waktu SMU ngambil jurusan IPA, dan Medi tahu kalau kita ngambil jurusan IPA harusnya kuliah di fakultas Kedokteran dan Mipa, bukannya malah ngambil jurusan social seperti hukum tapi nggak tahu ya om kenapa medita malah tertarik untuk ngambil jurusan hukum ”.

Setelah Ayah Medita tahu perlakuan istrinya terhadap Medita, ia malah marah kepada sang istri “mama udah keterlaluan kok mama kaya gitu sih? Sebenarnya papa juga kecewa bangat ama Medi tapi papa sadar kalau usaha ama takdir yang ngentuin nasib Medi bukan kita ma kita hanya mendidik dan membesarkan Medi”.
Setelah mendengar argument suaminya, Ibu Medi malah tambah tidak mampu meredam emosinya, melihat istrinya marah terus-terusan, sang ayah langsung bertanya “ Medi mana ya?” sang suami bertanya kepada istrinya tentang keberadaan medi “Medi udah gua suruh angkat kaki dari rumah ini” apa mama udah keterlaluan” ujar sang suami.
Setelah Medita datang mengadu kepada pamannya tentang kelakuan mamanya, iapun mengikuti tes SPMB yang diadakan oleh fakultas hukum Unhas, dan setelah melalui tes SPMB, ternyata Medita dinyatakan lulus. Akhirnya, kini Medita sudah memulai aktivitas kuliahnya. Selama Medita menjadi mahasiswi, ia juga aktif dalam sebuah lembaga bantuan hukum yang memperjuangkan hak-hak Perempuan, anak-anak dan masyarakat miskin. Karena ketekunan dan kesabarannya, setelah empat tahun berjuang, iapun akhirnya telah berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang memuaskan dengan menyandang sebuah gelar yaitu sarjana hukum.
Setelah Medita menyelesaikan kuliahnya, kebetulan saat itu terbuka pendaftaran untuk menjadi pengacara, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut sebab ia ingin mewujudkan cita-citanya yaitu melindungi kaum perempuan dari berbagai kasus kriminalitas dengan menggunakan kewenangannya sebagai pengacara. Setelah Medita mengikuti tes, ternyata iapun dinyatakan lulus. Kelulusan dirinya Medi ketahui ketika menerima informasi, dan SK, serta undangan untuk dilantik menjadi seorang pengacara.
Setelah resmi menjadi seorang pengacara, ia sudah sering menangani kasus mulai kekerasan terhadap perempuan, masyarakat miskin yang secara kebetulan sedang bersengketa, dan kekerasan terhadap anak dibawa umur. Suatu hari, ditengah maraknya sebuah kasus tentang seorang tenaga kerja wanita yang memperoleh kekerasan dari majikannya, dan saat itu Medita juga sebagai seorang aktifis yang melindungi kaum perempuan juga turut menangani kasus ini sehingga ia juga sering tampil di berbagai media. Suatu hari, kedua orang tuanya sedang menonton TV dan tiba-tiba melihat wajah anaknya yang sedang mengadakan konfrensi pers tentang kasus TKW.
Melihat anaknya, sang ibu ternyata menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan terhadap anaknya hingga tindakannya yang begitu tega mengusir anaknya dari rumahnya, dengan perasaan sedih ia berucap kepada suaminya “pa… mama nyessal bangat udah ngusir Medita dari rumah, ternyata apa yang papa bilang ke mama itu benar” ujar sang istri kepada suaminya “mama sadar kalau kita hanya mengasuh dan mendidik Medita, nasib ama kerja kerasnya yang ternyata paling menentukan” tambah sang ibu.
Sudah seminggu sang Ibu mencari Medita, tetapi hasilnya tidak tercapai hingga sang ibu jatuh sakit. Setelah Medita berhasil menyelesaikan kasus TKW yang ia tangani suatu malam, ia terdorong untuk kembali ke rumahnya, tetapi ia tetap berusaha untuk melawan kata hatinya, namun ia tetap tidak mampu mengalahkan kata hatinya.
Akhirnya, saat itu Medita tetap nekat untuk kembali ke rumah orang tuanya dengan kesiapsiagaan menghadapi berbagai konsekwensi yang akan menimpa dirinya. Setibanya di rumah kedua orang tuanya, ia mendapati ibunya sudah dalam keadaan sakit. Pertemuan antara Medita dan ibunya ternyata berlangsung dalam suasana haru, perasaan bersalah sang ibu diungkapkan kepada Medita “ nak… mama minta maaf kalau ternyata ini adalah kesalahan mama yang begitu mudahnya ngusir kamu, mama nyessel banget” ujar sang ibu kepada Medita, mendengar pernyataan sang ibu medita seraya berujar” ma… Medi juga minta maaf ama mama kalau ini ternyata adalah kesalahan medi sebenarnya medi nggak bermaksud untuk menyakiti hati mama”.
Akhirnya sejak saat itu, Medita kembali hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Kedatangan medita sang anak yang telah memperoleh perlakuan kasar dari ibunya, kini telah membuat kondisi ibunya kembali dalam keadaan sehat seperti sedia kala. Sejak itu sang ibu baru menyadari kalau usaha dan takdir adalah penentu bagi masa depan anaknya, dan sang anak harus diberi kebebasan selama sudah mampu berfikir.
“Nak… mama janji, mulai sekarang nggak bakalan berlaku kasar ama kamu lagi nak!” ujar sang ibu sambil memeluk tubuh anaknya erat-erat, “kalau kamu masih marah ama mama atas perlakuan mama ama kamu mama bersedia untuk menerima apa saja yang kamu mau sebagai hukuman buat mama” tambah sang ibu kepada Medita.
Mendengar ucapan mamanya, medita seraya berujar “ mama nggak usa ngomong kaya gitu justru Medi yang merasa bersalah karena udah nyakitin hati mama ama papa!” ujar Medita. Mendengar percakapan antara medita dan Ibunya, sang ayah langsung tiba-tiba menyela “ nggak usah saling menyalahkan yang jelas cita-cita Medita udah tercapai dan mama juga sudah ketemu ama anak mama yang udah pernah mama usir dari rumah”.
Setelah seminggu, pasca pertemuan antara Medita dan kedua orang tuanya, ibu Medita kembali jatuh sakit, dan ternyata membutuhkan darah yang cocok dengan golongan darahnya. Setelah seminggu sang suami mencari darah buat istrinya, ia ternyata tidak berhasil menemukan darah yang cocok buat istrinya, dan sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya di sisi Medita, sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya, sang ibu sempat berkata” mungkin ini adalah Murka tuhan yang turun pada mama karena mama udah menyakiti hati kamu” tetapi medita menanggapi seraya berujar” sudahlah mah mending mama ikut aku ngucapin dua kalimat syahadat!” pinta Medita, setelah sang ibu memenuhi permintaan anaknya akhirnya iapun meninggal dunia.

BERJUANG SAMPAI MENUTUP MATA Oleh: Sujono Sa’id

Setiap manusia pasti akan mendapat cobaan dari Allah, baik itu dalam bentuk penyakit, kematian, dan adanya anggota tubuh yang cacat. Kecacatan itu apakah hilangnya salah satu anggota tubuh kita, tidak berfungsinya penglihatan kita, ketidak mampuan kita dalam mengucapkan sepata katapun, hilangnya pendengaran atau yang disebut dengan tuli.

Dengan adanya cobaan yang Allah timpahkan kepada kita selaku manusia apakah kita harus bersedih, harus berputus asa, ataukah kita harus merasa kehilangan segalanya? Satu kata yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah tidak.

Jika tidak lantas kita harus bagaimana? Kita harus tabah dan senantiasa berserah diri kepadanya tetapi bukan berarti kita harus tinggal berpangku tangan. Kita harus senantiasa melakukan berbagai usaha seperti menuntut ilmu meskipun kita harus bersekolah di sekolah khusus, sebab kita sebagai manusia yang meskipun mempunyai kecacatan dari segi fisik kita tetap bisa menuntut ilmu sama seperti mereka-mereka yang mempunyai tubuh yang sempurna.

Tetapi meskipun pada awalnya kita harus bersekolah di sekolah khusus, kita nantinya tetap bisa melanjutkan di sekolah yang reguler, sehingga dengan adanya ilmu pengetahuan yang kita dapatkan maka kita akan mampu untuk memperjuangkan harkat dan martabat kita apakah sebagai manusia dan juga sebagai orang yang ditakdirkan oleh yang kuasa untuk mengalami kecacatan.

Selain usaha yang telah penulis sebutkan di atas, kita harus memetik apa hikmah yang tersembunyi dibalik peristiwa tersebut. Contohnya seorang tunarungu bicara, tentu ada hal yang membuat ia telah selamat dari sebuah dosa yang dilakukan oleh lisan antara lain dia tidak bisa mengucapkan kata-kata kotor.

Tetapi ia belum tentu lolos dari dosa yang dilakukan oleh alat indera yang lain seperti mata, telinga, dan lain-lain. Begitupun dengan seorang tunanetra, ia sudah lepas dari dosa yang dilakukan oleh mata seperti melihat aurat seorang wanita yang bukan muhrim dalam keadaan terbuka, tetapi ia belum tentu lepas dari dosa yang dilakukan oleh lisan, telinga, hidung, dan alat peraba seperti kulit.

Contohnya mendengar suara wanita yang merdu dan berpeluang membangkitkan syahwat, berkata-kata kotor, dan selalu meraba hal-hal yang tidaklah sepantasnya diraba. Seorang yang tidak mempunyai satu kaki, satu tangan, atau memiliki kelainan pada salah satu anggota tubuh atau yang lebih dikenal dengan tunadaksa, telah terlepas dari dosa yang dilakukan oleh kaki, tetapi belum tentu terlepas dari dosa-dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh lainnya seperti lisan, mata, dan telinga.

Contohnya seorang yang ditakdirkan oleh Allah menjadi seorang tunadaksa seandainya diberi kaki maka akan mempergunakan kakinya untuk berjalan ke tempat-tempat yang tidak dibenarkan untuk didatangi oleh agama kita, tetapi belum tentu menjadi sebuah jaminan bahwa mata yang ia miliki, tidak akan ia pergunakan melihat aurat wanita yang bukan muhrim yang sedang dalam keadaan terbuka.

Berdasarkan ilustrasi yang penulis ungkapkan, dapatlah kita petik sebuah hikmah dari ujian demi ujian yang Allah turunkan bahwa sesungguhnya hilangnya salah satu dari sekian banyak anggota tubuh kita akan meminimalisir dosa-dosa yang kita lakukan kepada Allah dan dengan adanya cobaan ini, sebenarnya Allah masih sangat menyayangi kita sebagai hambanya .

Menyikapi cobaan-cobaan yang telah Allah berikan , maka kita harus melakukan hal-hal yang telah penulis sebutkan di atas seperti menuntut ilmu, mengambil hikmah dari kecacatan yang kita miliki, dan melakukan perjuangan.

Ada beberapa hal yang harus kita perjuangkan sebagai penyandang cacat antaralain memperjuangkan persamaan hak di mata hukum, masyarakat, dan keluarga. Selain persamaan hak, kita harus memperjuangkan diri kita agar dalam melakukan aktifitas kita diberi ruang gerak yang lebih luas, bukan ruang gerak yang terbatas.

Berangkat dari itu, maka untuk memperluas ruang gerak kita dalam melaksanakan aktifitas sebagai penyandang cacat, maka kita harus memperjuangkan penyediaan aksesibilitas bagi kita demi kelancaran aktifitas sehari-hari yang akan kita lakukan yang ber tujuan agar ruang gerak kita tidak terbatas hanya karena tidak adanya hal-hal yang sifatnya akses bagi kita.

Selain masalah ruang gerak, kita harus memperjuangkan hak kita di mata hukum contohnya jika kita sebagai seorang penyandang cacat mendapat perlakuan yang sifatnya adalah pelecehan, maka kita harus mengadukan hal tersebut kepada pihak yang ber kewenangan untuk menyelesaikannya apalagi tindakan tersebut sangat wajar untuk kita lakukan dan sudah barang tentu memenuhi prosedur yang berlaku serta pantas untuk di proses apa lagi kita memiliki dasar yang kuat untuk mengajukan pengaduan kita.

Semisal seorang penyandang cacat yang masih berstatus pelajar, lantas ingin ber integrasi dengan kalangan normal, tetapi dia dicegah maka kita harus mengadu kepada institusi yang berwenang yaitu dinas pendidikan, sebab dasar yang menguatkan adalah salah satu bunyi pasal yang telah tercantum dalam batang tubuh UUD1945 yang ber bunyi setiap warga negara mendapatkan pendidikan yang layak

Bentuk perjuangan untuk memperoleh persamaan hak di mata masyarakat adalah merubah statemen-statemen yang menganggap penyandang cacat adalah sampah bagi masyarakat, statemen ini muncul terkadang dikarenakan oleh ketidak tahuan masyarakat tentang penyandang cacat.

Jadi dengan adanya statemen yang seperti itu, maka masyarakat tidak mau hidup membaur dengan kita, sehingga kita harus memberikan pencerahan baik dalam bentuk penjelasan maupun dalam bentuk penerapan hal-hal yang kita bisa lakukan sebab dengan dilakukannya pencerahan, maka akan terbentuk paradikma berfikir yang baru dan dengan izin Allah maka paradikma yang lama akan segera musnah.

Contohnya kita adalah seorang tunanetra, masyarakat banyak berfikir bahwa tunanetra hanya bisa menekuni tarik suara seperti menyanyi dan melantunkan ayat-ayat suci Al-quran dengan alunan yang merdu dengan berbagai fariasi lagu seperti Nahwan, Ras, Saba dan lain-lain.

Tetapi kenyataan yang mereka tidak pernah lihat adalah adanya keterampilan dan profesi yang lain mereka bisa tekuni sehingga kita dianggap sebagai orang yang tidak mempunyai daya guna.

Sekarang ada sebuah perilaku menyimpang yang hadir ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan penyandang cacat, jika perilaku tersebut tidak ditindaki maka akan mengakibatkan ketidak nyamanan dalam kehidupan bermasyarakat sebab penyandang cacat akan terisolasi dari masyarakat di sekitar tempat ia bermukim, hal inilah yang disebut dengan praktek diskriminasi, praktek diskriminasi selain dilakukan oleh masyarakat sendiri juga terkadang dilakukan oleh para penentu kebijakan.

Alhamdulillah, sebab Allah telah menurunkan nikmat terbesar bagi seluruh penyandang cacat baik di seluruh dunia maupun yang ada di Indonesia khususnya sebab mereka telah diberi akal dan pikiran untuk membentuk organisasi-organisasi yang merupakan wadah perjuangan mereka untuk memperoleh kesamaan hak dimata hukum, keluarga, dan masyarakat.

Selain membantu perjuangan mereka untuk memperoleh persamaan di hadapan hukum, masyarakat, dan keluarga. Organisasi-organisasi initelah berhasil melepaskan warganya dari belenggu diskriminasi dan marjinalisasi meskipun mereka belum sepenuhnya terlepas dari kedua belenggu tersebut.

Tetapi yang namanya perjuangan, tentu kita harus bersabar dan tidak boleh selalu mengharap sukses sebab melepaskan diri dari belenggu diskriminasi tidaklah semudah menumbangkan sebuah pohon raksasa, berjuang untuk melepaskan diri dari belenggu diskriminasi membutuhkan pengorbanan sehingga penulis mengajak dirinya pribadi sebagai seorang penyandang cacat dan seluruh warga penyandang cacat untuk terus berjuang dan tak lupa memohon kepada Allah agar kita tetap berada dalam lindungannya.

Melalui kecacatan yang Allah berikan kepada kita sebagai cobaan, marilah kita menerimanya sebagai anugerah yang terbesar darinya dan marilah kita sebagai penyandang cacat mengisi hidup ini untuk melepaskan diri dari belenggu diskriminasi dan jadikanlah kecacatan ini sebagai motifasi untuk berjuang sampai menutup mata.

Kakak kelasku adalah penyemangatku Oleh:Sujono sa’id

Tanggal17-7-2006 adalah sebuah momen yang bersejarah dalam kehidupan saya(penulis), sebab saya telah memasuki sekolah baru saya yaitu SMU negeri empat Makassar, baik sebagai siswa baru maupun sebagai pelajar dari kaum yang termasuk ke dalam kategori berkebutuhan khusus. Setiap siswa yang masuk sebagai siswa baru harus mengikuti salah satu kegiatan yang sifatnya adalah perkenalan antara sekolah dan kita sebagai peserta didik dengan mengikuti kegiatan yang dikenal dengan istilah Masa orientasi siswa(MOS) selama tiga hari.
Dalam kegiatan tersebut, kita lebih banyak didampingi oleh kakak kelas dari berbagai organisasi yang ada di sekolah itu khususnya di seluruh SMP dan SMU antara lain dari Organisasi intra sekolah(OSIS), Palangmerah remaja(PMR), Pengurus Mushallah, Paskibra, dan Mading(Majallah dinding). Selama tiga hari saya mengikuti Masa orientasi siswa, saya selalu memperoleh perlakuan yang baik dari kakak-kakak kelas yang bekerja baik sebagai pendamping mos maupun sebagai panitia mos.
Kalau selama kita mengikuti masa orientasi siswa, kita membeli buku tandatangan yang diedarkan oleh kakak panitia mos seharga enam ribu rupiah terkadang ketika jam istirahat berlangsung, saya dan teman-teman saya keluar kelas mendatangi kakak-kakak panitia mos untuk meminta tandatangan. Ketika saya meminta tanda tangan, saya langsung diberikan tetapi saya juga kasihan pada teman-teman yang merupakan peserta mos sebab ketika mereka meminta tanda tangan permohonan mereka tidak langsung terkabulkan tetapi mereka diberikan persyaratan yang macam-macam mulai yang sifatnya masih bagus sampai yang betul-betul konyol
Saya terkadang digunakan oleh beberapa teman untuk memperoleh tandatangan dari kakanda ketua osis, sehingga ketika saya masuk kembali ke ruangan yang merupakan tempat saya mengikuti mos teman-teman saya terkena marah dari kakak pendamping mos sebab menurutnya saya telah dimanfaatkan oleh mereka sehingga sayapunn merasa tidak enak terhadap mereka.
Setelah saya tiga hari mengikuti masa orientasi siswa, sayapun ternyata merasakan suasana yang sangat berkesan, suasana itu terjadi ketika jam di dinding menunjukkan pukul lima teng pada saat itu kakak-kakak panitia mos masuk keruangan yang merupakan tempat saya mengikuti mos mereka membawa gitar, sesampainya mereka di dalam ruangan, kamipun disuruh untuk tunduk di atas meja.
Setelah mereka menyuruh kami tunduk di atas meja, saya yang juga sebagai peserta mos sempat berfikir bahwa saya dan teman-teman saya akan mengalami hal yang sama ketika saya mengikuti pengkaderan sebab mereka bernyanyi-nyanyi sambil memainkan gitar yang mereka bawa dan saya menyangka bahwa ketika mereka telah menyanyi-nyanyi, kami akan dipelonco sebagai akhir dari kegiatan masa orientasi siswa, ternyata mereka menyanyi sebagai tanda bahwa seluruh kegiatan mos telah dinyatakan selesai, dan kamipun segera berlarian menuju lapangan upacara untuk mengikuti klosing cerimonial dari acara masa orientasi siswa.
Keesokan harinya, saya dan teman-teman mencari ruangan yang menjadi kelas masing-masing untuk ditempati belajar setelah itu saya(penulis) langsung mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tidak lama kemudian tibalah pada tanggal 17 agustus, sayapun mengikuti sebuah kegiatan yaitu pekan olah raga dan seni(PORSENI) acara tersebut dilaksanakan oleh Organisasi intra sekolah(OSIS) sayapun mengikuti salah satu lomba yang diadakan dari sekian banyak lomba yang diadakan seperti Pidato bahasa ingris, lomba da’i, dan lomba menyanyi solo(solo focal).
Pada saat-saat porseni itulah saya berkenalan dengan mereka-mereka yang telah menjabat sebagai pengurus osis yang merupakan akhir periode mereka. Dan pada saat porseni sayapun tidak ketinggalan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut sayapun mengikuti lomba da’i, sambil menunggu giliran untuk mengikuti lomba da’i, sayapun berbincang-bincang dengan mereka-mereka yang merupakan kakak-kakak kelas saya, perbincangan kami mulai dengan introduktion, bahkan saya tidak segan-segan memberitahukan kepada mereka bahwa saya adalah orang yang memiliki keterbatasan dari segi penglihatan.
Sayapun sebenarnya sangat merasa minder terhadap apa yang saya miliki, tetapi setelah saya bercerita tentang keadaan saya sebagai orang yang telah berada di dunia yang penuh dengan kegelapan, sayapun diberikan motifasi oleh mereka dengan cara memberikan kata-kata yang membuat saya kuat dan membuat hati saya sedikit menjadi tenang. Suasana yang saya rasakan saat pertemuan tersebut adalah tidak adanya batasan antara senior dan yuniornya sehingga yang dulunya saya adalah orang yang minder kini menjadi orang yang mulai percaya terhadap diri saya bahwa apapun yang terjadi sayapun harus tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan yang bertubi-tubi. Tibalah saatnya saya(penulis) tampil untuk menyajikan materi sebagai kontestan pada lomba da’i tersebut dengan nomor peserta 29, sayapun tampil dengan penuh semangat dan materi da’i saya sampaikan dengan suara lantang dan dalam keadaan berapi-api.
Setelah saya selesai menampilkan kebolehan saya dalam hal menyampaikan da’wah, sayapun melihat reaksi yang bermacam-macam baik dari sesama peserta, dewanjuri, seluruh panitia, dan guru-guru yang menyaksikan saya berkompotisi dalam konteks ini, ada pula berbagai suara sumbang yang keluar dari mulut kakak-kakak kelas yang mengucapkan sebuah kalimat”apakah kamu tidak merasa malu terhadap teman kamu yang satu ini?” perkataan ini ditujukan kepada seluruh peserta dari tiga lomba yang sedang berlangsung saya ketika mendengar hal ini tidak merasa sombong tetapi hal ini yang membuat saya bersemangat.
Setelah empat bulan lamanya saya(penulis) bersekolah di SMU negeri empat, saya langsung diangkat menjadi pengurus Mushallah di sekolah tersebut, di dalam struktur kepengurusan ini saya menduduki sebuah pos yaitu Departeman da’wah sebagai anggota bidang. Dalam kesempatan yang menurut saya adalah kesempatan emas sayapun menampilkan beberapa kebolehan yang saya bisa dan kebetulan teman-teman saya juga miliki.
Saya sangat bersyukur kepada tuhan sebab saya tidak pernah memperoleh perlakuan diskriminatif dari kakak-kakak kelas, malahan mereka yang selalu memberikan sugesti kepada saya agar saya tetap enjoi dalam menghadapi kebutaan yang sudah lama saya alami. Berdasarkan pemaparan di atas, kakak-kakak kelas saya memberikan sugesti bukan hanya dalam bentuk retorika tetapi mereka memberikan sugesti dalam bentuk tindakan. Sugesti dalam bentuk tindakan ini contohnya adalah kesempatan untuk mengasa kreatifitas, dan dilibatkannya saya dalam struktur kepengurusan dalam sebuah organisasi
Sugesti dalam bentuk perkataan adalah seringnya saya diajak ngobrol dan mereka sering juga mengajak saya untuk berbagi dan memberikan suport atau dukungan dan mereka menyatakan salut pada saya sebab dengan kebutaan yang saya alami saya masih bisa melakukan apa yang mereka juga bisa lakukan, sehingga saya meskipun sebagai seorang tunanetra saya juga seperti hidup di Asrama Yapti.
Selama saya aktif sebagai pengurus Mushallah di sekolah tersebut, saya merasakan betapa indahnya sebuah kebersamaan yang merupakan anugerah terbesar dari ilahi tetapi jika saya kembali mengingat masa-masa lalu saya saya terkadang menangis perasaan bahagiapun meliputi jiwa saya yang dahulu lebih sering dilanda oleh keputus asaan. Namun, saya sebagai orang yang telah sangat banyak terbantu oleh kakak kelas saya sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Allah serta tak lupa mendoakan mereka mudah-mudahan mereka diberikan kemudahan untuk mencapai opsesinya.